Optimalkan Tiga Lini Bisnis Baru, MITI Siapkan Capex US$ 3 Juta

Optimalkan Tiga Lini Bisnis Baru, MITI Siapkan Capex US$ 3 Juta

Posted by Written on 23 April 2019


Menjaga keberlangsungan usaha pasca bisnis utama terhenti pada akhir tahun lalu, PT Mitra Investindo Tbk (MITI) bakal memulai bisnis baru di jasa hulu migas dan usaha pertambangan granit. Maka guna mendanai bisnis baru tersebut, perseroan menganggarkan belanja modal tahun ini senilai US$3 juta.
Kata Presiden Direktur Mitra Investindo, Sugi Handoko, belanja modal tersebut digunakan untuk pengembangan pemboran dan pengelolaan lapangan minyak dan gas (Migas) dengan beberapa operator lapangan di Sumatera dan Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) di Papua, serta membuka kembali pertambangan granit di Jawa Barat dan Lampung. “Pengembangan tiga hal itu diharapkan dapat memastikan kelangsungan usaha atau going concern perseroan kedepannya, setelah PT Pertamina tidak memperpanjang kontrak entitas anak-anak usaha perseroan, yakni; TAC IBN Oil Holdico,”ujarnya di Jakarta.

Untuk proyek PLTG, rencananya perseroan akan bekerja sama dengan badan usaha milik daerah (BUMD) dengan kepemilikan 50:50 untuk pengembangan dan pengelolaannya. Saat ini dalam tahap penyelesaian kerja sama dan belum bisa sharing berapa nilai proyeknya. Kemudian untuk proyek mengaktifkan tambang granit di wilayah Lampung dan Jawa Barat, lanjut Sugi, perseroan membidik wilayah dengan tingkat pembangunan infrastruktur yang tinggi sehingga bisa menyerap produksi.

Disampaikannya, dengan berakhirnya kontrak anak usaha TAC IBN Oil Holdico dengan Pertamina, menyebabkan akuntan publik perseroan memberikan opini 'tidak memberikan pendapat' atau disclaimerpada laporan keuangan tahun 2018. Perseroan sendiri menyayangkan kontrak diputus oleh Pertamina sejak November 2018. Asal tahu saja, dalam laporan keuangan 2018, tercatat pendapatan perseroan sebesar Rp53,76 miliar. Dengan rincian, pendapatan berasal dari usaha migas sebesar Rp34,97 miliar dan lini usaha tambang granit Rp18,78 miliar.

Kemudian pacu pertumbuhan bisnis, perseroan berencana menambah kepemilikan saham pada PT Benakat Oil sebesar 10% hingga 15% di tahun 2019-2020. Namun demikian, kata Direktur Independen Mitra Investindo, Diah Pertiwi Gandhi, tidak ingin gegabah dalam melakukan ekspansi. “Kita harus melihat banyak faktor, terlebih minyak dan gas sedang dalam kondisi yang belum normal kembali," ujarnya.

Berangkat kondisi tersebut, perseroan menurunkan target produksi Benakat Oil di kisaran 1.000 barel per hari (bph) ditahun 2019 ini. Tercatat pada September 2018, perseroan melaporkan produksi Benakat Oil mencapai 800 bph dan Mitra Investindo juga sempat menargetkan produksi Benakat Oil bisa mencapai sebesar 1.500 bph.

Penurunan target ini menurut Diah, lebih dipengaruhi karena kondisi produksi tempo lalu. Di mana ia bilang pada penutupan Desember produksi memang sedang tinggi. Selain itu, dia menambahkan salah satu faktor lain yang menyebabkan penurunan produksi adalah faktor alam.”Produksi ini kan naik dan turun, sekarang kita menghasilkan sekitar 600 sampai 700 bph," ujar Diah.

Sekedar informasi, Mitra Investindo mengakuisisi 23,4% saham di Benakat Oil dari PT Pratama Media Abadi dengan nilai transaksi sebesar Rp 71,37 miliar. Kemudian rencana perseroan menambah kepemilikan saham di Benakat Oil yakni dengan melakukan rights issue. Aksi korporasi dengan rights issue adalah opsi terakhir dan peruntukkan pendanaannya akan berfokus pada ekspansi bisnis yang memiliki risiko tinggi, salah satunya penambahan saham di Benakat Oil. Bila tidak ada aral melintang, rights issue akan dilakukan pada rentang waktu 2019 hingga 2020



comments

logo-senokuncoro

Seno Kuncoro

author