Bursa Pagi: Asia Dibuka Melaju, IHSG Berpeluang Membalik Tren Negatif

Bursa Pagi: Asia Dibuka Melaju, IHSG Berpeluang Membalik Tren Negatif

Posted by Written on 01 April 2019


Ipotnews - Mengawali pekan ini, di awal April, Senin (1/4), bursa saham Asia dibuka cenderung menguat merespon rilis indeks PMI China periode Maret yang di luar dugaan mencapai 50,5 dari 49,5 pada Februari, kenaikan pertama kali sejak empat bulan terakhir. Indeks PMI non-manufaktur naik menjadi 54,8 dari 54,3. 

Kendati demikian, barang pesanan ekspor turun, memasuki bulan ke 10 berturut-turut, karena lemahnya permintaan luar negeri.

Perdagangan saham hari ini dibuka dengan mencatatkan kenaikan indeks ASX 200, Australia sebesar 0,67% dengan menempatkan sebagian besar indeks sektoral di teritori positif. Indeks melaju 0,75% (46,30 poin) ke posisi 6.227,00 pada pukul 8:00 WIB.

Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, Jepang bergerak naik 1,70% (359,44 poin) ke level 21.565,25, setelah dibuka melejit 1,8%, saham Japan Display melambung 8%, Fast Retailing, Softbank Group dan Fanuc juga menguat. Indeks Topix melompat 1,56%. Indeks Kospi, Korea Selatan juga dibuka dengan kenaikan tajam 1,08%, saham SK Hynix melesat 3,64%, dan berlanjut naik 1,08% menjadi 2.163,82.

Melanjutkan tren kenaikan Asia, indeks Hang Seng, Hongkong dibuka melompat 1,14% (332,36 poin) ke level 29.383,72 pada pukul 8:40 WIB. Indeks Shanghai Composite, China dibuka melaju 0,68% ke posisi 3.111,66.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) hari ini dihadapkan pada tren pergerakan positif indeks saham acuan di bursa saham regional dan global, setelah gagal membukukan kenaikan saat mengakhiri sesi perdagangan pekan lalu. IHSG melemah 0,19% ke posisi 6.468. Investor asing tercatat net buy Rp832 miliar.

Sejumlah analis memperkirakan, pergerakan IHSG hari ini berpeluang menguat, didukung katalis positif global dan stabilitas inflasi Maret. Namun secara teknikal, beberapa indikator pergerakan indeks masih berada di tren negatif, berpotensi koreksi

Optimisme investor akan adanya kemajuan dalam negosiasi dagang antara Amerika dan China diprediksi akan menjadi sentimen positif untuk indeks harga saham gabungan. Sementara itu naiknya beberapa harga komoditas seperti minyak mentah, nikel, dan emas diprediksi akan menjadi tambahan katalis positif bagi indeks. IHSG diprediksi akan bergerak menguat dengan rentang support di level 6.435 dan resistance di 6.500.

Beberapa ekuitas yang direkomendasikan, antara lain;

  • Saham: BMRI (Buy, Support: Rp7.375, Resist: Rp7.525), UNTR (Buy on Weakness, Support: Rp26.700, Resist: Rp27.425), BSDE (Buy on Weakness, Support: Rp1.395, Resist: Rp1.415), MIKA (Buy, Support: Rp1.935, Resist :Rp1.965).

  • ETF : XISC (Buy, Support: Rp782, Resist: Rp789), XIIF (Buy, Support: Rp686, Resist: Rp694),

    R-LQ45X (Buy, Support: Rp1.052, Resist: Rp1.060).


Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursa Wall Street akhir pekan lalu ditutup di zona hijau, ditopang optimisme kemajuan negosiasi konflik dagang AS-China. Para pejabat AS dan China membuat proposal tentang isu yang akan terus dinegosiasikan di antaranya keharusan transfer teknologi. Saham Boeing dan Caterpillar melonjak lebih dari 1,8%, diikuti kenaikan sektor industri dan perawatan kesehatan. Saham CarMax melesat 9,5%, sentimen positif juga menerpa saham Lyft yang melompat 8%.

Wall Street mengakhiri perdagangan triwulan pertama 2019 dengan mencatatkan kinerja terbaik. Indeks S&P 500 melaju 13,1%, kenaikan triwulan tertinggi sejak triwulan ketiga tahun 2009, dan terbaik sejak 1998. Dow Jones naik 11,2%, triwulan pertama terbaik sejak 2013, dan Nasdaq mencatatkan kenaikan triwulan tertinggi sejak triwulan pertama 2012, dengan melesat 16,5%. Namun berdasarkan data FactSet, analis mengekspektasikan laba kuartal I S&P 500 turun 3,7% dibanding tahun lalu (yoy). Analisis GDPN ow Atlanta Federal Reserve memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal I hanya 1,5%, di bawah kuarta IV 2018 sebesar 2,2%.

  • Dow Jones Industrial Average ( DJIA ) melaju 0,82% (211,22 poin) ke level 25.928,68.

  • S&P 500 naik 0,67% (18,96 poin) ke posisi 2.834,40.

  • Nasdaq Composite meningkat 0,78% (60,15 poin) menjadi 7.729,32.
Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange turun 0,12% menjadi USD25,68.

Bursa saham utama Eropa mengakhiri pekan lalu juga dengan berlabuh di zona hijau, mengarah ke kenaikan triwulanan terbaik dalam 4 tahun terakhir, ditopang kelanjutan negosiasi konflik dagang AS-China yang dikabarkan konstruktif. Indeks STOXX 600 naik 0,60% menjadi 379,09, didukung kenaikan saham H&M, raksasa ritel pakaian terbesar dunia sebesar 9,56%. Penjualan ritel Jerman ada Februari tumbuh melebihi ekspektasi. 

Analis ING menilai, penguatan lapangan kerja Eropa meningkatkan pendapatan personal dan mendorong penjualan ritel.

Saham perusahaan travel, Tui AG anjlok 9% setelah memperkirakan rugi 200 juta euro pada 2019 akibat penolakan pelanggan terhadap penggunaan pesawat Boeing 737 MAX. Nordea Bank dan Swedbank rontok 10% karena dugaan pencucian uang. Deutsch Telekom melorot 4%, karena penurunan rating oleh Credit Suisse. 

Parlemen Inggris akan menunda pertemuan untuk mendiskusikan dan mem-voting proposal Brexit PM Theresa May. Pertumbuhan ekonomi Inggris tahun lalu hanya mencapai 1,4%, terlemah sejak 2012

  • DAX 30 Frankfurt melaju 0,86% (97,88 poin) ke posisi 11.526,04.

  • FTSE 100 London naik 0,62% (44,86 poin) menjadi 7.279,19.

  • CAC 40 Paris melonjak 1,02% (53,99 poin) ke level 5.350,53.

Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York akhoor pekan lalu cenderung mendatar, dengan sedikit menguat, karena minat investor terhadap mata uang safe haven menurun. Data inflasi AS lebih rendah dari perkiraan, menambah keraguan bahwa ekonomi AS kehilangan momentum.

Data belanja konsumen AS rebound namun lebih rendah dari ekspektasi, di tengah terhentinya tekanan harga yang mengacu kepada Personal Consumption Expenditure Index (PCE) sebagai preferensi inflasi The Fed. Pertumbuhan yang melambat dan inflasi yang rendah akan mendorong The Fed untuk mengakhir kebijakan moneter ketat. Indeks dolar AS menguat 0,08% menjadi 97,284.


Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% Change
Euro (EUR-USD)1.1218-0.0003-0.03%
Poundsterling (GBP-USD)1.3035-0.0009-0.07%
Yen (USD-JPY)110.860.23+0.21%
Yuan (USD-CNY)6.7120-0.0270-0.40%
Rupiah (USD-IDR)14,242.50-0.500.00%
Sumber : Bloomberg.com, 29/3/2019 (ET)


Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges menutup pekan lalu dengan menguat, di jalur kenaikan terkuat triwulanan dalam 1 dekade terakhir. Sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran dan Venezuela serta pemangkasan produksi OPEC membayangi kecemasan terhadap perlambatan ekonomi global.

Harga minyak WTI sempat menyentuh USD60,73 per barel, tertinggi sejak November tahun lalu. WTI mencatatkan kenaikan keempat pekan, naik 32% pada 3 bulan pertama tahun 2019. Brent naik 27% di triwulan pertama 2019. AS mengintensifkan tekanannya terhadap Iran pada pekan ini, dan menginstruksikan bursa perdagangan minyak dan pengilangan di seluruh dunia untuk juga mengurangi perdagangan dengan Venezuela.

  • Harga minyak mentah berjangka WTI naik 84 sen (1,4%) menjadi USD60,14 per barel.

  • Harga minyak mentah berjangka Brent naik 57 sen, menjadi USD68,39 per barel.
Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange ditutup dengan membukukan kenaikan harga pada perdagangan akhir pekan ini, merespon rilis data indikator inflasi AS periode Februari yang lebih lemah dari bulan sebelumnya. Ketidakpastian Brexit setelah parlemen Inggris menolak proposal PM Theresa May ikut mendongkrak harga emas. Harga palladium naik 2,0%menjadi USD 1.375 per ounce, melemah 12% secara mingguan, di tengah kekhawatiran penurunan permintaan industri. Platinum naik 1,36% ke harga USD 848,35, dan perak naik 0,7% menjadi USD 15,11 per ounce.

  • Harga emas di pasar spot naik 0,20% menjadi USD 1.292,67 per ounce.

  • Harga emas berjangka 0,2% menjadi USD 1.298,50 per ounce.

(AFP, CNBC , Reuters)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author