Bursa Pagi: Global Mereda, Penguatan Asia Kurangi Tekanan IHSG

Bursa Pagi: Global Mereda, Penguatan Asia Kurangi Tekanan IHSG

Posted by Written on 26 March 2019


Ipotnews - Bursa saham Asia pagi ini, Selasa (26/3), dibuka cenderung menguat, merespon meredanya tekanan penurunan indeks acuan pada penutupan bursa saham utama Eropa dan Wall Street. Indeks MSCI Asia-Pasifik, di luar Jepang, bergerak cenderung mendatar.

Mengawali perdagangan saham hari ini, indeks ASX 200, Australia dibuka sedikit melemah di kisaran level 6.121, diwarnai kejatuhan harga saham konglomerat Wesfarmers lebih dari 3%. Indeks berlanjut sedikit menguat 0,01% (0,90 poin) di posisi 6.127,10 pada pukul 8:10 WIB.

Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, Jepang bergerak melesat 1,53% (321,59 poin) ke level 21.298,70, setelah dibuka melompat 1,25% didukung laju saham Fast Retailing sebesar 0,70%. Indeks Topix dibuka melesat 1,39%. Sementara itu, indeks Kospi, Korea Selatan dibuka menguat 0,16%, di tengah penurunan harga saham Samsung Electronics 0,11%, dan berlanjut naik 0,24% menjadi 2.149,96.

Melanjutkan tren kenaikan Asia, indeks Hang Seng, Hongkong dibuka melaju 0,54% (154,41 poin) ke posisi 28.677,76 pada pukul 8:35 WIB. Indeks Shanghai Composite, China juga naik 0,48% menjadi 3.057,56.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pagi ini dihadapkan pada tren penguatan indeks saham regional, setelah terbenam di zona merah sepanjang sesi perdagangan kemarin dan ditutup terperosok 1,74% ke level 6.411,25. Sejumlah analis memperkirakan, pergerakan IHSG hari ini berpeluang bangkit dari tekanan penurunan yang mulai melemah, dengan didukung aksi beli. Secara teknikal, indeks masih memperlihatkan adanya potensi pelemahan lanjutan, membentuk tren bearish jangka menengah menuju jenuh jual.

Tim Riset Indo Premier berpendapat,rebound nilai tukar rupiah dan mulai diumumkannya pembagian dividen oleh emiten diprediksi akan menjadi sentimen positif di pasar. Sementara itu turunnya sebagian besar harga komoditas seperti minyak mentah, CPO, nikel dan timah diprediksi akan menjadi katalis negatif bagi indeks. IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung melemah dengan rentang support di level 6.350 dan resistance di 6.470.

Beberapa ekuitas yang direkomendasikan, antara lain;

  • Saham: PTBA (Buy, Support: Rp4.070, Resist: Rp4.240), BBCA (Buy, Support: Rp26.950, Resist: Rp27.450), WTON (Buy on Weakness, Support: Rp550, Resist: Rp570), WIKA (Buy on Weakness, Support: Rp1.910, Resist :Rp1.990).

  • ETF : XBLQ ( SELL , Support: Rp480, Resist: Rp504), XPID ( SELL , Support: Rp533, Resist: Rp556), 

    XIJI ( SELL , Support: Rp690, Resist: Rp723).


Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursa Wall Street pagi tadi berakhir cenderung melemah. Indeks Dow Jones menguat tipis merespon pernyataan Jaksa Agung AS William Barr yang mengatakan, penyelidikan Robert Mueller tidak menemukan cukup bukti bahwa kampanye Donald Trump 2016 berkolusi dengan Rusia. Namun, penguatan pasar yang lebih luas relatif tertahan karena kekhawatiran seputar ekonomi global, setelah kurva imbal hasil US Treasury bertenor 3 bulan melampaui tenor 10-tahun, membalikkan kurva imbal hasil untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade.

Indeks S&P melemah dipimpin kejatuhan sektor keuangan dan teknologi. Saham Apple anjlok 1,2% setelah mengumumkan sejumlah layanan seperti aplikasi berita, platform streaming video, kartu kredit, dan satu bundel video game. Saham Boeing melesat 2,3% setelah mengungkapkan bahwa pilot maskapai penerbangan AS sedang menguji pembaruan perangkat lunak untuk jet 737 Max.

  • Dow Jones Industrial Average naik tipis 0,06% (14,51 poin) menjadi 25.516,83.

  • S&P 500 melemah 0,08% (-2,35 poin) di level 2.798,36.

  • Nasdaq Composite menyusut 0,07% (-5,13 poin) di posisi 7.637,54.
Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange turun 0,04% menjadi USD25,68.

Bursa saham utama Eropa tadi malam juga ditutup melemah, di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang resesi AS dan ketidakpastian seputar Brexit beberapa hari sebelum jadwal keluarnya Inggris dari Uni Eropa. 

Indeks aktivitas manufaktur Jerman mengalami kontraksi untuk bulan ketiga berturut-turut, menurut data IHS Markit, menyeret imbal hasil obligasi 10-tahun ke wilayah negatif untuk pertama kalinya sejak Oktober 2016.

Indeks STOXX 600 turun 0,45% menjadi 374,33. Saham produsen barang mewah Prancis, LVMH sempat rontok 8,8% sebelum ditutup menguat 1,36%. Saham Bayer, terperosok hampir 3% setelah di-downgrade oleh Bank of America Merrill Lynch. Pabrikan satelit Inggris, Inmarsat, melambung 9,64% setelah menyebutkan bahwa konsorsium ekuitas swasta setuju untuk membeli perusahaan itu sekitar USD3,4 miliar.

  • FTSE 100 London turun 0,42% (-30,01 poin) ke level 7.177,58.

  • DAX 30 Frankfurt menyusut 0,15% (-17,52 poin) ke posisi 11.346,65.

  • CAC 40 Prancis berkurang 0,18% (-9,28 poin) menjadi 5.260,64.

Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York pagi tdai juga berakhir melemah, tidak banyak bereaksi terhadap pengumuman Jaksa Agung William Barr bahwa tidak menemukan bukti kolusi antara Rusia dan tim kampanye pemilihan Donald Trump 2016. Euro menguat, karena hasil survei IFO Institute Jerman menunjukkan indeks iklim bisnisnya naik menjadi 99,6, mengalahkan perkiraan konsensus 98,5 dan mengakhiri penurunan enam bulan berturut-turut serta meredakan ketkahwatiran akan resesi.

Pasar keuangan di seluruh dunia bergolak pada sesi Jumat, didorong kecemasan tentang penurunan ekonomi setelah kurva imbal hasil US Treasury terbalik. Pembalikan kurva imbal hasil biasanya mendahului setiap resesi AS dalam 50 tahun terakhir. Poundsterling sedikit menguat terhadap dolar dan euro, saat parlemen Inggris bersiap untuk mencoba dan mengambil alih kendali proses Brexit. Indeks dolar melemah 0,09% menjadi 96,566.


Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% ChangeTime (ET)
Euro (EUR-USD)1.13150.0003+0.03%7:20 PM
Poundsterling (GBP-USD)1.32060.00110.08%7:19 PM
Yen (USD-JPY)110.030.06+0.05%7:19 PM
Yuan (USD-CNY)6.7094-0.0088-0.13%11:29 AM
Rupiah (USD-IDR)14,185.0022.50+0.16%4:58 AM

Sumber : Bloomberg.com, 25/3/2019 (ET)


Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges hingga pagi bergerak variatif, kekhawatiran mengenai perlambatan pertumbuhan ekonomi global masih bertahan, diimbangi oleh prospek pasokan minyak mentah AS yang lebih ketat. Pasar menantikan data mingguan persediaan minyak mentah AS, yang dimulai dengan laporan American Petroleum Institute, dan diikuti Badan Informasi Energi AS, Selasa dan Rabu.

Persediaan minyak mentah AS diperkirakan turun untuk pekan ketiga berturut-turut, setelah menyusut hampir 10 juta barel pada pekan sebelumnya di tengah melonjaknya ekspor. Membaiknya indeks iklim bisnis Jerman menghilangkan beberapa kekhawatiran resesi yang meluas. Pemotongan pasokan oleh Organisasi Negara Eksportir Minyak dan sekutunya, seperti Rusia, juga mendukung harga.

  • Harga minyak mentah berjangka Brent, naik 18 sen menjadi USD67,21 per barel

  • Harga minyak mentah berjangka WTI turun 22 sen menjadi USD58,82 per barel.
Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange pagi tadi melesat ke level tertinggi lebih dari tiga pekan, dibantu depresiasi dolar dan kekhawatiran pertumbuhan ekonomi global. Senin, pasar ekuitas mencapai level terendah 12 hari di tengah kekhawatiran tentang ekonomi global setelah inversi dalam kurva imbal hasil obligasi AS yang memicu kekhawatiran resesi.

Pekan lalu harga emas spot membukukan kenaikan mingguan ketiga berturut-turut, melonjak sekitar 1%. 

Kepemilikan ETF emas terbesar di dunia, SPDR Gold Trust, naik sekitar 1% pada pekan lalu. Harga logam lainnya, palladium naik 0,4% menjadi USD1.568, perak melaju 0,8% menjadi USD15,54, dan platinum melonjak 0,9% menjadi USD851,85 per ounce.

  • Harga emas di pasar spot naik 0,5% menjadi USD1.320,94 per ounce.

  • Harga emas berjangka naik naik USD10,30 (0,8%) menjadi USD1.322,6 per ounce.

(AFP, CNBC , Reuters)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author