Bursa Pagi: AS-Asia Melaju, Profit Taking Mendompleng Peluang Laju IHSG

Bursa Pagi: AS-Asia Melaju, Profit Taking Mendompleng Peluang Laju IHSG

Posted by Written on 19 July 2019


Ipotnews - Jelang akhir pekan ketiga Juli, Jumat (19/7), bursa saham Asia dibuka menguat, melanjutkan tren kenaikan indeks acuan di bursa saham Wall Street yang berhasil membalik tekanan penurunan di bursa utama Eropa. Pernyataan pejabat Federal Reserve AS bahwa bank sentral bisa melonggarkan kebijakan lebih besar dari yang diekspektasikan menjadi pendorong kenaikan indeks.

Mengawali perdagangan saham hari ini, indeks ASX 200, Australia dibuka menguat 0,18% didukung kenaikan harga harga saham sektor pertambangan terkait emas. Saham Newcrest Mining, Evolution Mining, dan Alacer Gold melompat 3%. Indkeks berlanjut melaju 0,73% (48,30 poin) ke posisi 6.697,40 pada pukul 8:15 WIB.

Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, Jepang melonjak 1,14% (240,67 poin) ke level 21.286,91, setelah dibuka naik 0,52% - indeks Topix juga naik 0,52% - di tengah kenaikan harga saham manufaktur semikonduktor Tokyo Electrom sebesar 2,67%. Indeks Kospi, Korea Selatan dibuka melaju 0,7%, diwaranai lojakan harga saham Samsung Electronics sebesar 1,41%, dan berlanjut dengan mempertahankan laju kenaikan itu ke posisi 2.081,21.

Melanjutkan tren kenaikan Asia, indeks Hang Seng, Hongkong dibuka naik 0,40% (113,85 poin) menjadi 28.575,51 pada pukul 8:35 WIB. Indeks Shanghai Composite, Chinajuga naik 0,40% ke posisi 2.912,88.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pagi ini dihadapkan pada tren kenaikan indekss di bursa saham Wall Street dan Asia, setelah berhasil keluar dari tekanan pelemahan pada sesi perdagangan kemarin dan ditutup menguat 0,14% menjadi 6.403. Namun, investor asing melakukan aksi jual bersih sebesar Rp347,33 miliar.

Sejumlah analis memperkirakan, pergerakan IHSG pagi ini berupaya melanjutkan tren kenaikan setelah berhasil mempertahankan level 6.400, meskipun masih berpotensi koreksi. Secara teknikal, beberapa indikator pergerakan indeks memperlihatkan adanya potensi penguatan lanjutan yang dibayangi aksi ambil untung.

Tim Riset Indo Premier berpendapat, ekspektasi bahwa The Fed akan lebih agresif dalam menetapkan kebijakan moneternya diprediksi akan menjadi sentimen positif di pasar. Sementara itu keputusan BI untuk menurunkan suku bunga acuan sebanyak 0,25% menjadi 5,75%, dan menguatnya nilai tukar rupiah juga akan menjadi tambahan katalis positif. IHSG diprediksi akan melanjutkan penguatannya dengan  support  di level 6.370 dan  resistance di level 6.430.

Beberapa ekuitas yang direkomendasikan,antara lain:

  • Saham: LPKR (Buy, Support: Rp274, Resist: Rp282), ADRO (Buy, Support: Rp1.275, Resist: Rp1.325), 

    INKP (Buy, Support: Rp7.900, Resist: Rp9.050), INTP (Buy, Support: Rp21.250, Resist : Rp22.400).

  • ETF: XISI (Buy, Support: Rp374, Resist: Rp378), XPFT (Buy, Support: Rp558, Resist: Rp564), 

    XISR (Buy, Support: Rp415, Resist: Rp418).


Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursa Wall Street pagi tadi ditutup menguat mengakhiri pelemahan dua sesi beruntun, setelah komentar Reserve New York, John Williams, mengatakan bank sentral perlu "bertindak cepat" mengambil tindakan sebelum terjadi bencana. Pernyataan Williams mendorong ekspektasi bahwa bank sentral akan melonggarkan kebijakan moneter lebih agresif. Namun laju indeks tertahan oleh laporan keuangan sejumlah emiten yang variatif. Menurut FactSet, sejauh ini sudah lebih dari 12% perusahaan S&P 500 telah melaporkan hasil kuartalannya, hampir 84% diantaranya melaporkan laba lebih baik dari perkiraan.

Saham Netflix rontok lebih dari 10% setelah melaporkan penurunan jumlah pelanggan di AS dan pertumbuhan keanggotaan internasional yang lebih lambat dari perkiraan. Saham IBM pulih kembali setelah sempat jatuhkarena melaporkan penurunan laba empat kali berturut-turut. Morgan Stanley naik 1,5% dengan membukukan kinerja kuartalan lebih baik dari estimasi.

  • Dow Jones Industrial Average sedikit bertambah 0,01% (3,12 poin) di posisi 27.222,97.

  • S&P 500 naik 0,36% (10,69 poin) ke level 2.995,11.

  • Nasdaq Composite Index menguat 0,27% (22,04 poin) menjadi 8.207,24.
Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange naik 1,18% menjadi USD26,61.

Bursa saham utama Eropa tadi malam ditutup melemah, setelah rilis sejumlah laporan keuangan emiten. Investor memperhatikan kelanjutan perundingan dagang AS-China yang kembali menemui jalan buntu terkait pembatasan raksasa teknologi Huawei. Indeks STOXX 600 turun 0,22% menjadi 386,80, dipimpin penurunan harga saham teknologi sebesar 1,4%, terseret kejatuhan raksasa Jerman, SAP sebesar 5,6%. Saham perawatan kesehatan memimpin kenaikan dengan melaju 0,8%.

Rilis data penjualan ritel Inggris periode Juni secara tak terduga naik satu persen (mtm) jauh melebihi ekspektasi analis. Namun harga saham peritel fesien online Inggris, Asos longsor lebih dari 20,5% karena mengeluarkan peringatan laba untuk ketiga kalinya dalam 8 bulan. Saham Novartis melonjak 3%, dengan melaporkan kinerja kuartal II yang kuat, mengalahkan ekspektasi. Emiten  engineering  Swedia, Indutrade, rontok 11% setelah merilis laporan keuangan, namun pesaingnya, Epiroc melejit hampir 6%.

  • FTSE 100 London turun 0,56% (-42,37 poin) menjadi 7.493,09.

  • DAX 30 Frankfurt merosot 0,92% (-113,18 poin) ke level 12.227,85.

  • CAC 40 Paris melemah 0,38 persen (-21,16 poin) ke posisi 5.550,55.

Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York pagi tadi kembali melemah setelah Presiden Federal Reserve New York, John Williams memperkuat ekspektasi penurunan suku bunga akhir bulan ini karena inflasi melemah. Pernyataan Williams didukung oleh Vice Chairman The Fed, Richard Clarida, yang mengatakan bahwa bank sentral mungkin harus bertindak lebih awal dan tidak menunggu "sampai keadaan menjadi begitu buruk."

Dolar bergeming ketika Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin, mengatakan "tidak ada perubahan pada kebijakan dolar." ia menegaskan tidak ada perubahan dalam penggunaan dana federal senilai USD94,6 miliar yang dimaksudkan untuk menstabilkan mata uang selama gejolak pasar. Indeks dolar AS, patokan kurs  greenback terhadap enam mata uang negara maju turun 0,44% menjadi 96,794.


CurrencyValueChange% ChangeTime (ET)
Euro (EUR-USD)1.1258-0.0019-0.17%7:30 PM
Poundsterling (GBP-USD)1.2539-0.0010-0.08%7:30 PM
Yen (USD-JPY)107.390.09+0.08%7:30 PM
Yuan (USD-CNY)6.88000.0064+0.09%11:29 AM
Rupiah (USD-IDR)13,960.00-22.50-0.16%4:59 AM
Sumber : Bloomberg.com, 18/7/2019 (ET)


Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges hingga pagi bergerak turun, anjlok hingga 2,5% terbebani ekspektasi peningkatan kembali produksi minyak mentah di Teluk Meksiko. Produksi minyak dan gas lepas pantai AS kembali normal setelah Badai Barry melewati Teluk Meksiko pekan lalu.

Minyak mentah sempat menguat di awal sesi setelah Iran mengatakan telah menangkap sebuah kapal tanker asing di kawasan Teluk. Harga tertekan lagi setelah diketahui bahwa kapal itu hanya kapal kargo kecil yang ditahan karena menyelundupkan bahan bakar. Prospek jangka panjang minyak semakin  bearish,  para spekulan keluar dari  option position.

  • Harga minyak mentah berjangka Brent turun USD1,94 (-3,0%) menjadi USD61,72 per barel.

  • Harga minyak mentah berjangka WTI turun USD1,48 (-2,6%) menjadi USD55,30 per barel.
Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange pagi tadi bergerak menguat, mendekati level tertinggi dua pekan, karena pelemahan dolar yang dipicu meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga The Fed. Harga emas sempat melorot ke level terendah USD1.414,36 per ounce di awal sesi, tetapi pulih kembali setelah dolar melemah mersepon rilis data perumahan AS yang lebih lemah dari perkiraan. Harga perak melonjak 1,4% menjadi USD16,19 per ounce, platinum naik 0,4% menjadi USD846,17, namun palladium anjlok 1,5% menjadi USD1.514,59.

  • Harga emas di pasar spot naik tipis 0,2% menjadi USD1.430,01 per ounce.

  • Harga emas berjangka menguat 0,3% menjadi USD1.432,90 per ounce.

(AFP, CNBC , Reuters)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author