Berburu Perusahaan Unicorn, BEI Pastikan Bawa Traveloka Go Public

Berburu Perusahaan Unicorn, BEI Pastikan Bawa Traveloka Go Public

Posted by Written on 12 April 2019


Berburu perusahaan unicorn untuk mencatatkan sahamnya di pasar modal terus dilakukan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di tengah boomingnya industri e-commerce dalam negeri. Teranyar, pihak BEI sudah menjajaki pertemuan dengan Traveloka untuk membicarakan rencana penawaran umum saham perdana atau initial publik offering (IPO).”Kemarin saya sempat diskusi dengan salah satu unicorn, yakni Traveloka. Intinya mereka tertarik utkgo publicdi pasar modal,” kata Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia, I Gede Nyoman Yetna di Jakarta.

Nyoman demikian, lanjutnya, Traveloka belum memutuskan waktu untuk melakukan IPO karena masih mempertimbangkan beberapa hal dan salah satunya mengenai perpajakan.“Ada beberapa pertanyaan yang perlu kita diskusikan lagi, misalnya pajak. Itu juga kami sedang follow up juga dengan Badan Kebijakan Fiskal dan Ditjen Pajak,” tutur Nyoman.

Sebelumnya, Kementerian Keuangan menyampaikan bakal melakukan evaluasi mengenai kebijakan perpajakan di pasar modal supaya lebih banyak perusahaan yang mendaftar di bursa. Berdasarkan UU No. 36/2008 tentang Pajak Penghasilan (PPh), pemerintah dapat memberikan insentif pengurangan pajak penghasilan badan—sebesar 5% dari total pajak yang harus dibayar—kepada perusahaan tercatat dengan porsi saham yang disebarkan ke publik mencapai 40%.

Menteri Keuangan Sri Mulyani sebelumnya menilai, kebijakan tersebut belum terlalu optimal dan perlu dievaluasi ulang. Disamping itu, lanjut Nyoman, pihaknya telah mengantungi 21 calon emiten yang siap melantai di Bursa Efek Indonesia.”Sampai saat ini, kami sudah mencatatkan 8 perusahaan dan yang ada di pipeline sebanyak 21 calon emiten,” katanya.

Nyoman tetap menilai bahwa tahun ini merupakan waktu yang tepat untuk masuk ke pasar modal kendati investor banyak yang mengambil posisiwait and seemenjelang Pemilu. Dirinya menegaskan, sebenarnya tahun pemilu tidak lantas membuat selera investor menjadi “gloomy”. Pasalnya, melihat tren historis, justru selalu ada peningkatan IHSG setelah investor mendapat kepastian mengenai presiden terpilih. “Sekarang adalah waktu yg tepat untuk masuk ke pasar modal. Tahun politik itu hal biasa karena itu pesta demokrasi,” tuturnya.

Berdasarkan data BEI, IHSG justru naik 45% pada Pemilu 2004 dan begitu pula pada Pemilu 2009 menguat 87%. Pun pada Pemilu sebelum ini pada 2014, indeks mencetak kenaikan sebesar 22%. Perlu pula diperhatikan, pelaksanaan Pemilu di Indonesia kerap berbenturan dengan perkembangan negatif di ekonomi global. Misalnya, Pemilu 2009 bertepatan dengan kondisi krisis keuangan global yang membuat IHSG anjlok 51% pada 2008. 


Sementara itu, pada Pemilu 2014, terjadi krisis mata uang emerging market dan pengetatan dari Bank Sentral AS (Federal Reserve) yang membuat rupiah melemah -26% di hadapan dolar AS. Indeks pun tergerus 1%. “Pernah turun memang, tapi bukan disebabkan Pemilu. Itu karena perkembangan dari ekonomi global,” imbuh Nyoman.


comments

logo-senokuncoro

Seno Kuncoro

author