Bursa Pagi: Global-Regional Beda Arah, Tekanan Bearish Adang Peluang Rebound IHSG

Bursa Pagi: Global-Regional Beda Arah, Tekanan Bearish Adang Peluang Rebound IHSG

Posted by Written on 16 May 2019


Ipotnews - Bursa saham Asia pagi ini dibuka mixed cenderung melemah, gagal melanjutkan tren kenaikan indeks acuan di bursa saham utama Eropa dan Wall Street, merespon berita rencana penundaan penerapan tarif impor otomotif oleh Washington. Sementara itu kekhawatiran penurunan pertumbuhan ekonomi global semakin meningkat, setelah AS dan China merilis data pertumbuhan produksi industri dan penjualan ritel yang lebih rendah dari perkiraan.

Perdagangan saham hari ini dibuka dengan mencatatkan kenaikan indeks ASX 200, Australia sebesar 0,15%, sebagian besar sektor mencatatkan kenaikan di tengah kenaikan harga minyak pada pembukaan pasar Asia. Penguatan indeks berlanjut 0,09% (5,60 poin) di posisi 6.289,80 pada pukul 8;15 WIB.

Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, Jepang meluncur turun 0,63% (-134,53 poin) ke level 21.054,53, setelah dibuka melorot 0,52% dan Topix dibuka turun 0,41%, di tengah lonjakan sebagian besar harga saham otomotif di Asia. Indeks Kospi, Korea Selatan juga dibuka melemah 0,11%, dan berlanjut turun 0,44% menjadi 2.083,49.

Melanjutkan tren penurunan Asia, indeks Hang Seng, Hongkong dibuka merosot 0,53% (-151,23 poin) ke posisi 28.117,48 pada pukul 8:40 WIB. Indeks Shanghai Composite, China turun 0,18% menjadi 2.933,50.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) dihadapkan pada pergerakan indeks di bursa saham global dan regional yang tidak sejalan, setelah tenggelam di zona merah pada sesi perdagangan kemarin, meninggalkan level psikologis 6.000. IHSG kemarin ditutup terperosok 1,49% ke level 5.980, investor asing membukukan net sell Rp458,11 miliar.

Sejumlah analis memperkirakan, pergerakan IHSG hari ini masih berpeluang menguat ditopang oleh pengumuman suku bunga acuan Bank Indonesia dan penguatan harga komoditas. Secara teknikal, beberapa indikator memperlihatkan adanya peluang technical rebound di area jenuh jual. Indeks berusaha kembali menembus level psikologis 6.000, dibayangi tekanan bearish continuation.

Tim Riset Indo Premier berpendapat, menguatnya indeks bursa global seiring dengan meredanya kekhawatiran investor - setelah adanya rencana Presiden Amerika Donald Trump yang akan menunda penerapan tarif impor otomotif hingga 6 bulan - diprediksi akan menjadi sentimen positif. Sementara itu tertekannya nilai tukar rupiah, seiring dengan adanya defisit neraca perdagangan pada bulan April sebesar US$ 2,5 miliar, diprediksi akan menjadi sentimen negatif di pasar. IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung melemah dengan rentang support di level 5.905 dan resistance di 6.050.

Beberapa ekuitass yang direkomendasikan, antara lain;

  • Saham: ICBP (Buy on Weaknesss, Support: Rp9.425, Resist: Rp2.820), UNTR (Buy on Weakness, Support: Rp25.000, Resist: Rp25.800), MYOR (Buy on Weakness, Support: Rp2.590, Resist: Rp2.640), 

    ACES (Buy, Support: Rp1.620, Resist : Rp1.680).

  • ETF: XISI ( SELL , Support: Rp319, Resist: Rp335), XISC ( SELL , Support: Rp698, Resist: Rp728), 

    XIPI ( SELL , Support: Rp156, Resist: Rp162).


Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursa Wall Street pagi tadi berakhir menguat, merespon positif berita bahwa Presiden AS Donald Trump berencana menunda penerapan tarif impor otomotif hingga enam bulan. Indeks sempat meluncur turun setelah rilis data penjualan ritel AS periode April turun 0,2%, berlawanan dengan perkiraan kenaikan 0,2%, sehingga memicu kekhawatiran bahwa perang dagang AS-China menyeret pertumbuhan ekonomi global. Sebelumnya, rilis data produksi industri China menunjukkan kenaikan 5,4% pada April (yoy), jauh dari perkiraan ekspansi 6,5% survei ekonom Refinitiv, laju pertumbuhan paling lambat sejak Mei 2003.

Saham-saham otomotif melaju, Fiat Chrysler melesat 1,9%, sementara Ford Motor dan General Motors naik 1,2% dan 0,9%. Saham Boeing naik 0,8% setelah Badan Penerbangan Federal meminta agar segera menyerahkan perbaikan perangkat lunak pesawat 737 Max. Saham Alphabet melambung 4,1% setelah Deutsche Bank menaikkan target harganya. Sepanjang bulan ini, indeks Dow Jones and S&P 500 rontok 4.6% dan 4.2%, sedangkan Nasdaq terperosok 4.9%.

  • Dow Jones Industrial Average naik 0,45% (115,97 poin) menjadi 25.648,02.
  • S&P 500 meningkat 0,58% (16,55 poin) ke posisi 2.850,96.
  • Nasdaq Composite melonjak 1,13% (87,65 poin) ke level 7.822,15.

Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange anjlok 2,06% menjadi USD23,25.

Bursa saham utama Eropa tadi malam juga berakhir menguat, menyambut rencana penunda penerapan tarif otomotif AS terhadap impor kendaraan Eropa. Indeks STOXX 600 naik 0,46% menjadi 378,06, dipimpin lonjakan harga saham otomotif sebesar 2,02% setelah sempat menjadi sektor terlemah. Saham Porsche, BMW dan Daimler semua melesat sekitar 3%. Jerman mengumumkan kembalinya pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama.

Sementara itu, saham Commerzbank turun 2,9% setelah bank Italia, UniCredit meningkatkan persiapan untuk menawar bank itu. Credit Agricole anjlok 2,6% karena melaporkan penurunan laba bersih kuartal I. Sedangkan ABN Amro melaju 1,07% meskipun melaporkan penurunan laba bersih kuartal I. Perusahaan internet Jerman, United Internet, terpuruk 6,29% setelah merilis laporan keuangan kuartal pertama. Thyssenkrupp rontok 5% setelah serikat pekerja IG Metall menuntut konsep baru dari manajemen perusahaan.

  • FTSE 100 London melaju 0,76% (55,35 poin) ke posisi 7.296,95.

  • DAX 30 Frankfurt melompat 0,90% (107,95 poin) ke level 12.099,57.

  • CAC 40 Paris meningkat 0,62% (32,91 poin) menjadi 5.374,26.

Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York pagi tadi ditutup sedikit menguat. Euro mengoreksi kembali pelemahan sebelumnya terhadap dolar AS, setelah beredarnya berita tentang rencana penundaan penerapan tarif impor mobil dan suku cadang, hingga enam bulan, dan rilis data ekonomi Jerman kuartal I yang tumbuh kembali. Dolar AS dan yen Jepang diuntungkan oleh statusnya sebagai safe haven, bahkan ketika AS dan China terkunci dalam perang dagang.

Rilis data penjualan ritel dan produksi industri China periode April lebih rendah dari ekspektasi, sehingga menimbulkan kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi negara itu. Rilis data penjualan ritel AS pada April lalu di luar dugaan juga turun, karena rumah tangga mengurangi pembelian kendaraan bermotor dan sejumlah barang lainnya, sementara produksi industri juga melambat pada bulan lalu. Indeks dolar, yang mengukur kurs greenback terhadap enam mata uang negara maju, naik 0,04% menjadi 97,569.


Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% ChangeTime (ET)
Euro (EUR-USD)1.12060.0005+0.04%7:26 PM
Poundsterling (GBP-USD)1.28460.0001+0.01%7:26 PM
Yen (USD-JPY)109.52-0.08-0.07%7:27 PM
Yuan (USD-CNY)6.87620.0010+0.01%11:29 AM
Rupiah (USD-IDR)14,463.0029.00+0.20%4:59 AM

Sumber : Bloomberg.com, 15/4/2019 (ET)


Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges hingga pagi bergerak menguat, di tengah meningkatnya prospek ketegangan di Timur Tengah. Namun pasokan minyak global dibayangi kenaikan tak terduga dalam persediaan minyak mentah AS pada pekan lalu, ke level tertinggi sejak September 2017. Badan Informasi Energi AS (EIA) menyebutkan, stok minyak mentah membengkak 5,4 juta barel, jauh melebihi perkiraan penurunan 800.000 barel. Namun, peningkatan tersebut lebih kecil dari estimasi kenaikan hampir 9 juta barel oleh American Petroleum Institute (API).

Badan Energi Internasional mengatakan dunia akan membutuhkan tambahan minyak dari OPEC pada tahun ini, karena booming produksi AS akan mengimbangi penurunan ekspor dari Iran dan Venezuela. Pengawas energi itu juga merevisi perkiraan pertumbuhan permintaan minyak global 2019 lebih rendah 90.000 barel per hari, menjadi 1,3 juta barel per hari.

  • Harga minyak mentah berjangka Brent naik 53 sen (0,7%) menjadi USD71,77 per barel.

  • Harga minyak mentah berjangka WTI naik 24 sen (0,4%) menjadi USD62,02 per barel.
Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange pagi tadi bergerak relatif stabil, di tengah penguatan bursa saham global. Kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi global dan sengketa perdagangan AS-China membuat harga emas tetap bertahan di dekat level tertinggi satu bulan. Kekhawatiran bahwa sengketa perdagangan AS-China dapat berlarut-larut dan berdampak pada ekonomi global telah meningkatkan daya tarik emas selama beberapa hari terakhir.

Imbal hasil US Treasury 2 tahun turun, ke level terendah dalam 15 bulan karena pedagang menaikkan ekspektasipenurunan suku bunga Federal Reserve, setelah penjualan ritel AS periode April meleset dari ekspektasi. Laporan lain menunjukkan penurunan output mobil dan mesin yang menyebabkan perlambatan produksi pabrik AS pada April lalu. China juga melaporkan pelemahan pertumbuhan penjualan ritel dan industri untuk periode April. Harga perak naik 0,1% menjadi USD14,80, platinum turun 1,6% menjadi USD842, dan palladium menguat 0,4% menjadi USD1.341,51 per ounce

  • Harga emas di pasar spot stabil di posisi USD1.296,64 per ounce.

  • Harga emas berjangka naik 0,1% menjadi USD1.297,80 per ounce.

(AFP, CNBC , Reuters)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author