Bursa Pagi: Global-Regional Berbeda Arah, IHSG Sudah Jenuh Jual

Bursa Pagi: Global-Regional Berbeda Arah, IHSG Sudah Jenuh Jual

Posted by Written on 10 May 2019


Ipotnews - Jelang akhir pekan kedua Mei, Jumat (10/5), bursa saham Asia dibuka menguat, mengabaikan tren kejatuhan indeks acuan di bursa saham utama Eropa dan Wall Street. Bursa saham global terbenam di zona merah di tengah ancaman penerapan tarif tambahan untuk impor barang China oleh AS, jelang dimulainya perundingan dagang AS-China.

Perdagangan saham hari ini dibuka dengan mencatatkan penguatan indeks ASX 200, Australia sebesar 0,27%, dengan menempatkan sebagian besar sektor di zona hijau, didukung kenaikan harga minyak pada pembukaan pasar Asia. Indeks menguat 0,09% (5,6 poin) di posisi 6.300,90 pada pukul 8:00 WB.

Pada jam yang sama, indeks Nikkei 225, Jepang bergerak melaju 0,43% (92,39 poin) ke level 21.494,52, setelah dibuka naik 0,42% diwarnai kenaikan harga saham Fast Retailing sebesar 0,57%, Indeks Topix dibuka meningkat 0,4%. Indeks Kospi, Korea Selatan juga dibuka melaju sekitar 1%, saham Samsung Electronics melonjak 1,3%, dan berlanjut bertambah 0,42% menjadi 2.110,94.

Melanjutkan tren kenaikan Asia, indeks Hang Seng, Hongkong dibuka naik, melaju 0,87% (245,11 poin) ke level 28.556,18 pada pukul 8:40 WIB. Indeks Shanghai Composite, China melonjak 1,45% ke posisi 2.892,32.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pagi ini dihadapkan pada pergerakan indeks acuan di bursa saham global dan regional yang berlawanan arah, setelah tenggelam di zona merah sepanjang sesi perdagangan kemarin. IHSG kemarin ditutup melorot 1,4% ke level 6.198, investor asing membukukan aksi jual bersih senilai Rp1,49 triliun.

Sejumlah analis memperkirakan pergerakan IHSG hari ini akan berupaya rebound, didukung sentimen positif rilis data neraca transaksi berjalan yang menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia dalam keadaan stabil. 

Secara teknikal, beberapa indikator pergerakan indeks mengindikasikan adanya tekanan bearish continuation di area jenuh jual sehingga berpeluang technical rebound.

Tim Riset Indo Premier berpendapat, berlanjutnya kekhawatiran investor menjelang mulai berlakunya kenaikan tarif dari 10% menjadi 25% untuk barang-barang impor asal China pada tengah malam ini diprediksi masih akan menjadi sentimen negatif di pasar. Sementara itu terkoreksinya mayoritas harga komoditas juga akan menjadi tambahan katalis negatif bagi indeks harga saham gabungan. IHSG diprediksi akan melanjutkan pelemahannya dengan rentang support di level 6.150 dan resistance di 6.245.

Beberapa ekuitas yang direkomendasikan, antara lain;

  • Saham: SMRA (Buy, Support: Rp1.045, Resist: Rp1.115), SSIA (Buy, Support: Rp635, Resist: Rp660), 

    HMSP (Buy, Support: Rp3.400, Resist: Rp3.700), SILO (Buy, Support: Rp4.600, Resist : Rp4.800)

  • ETF : XDIF ( SELL , Support: Rp484, Resist: Rp498), XPID ( SELL , Support: Rp520, Resist: Rp538), 

    XPES ( SELL , Support: Rp409, Resist: Rp435).


Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursa Wall Street pagi tadi kembali berakhir melemah, tertekan oleh kekhawatiran menjalang perundingan dagang AS-China. Dow sudah melorot lebih dari 650 poin dan S&P 500 kehilangan sekitar 2,5% pada pekan ini setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menaikkan tarif impor barang China. China menegaskan akan melakukan pembalasan jika bea masuk impor yang lebih tinggi diberlakukan. 

Namun Gedung Putih mengklaim China masih ingin membuat kesepakatan, yang membuat pasar relatif tenang.
Saham produsen chip, Nvidia dan Micron turun masing-masing 2,1 dan 1,2%, Apple dan Boeing merosot sekitar 1%. Saham Intel anjlok hampir 5,3% setelah merosot hampir 5% di sesi sebelumnya. Saham Chevron naik lebih dari 3% setelah perusahaan menyatakan tidak akan mengajukan tawaran baru untuk mengakuisisi Anadarko Petroleum. Raksasa migas itu juga mengatakan akan meningkatkan level pembelian kembali saham sebesar 25% menjadi USD5 miliar per tahun.

  • Dow Jones Industrial Average turun 0,54% (-138,97 poin) menjadi 25.828,36.

  • S&P 500 menyusut 0,3% (-8,70 poin) ke posisi 2.870,72.

  • Nasdaq Composite berkurang 0,41% (-32,73 poin) ke level 7.910,59.
Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange anjlok 1,43% menjadi USD24,210.

Bursa saham utama Eropa tadi malam juga berakhir di zona merah, seiring meningkatnya ketegangan perdagangan AS-China. Indeks STOXX 600 terperosok 1,65% menjadi 375,92, dipimpin penurunan harga saham di sektor otomotif sebesar 2,96%. Harga saham pemasok otomotif Jerman, Continental, anjlok 5,5%, sementara pemasok suku cadang mobil, Hella, ambles 5%.

Banco Bpm Italia rontok 7,48% setelah melaporkan penurunan total pendapatan 8,9% pada kuartal pertama. BT Group Inggris turun 3,88% karena melaporkan penurunan pendapatan 1% selama setahun penuh. Perusahaan penyiaran Jerman, ProSieben, melesat 4,35% setelah menetapkan tanggal peluncuran layanan streaming, "Joyn", Juni mendatang. Saham Leonardo melaju 2,71% dengan pertumbuhan dua digit dalam pesanan baru dan pendapatan.

  • CAC 40 Paris terjungkal 1,93% (-104,43 poin) ke level 5.313,16.

  • FTSE 100 London melorot 0,87% (-63,59 poin) menjadi 7.207,41.

  • DAX 30Frankfurt terpangkas 1,69% (-206,01 poin) ke posisi 11.973,92.

Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York pagi tadi berakhir melemah. Investor memburu yen Jepang dan franc Swiss sebagai safe haven karena khawatir konflik perdagangan AS-China akan meningkat. Para trader menunggu apakah pejabat China dan AS dapat mencapai kesepakatan untuk mencegah kenaikan tarif AS. Korban utama dari perang dagang tersebut adalah dolar Australia, proxy untuk prospek ekonomi China, dolar AS, dan yuan.

Yuan China jatuh ke level terendah empat bulan di posisi 6,863, tetapi terakhir turun 0,43 persen menjadi 6,837. Indeks dolar yang mengukur kurs greenback terhadap enam mata uang negara maju turun 0,26% menjadi 97,373.


Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% ChangeTime (ET)
Euro (EUR-USD)1.12200.0005+0.04%7:33 PM
Poundsterling (GBP-USD)1.3009-0.0005-0.04%7:33 PM
Yen (USD-JPY)109.780.04+0.04%7:33 PM
Yuan (USD-CNY)6.82740.0446+0.66%11:29 AM
Rupiah (USD-IDR)14,360.0065.00+0.45%4:59 AM

Sumber : Bloomberg.com, 9/5/2019 (ET)


Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges hingga pagi bergerak berlawanan arah. Brent ditutup sedikit lebih tinggi setelah Trump menghidupkan kembali harapan investor bahwa AS mungkin tidak menaikkan tarif terhadap impor China. Presiden China Xi Jinping mengirim surat kepada Trump, dengan mengatakan, "Mari bekerja sama, mari kita lihat apakah kita bisa menyelesaikan sesuatu."

Badan Informasi Energi AS memperkirakan permintaan minyak global naik 1,4 juta barel per hari (bph) tahun ini. Produsen utama OPEC , Arab Saudi, dikabarkan enggan menambah pasokan global karena khawatir akan kejatuhan harga. Brent dan WTI melonjak lebih dari 30% sepanjang tahun ini.

  • Harga minyak mentah berjangka Brent naik 2 sen menjadi USD70,39 per barel.

  • Harga minyak mentah berjangka WTI turun 42 sen menjadi USD61,70 per barel.
Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange pagi tadi ditutup menguat, didukung depresiasi dolar dan investor memburu aset safe haven. Kantor Perwakilan Dagang AS mengatakan bahwa tarif barang-barang China senilai USD200 miliar akan meningkat menjadi 25 persen dari 10 persen pada pukul 12.01 GMT, Jumat, tepat di tengah perundingan dua hari AS-China di Washington.

Logam mulia lainnya mengalami tekanan hebat, di tengah kekhawatiran tentang permintaan saat perselisihan perdagangan AS-China memanas. Penurunan angka penjualan mobil di China menekan harga palladium, turun 1,7% menjadi USD1.295,50 per ounce, jatuh ke level terendah dalam empat bulan, . Perak tergelincir 0,4% menjadi USD14,78 per ounce, sedangkan platinum melorot 1% menjadi USD848,25 per ounce.

  • Harga emas di pasar spot naik 0,3% menjadi USD1.284,55 per ounce.

  • Harga emas berjangka naik USD 3,80 (0,3%) menjadi USD1.285,20 per ounce.

(AFP, CNBC , Reuters)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author