Bursa Pagi: Global-Regional Rontok, Tekanan Bearish Hambat Laju IHSG

Bursa Pagi: Global-Regional Rontok, Tekanan Bearish Hambat Laju IHSG

Posted by Written on 08 July 2019


Ipotnews - Mengawali pekan kedua Juli, Senin (8/9) , bursa saham Asia dibuka serentak melemah, melanjutkan pergerakan indeks acuan di bursa saham utama Eropa dan Wall Street yang turun setelah rilis data lapangan kerja AS yang solid. Lapangan kerja AS periode Juni bertambah 244.000 melebihi ekspektasi 160.000, sehingga menekan peluang penurunan suku bunga The Fed pada akhir Juli nanti.

Perdagangan saham hari ini dibuka dengan mencatatkan penurunan indeks ASX 200, Australia sebesar 0,35%, diwarnai kenaikan harga minyak pada pembukaan pasar Asia. Indeks meluncur turun 0,80% (-53,80 poin) ke level 6.697,50 pada pukul 8:25 WIB.

Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, Jepang merosot 0,60% (-131,32 poin) ke posisi 21.615,06, setelah dibuka turun 0,58% di tengah kejatuhan harga saham Fanuc sebesar 1,21%. Indeks Topix juga dibuka turun 0,38%. Indeks Kospi, Korea Selatan, dibuka anjlok 1,02% terseret kejatuhan harga saham Samsung Electronics dan SK Hynix sekitar 2%, dan berlanjut rontok 1,44% menjadi 2.080,14.

Tokyo dan Seoul bersengketa soal tenaga kerja paksa era perang, yang berlanjut dengan pembatasan ekspor suku cadang produk teknologi tinggi Jepang yang digunakan dalam  smartphone  ke Korea Selatan.

Melanjutkan tren penurunan global, indeks Hang Seng, Hongkong dibuka terperosok 1,05% (300,95 poin) ke level 28.473,88 pada pukul 8:40 WIB. Indeks Shanghai Composite, China anjlok 0,65% ke posisi 2.991,58.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pagi ini dihadapkan pada tren penurunan indeks acuan di bursa saham global dan regional yang melemah, setelah gagal keluar dari tekanan jual pada akhir pekan lalu. IHSG ditutup berkurang 0,04% menjadi 6.373, investor asing membukukan penjualan bersih Rp150,56 miliar.

Sejumlah analis memperkirakan, pergerakan IHSG di awal pekan ini, masih berpotensi menguat ditopang oleh sentimen positif rilis indeks kepercayaan konsumen Juni 2019 yang diprediksi meningkat meski masih dibayangi aksi jual. Secara teknikal, beberapa indikator pergerakan indeks memperlihatkan adanya potensi penguatan, namun tekanan  bearish  menahan indeks di area jenuh beli.

Tim Riset Indo Premier berpendapat, menurunnya probabilitas pemangkasan suku bunga acuan The Fed,setelah rilis data  non farm payrolls  AS bulan Juni yang solid, diprediksi akan menjadi sentimen negatif di pasar. Sementara itu melemahnya nilai tukar rupiah serta beberapa harga komoditas diantarannya yaitu timah, emas dan batu bara juga diprediksi akan menjadi tambahan katalis negatif untuk indeks. IHSG diprediksi akan bergerak melemah dengan  support  di level 6.340 dan  resistance  dilevel 6.405.

Beberapa ekuitas yang direkomendasikan, antara lain;

  • Saham : UNTR (Buy, Support: Rp27.800, Resist: Rp28.200), EXCL (Buy, Support: Rp2.850, Resist: Rp2,950), UNVR (Buy on Weakness, Support: Rp44.800, Resist: Rp45.100), PTPP (Buy on Weakness, Support: Rp2.070, Resist : Rp2.130).

  • ETF: XPID (Buy, Support: Rp558, Resist: Rp562), XPDV (Buy, Support: Rp513, Resist: Rp517), 

    XPES (Buy, Support: Rp448, Resist: Rp452).


Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursa Wall Street mengakhiri pekan lalu dengan melemah. Namun secara mingguan Dow Jones dan S&P 500 naik lebih dari 1%, dan Nasdaq melonjak hampir 2%. Indeks S&P 500 mengakhiri rekor tertinggi penutupan tiga hari beruntun. Rilis data lapangan kerja non pertanian AS periode Juni naik 224.000, terkuat dalam 5 bulan, jauh di atas perkiraan sebesar 160.000. Para trader mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga the Fed sebesar 50 bps pada rapat 30-31 Juli mendatang. Namun pasar tetap percaya, the Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 bps pada rapat tersebut.

Yield  obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik jadi 2,05%, sementara tenor 2 tahun naik menjadi 1,87%. 

Saham sektor perbankan menguat; Citigroup, Bank of America, JP Morgan Chase, dan Wells Fargo melangkah ke zona hijau. Samsung Electronics menyatakan kemungkinan laba kuartal kedua turun 56% akibat melemahnya permintaan  chips  memori, sehingga menekan saham-saham teknologi di bursa Wall Street. 

Saham Broadcom turun 0,8%, Micron Technology melemah 0,4%.

  • Dow Jones Industrial Average melemah 0,16% (-43,88 poin) ke posisi 26.922,12.

  • S&P 500 turun 0,18% (-5,41 poin) ke level 2.990,41.

  • Nasdaq Composite berkurang 0,10% (-8,44 poin) menjadi 8.161,79.
Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange turun 0,88% menjadi USD25,900.

Bursa saham utama Eropa juga menutup pekan lalu di di zona merah, terpengaruh rilis data ketenagakerjaan AS yang mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga The Fed. Indeks STOXX 600 melorot 0,72% menjadi 390,11, namun dibanding pekan sebelumnya indeks acuan bursa saham Eropa ini menguat, memasuki pekan keempat berturut-turut. Saham sektor bahan baku melorot 2%. Hanya sektor perbankan dan ritel yang berada di teritori positif, masing-masing naik 2%.

Data pesanan barang industri Jerman periode Mei turun lebih dalam dibanding ekspektasi, menekan harga saham emiten teknologi di Jerman seperti Schneider Electric, Siemens dan Sandvik. Indeks saham sektor industri melorot 1,8%. Saham emiten teknologi Swedia, Hexagon anjlok 11% setelah mengumumkan PHK 700 orang pekerjanya karena terdampak perang dagang AS-China.

  • DAX 30 Frankfurt turun 0,49% (-12.568 poin) menjadi 12.568,53.

  • FTSE 100 London merosot 0,66% (-50,44 poin) ke level 7.553,14.

  • CAC 40 Paris melemah 0,48% (-27,01 poin) ke posisi 5.593,72.

Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York akhir pekan lalu menguat ke level tertinggi dalam dua pekan lebih, merespon rilis data lapangan kerja AS periode Juni yang menguat melebihi ekspektasi. Meski lapangan kerja naik sebanyak 244.000, namun diiringi dengan revisi turun data pekerjaan periode April dan Mei sebanyak 11.000. Rilis data tersebut terjadi ketika banyak para trader dan investor AS pergi berlibur melanjutkan libur Hari Kemerdekaan AS.

Di pihak lain, rilis data tingkat upah tenaga kerja AS malah menambah bukti bahwa ekonomi AS sedang melambat. Rata-rata tingkat upah naik 6 sen atau 0,2%, setelah naik 0,3% pada periode Mei, sehingga kenaikan upah tahunan menjadi 3,1%. Indeks dolar AS naik 0,54% menjadi 97,286.


Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% ChangeTime (ET)
Euro (EUR-USD)1.1225-0.006-0.53%7/5/2019
Poundsterling (GBP-USD)1.2521-0.0058-0.46%7/5/2019
Yen (USD-JPY)108.470.65+0.60%7/5/2019
Yuan (USD-CNY)6.89360.0220+0.32%7/5/2019
Rupiah (USD-IDR)14,082.50-52.00-0.37%7/5/2019

Sumber : Bloomberg.com, 5/7/2019 (ET)


Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges akhir pekan lalu ditutup menguat seiring meningkatnya tensi ketegangan Inggris-Iran dan perpanjangan pembatasan produksi minyak OPEC . Iran mengancam untuk menangkap kapal Inggris setelah Inggris menahan tanker Iran di Gibraltar. Secara mingguan harga minyak Brent anjlok 3,3%, dan WTI turun 1,8%.

Tapi rilis data perekonomian yang bervariasi membatasi reli. Data lapangan kerja di AS naik 224.000 di periode Juni, namun data order baru pabrikan AS periode Mei turun dalam dua bulan berturut-turut. Laporan stok mingguan minyak mentah AS dari Badan Informasi Energi, Rabu lalu, memperlihatkan penurunan sebanyak 1,1 juta barel, lebih sedikit dari laporan API sehari sebelumnya sebesar 5 juta barel.

  • Harga minyak berjangka Brent naik 86 sen (1,4%) menjadi USD 64,16 per barel.

  • Harga minyak berjangka WTI naik 17 sen (0,3%) menjadi USD 57,51 per barel.
Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange akhir pekan lalu ditutup melemah, tertekan rilis data lapangan kerja AS yang menguat secara solid, sehingga menahan spekulasi penurunan suku bunga the Fed secara agresif. Harga emas bahkan sempat mencapai harga terendah di level USD 1.386,52 pada sesi awal perdagangan. Secara mingguan harga emas juga turun hampir 2%, penurunan pertama dalam tujuh pekan, koreksi terburuk sejak April lalu.

Federal fund futures menyiratkan para trader saat ini menilai peluang penurunan suku bunga The Fed sebesar 50 bps hanya sekitar 9%, turun dari 29%. Namun analis mengatakan, proyeksi emas masih tetap positif dalam kondisi politik dan ekonomi yang masih penuh ketidakpastian. Harga perak juga turun 1,8% menjadi USD15 per ounce, platinum anjlok 3% menjadi USD807,75, dan paladium naik 0,3% menjadi USD1.566,87.

  • Harga emas di pasar spot turun 1,2% menjadi USD1.398,39 per ounce.

  • Harga emas berjangka turun 1,4% menjadi USD 1.400,90 per ounce.

(AFP, CNBC , Reuters)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author