Danai Proyek Energi Terbarukan, TGRA Siapkan Capex Rp 500 M

Danai Proyek Energi Terbarukan, TGRA Siapkan Capex Rp 500 M

Posted by Written on 21 May 2019


Danai pengembangan bisnis energi baru terbarukan, baik di dalam negeri dan di luar negeri, PT Terregra Asia Energy Tbk (TGRA) tahun ini mengalokasikan belanja modal sebesar sebesar Rp 500 miliar. “Dari belanja modal tersebut, sebanyak Rp 375 miliar akan digunakan untuk proyek pembangkit tenaga air dan sekitar Rp 81 miliar untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya,”kata Direktur Terregra Asia Energy, Kho Sawilek di Jakarta.

Dirinya menyampaikan, dari belanja modal tersebut hingga saat ini sudah terserap Rp 70 miliar. Disampaikan, Wakil Direktur Utama Terregra Asia Energy, Lasman Citra, sumber dana belanja modal akan diperoleh dari ekuitas dan pinjaman. “Sumber dana tetap kombinasi, bisa kontraktor financing, internal, ataupun loan dari luar. Pertimbangan rights issue juga sedang kita jajaki,” ujarnya.

Hasil rapat umum pemegang sama tahunan (RUPST) yang digelar Jumat (17/5), juga menyetujui semua laba ditahan untuk modal kerja. Sebagai informasi, kini mereka tengah menggarap proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) maupun Pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Total proyek PLTMH TGRA sendiri sebanyak 9 proyek yang berlokasi di Aceh danSumatra Utara yang berada di bawah kendali anak usahanya yaitu PT Terregra Hydro Power (THP).

TGRA mengharapkan sembilan proyek PLTH ini dapat beroperasi secara komersial bertahap sampai 2023 dengan kapasitas 500 MW. Untuk PLTA Teunom 2 dan 3 di Aceh Jaya TGRA menggandeng Hyundai Engineering, untuk membangun pembangkit tersebut mereka harus mengeluarkan dana senilai US$ 800 juta.“Untuk Teunom sudah dalam tahap feasibility study yang ditargetkan selesai akhir tahun ini, kami harapkan tahun depan sudah power purchase agreement (PPA), kemudian lima tahun ke depan sudah selesai,” ungkapnya.

Pada tahun ini, perseroan menargetkan pendapatan sebesar Rp 66 miliar dengan laba bersih sebesar Rp 25 miliar, sepanjang 2018, TGRA mengantongi Rp 45,59 miliar dengan laba bersih Rp 2,37 miliar. Pendapatan sebesar 25% untuk tahun ini akan disumbang dari mulai operasinya PLTS dengan kapasitas 5MW di Australia.

Tercatat di kuartal pertama 2019, perseroan membukukan pendapatan Rp 5,91 miliar turun 11,79% ketimbang perolehan pada periode yang sama tahun sebelumnya Rp 6,70 miliar. Beban pokok penjualan pada kuartal 1 2019 sebanyak Rp 3,52 miliar 24,14% lebih kecil daripada tahun sebelumnya Rp 4,64 miliar. Sementara laba kotor TGRA sebesar Rp 2,38 miliar naik 16,66% dari tahun 2017 Rp 2,04 miliar.

Namun, beban penjualan mereka meningkat, alhasil TGRA mencatat rugi bersih pada kuartal pertama Rp 203,70 juta, padahal pada periode yang sama tahun 2017 mereka masih laba sebanyak Rp 408,73 juta. Belum tergarapnya pasar energi baru terbarukan menjadi keyakinan perseroan mampu mencetak kinerja keuangan yang lebih baik tahun ini.

Direktur Utama TGRA, Djani Sutedja mengatakan, prospek ekonomi dan energi di Indonesia, baik jangka pendek dan panjang masih sangat bagus. Oleh karena itu, perseroan masih fokus dalam pembangunan pembangkit listrik tenaga air dan surya. Disampaikannya, perseroan tengah menggarap beberapa proyek pembangkit listrik tenaga surya dan tenaga air.


comments

logo-senokuncoro

Seno Kuncoro

author