Bursa Sore: Market Saham Global Berguguran, Rupiah Dan IHSG Takluk

Bursa Sore: Market Saham Global Berguguran, Rupiah Dan IHSG Takluk

Posted by Written on 25 March 2019


Ipotnews - Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) terus tergelincir ke zona merah pada akhir perdagangan hari Senin (25/3). IHSG tergerus -1,75 persen (-115 poin) ke level 6.411.

Indeks LQ45 -2,14% ke 1.004. Indeks IDX30 -2,16% ke level 551. IDX80 -2,36% ke 142. Indeks JII -2,25% ke 695. Indeks Kompas100 -2,16% ke 1.298. Indeks Sri Kehati -1,98 persen ke 389 dan Indeks SMInfra18 -2,24 persen ke level 334.

Saham-saham teraktif: INDFJAYAICBPASIIANTMSIMAGGRM

Saham-saham top gainers LQ45: ITMGTPIAPTBABRPT

Saham-saham top losers LQ45: CPINBBCASRILPGASINTP,TLKMHMSP

Nilai transaksi mencapai Rp8,08 triliun. Volume trading sebanyak 134,20 juta lot saham. Investor asing membukukan jual bersih -Rp147,85 miliar.

Nilai tukar rupiah melemah -0,11% ke posisi Rp14.180 terhadap dolar AS. (04:00 pm).


Bursa Asia

Market saham Asia terjun bebas ke zona merah pada perdagangan hari Senin (25/3). Para investor kecewa terhadap data indikator ekonomi dari Eropa serta terus mencermati potensi sinyal resesi ekonomi di AS.
MSCI Asia Pacific Index (tolok ukur bursa saham Asia Pasifik) bergerak melemah 1,65 persen.

Selisih antara yield US Treasury tenor 3 bulan dan 10 tahun menjadi negatif pada akhir pekan lalu untuk pertama kali dalam lebih dari 1 dekade. Para investor menganggap ini sebagai sinyal resesi ekonomi mungkin akan segera terjadi.

"Walaupun kita mengantisipasi kurva yield tenor 10 tahun minus 2 tahun untuk memperkirakan resesi ekonomi AS sekitar 12 hingga 18 bulan sebelumnya, inversi puluhan kurva yield US Treasury adalah sinyal yang tidak menyenangkan," demikian kata Tim Riset Commonwealth Bank of Australia seperti dikutip CNBC.

Inversi kurva yield terjadi saat suku bunga surat utang jangka pendek melampaui surat utang jangka panjang sehingga meredam laba kredit bank. Kurva terbalik tersebut juga dianggap indikator resesi.

Indeks Nikkei 225 di market saham Tokyo turun signifikan saat akhir sesi perdagangan. Saham-saham unggulan di bursa Jepang di antaranya SOftbank Group dan Fancu terkoreksi dalam masing-masing 5,01 persen dan 3,84 persen. Indeks Topix turun 2,45 persen.

Mengakhiri sesi sore, bursa saham China juga tumbang. Indeks Shanghai Composite takluk dan Shenzhen Component drop 1,8 persen. Indeks Shenzhen Composite terkoreksi 0,908 persen.

Tekanan juga terjadi di bursa saham Hong Kong. Indeks Hang Seng menyerah di zona merah. Saham dengan kapitalisasi pasar besar, Tencent turun 3 persen. Adapun Indeks Kospi di bursa saham Korsel turun 1,92 persen seiring tekanan yang terjadi pada harga saham SK Hynix yang turun 4,2 persen.

Pelemahan seluruh sektor saham menekan laju bursa saham Australia. Indeks ASX200 turun 1,11 persen.
Adapun di pasar finansial, Indeks dolar AS ke level 96,613 melaju dari level sesi sebelumnya di posisi 96,3. Nilai tukar yen menguat di posisi 110,05 terhadap USD dibanding posisi sesi akhir pekan lalu di level 110,6. Dolar AUstralia melemah di posisi $0,7083 dibanding pada pekan lalu di posisi $0,714.

Indeks Nikkei 225 (Jepang) -3,01% di level 20.977.

Indeks Hang Seng (Hong Kong) -2,03% di posisi 28.523.

Indeks Shanghai (China) -1,97% ke posisi 3.043.

Indeks Straits Times (Singapura) -0,91% ke 3.182.


Bursa Eropa

Pasar saham Eropa melemah di menit-menit awal pada perdagangan hari Senin (25/3) pagi waktu setempat. Kekhawatiran investor meningkat bahwa resesi ekonomi akan datang di AS.

Indeks DAX (Jerman) -0,32% ke posisi 11.328.

Indeks FTSE (Inggris) -0,64% pada level 7.161.

Indeks CAC (Perancis) -0,53% di posisi 5.241.


Minyak

Harga minyak tergelincir pada perdagangan sesi sore, hari Senin (25/3) di pasar komoditas Asia. Laju harga minyak terhalang seiring kekhawatiran yang sangat tajam terhadap perlambatan ekonomi melampaui sentimen pemangkasan produksi oleh OPEC serta sanksi ekspor minyak bagi Iran dan Venezuela.

Minyak Brent melemah 30 sen ke harga USD66,73 per barel (07:52 GMT). Sedangkan minyak WTI turun 35 sen ke harga USD58.69 per barel.


(cnbc/reuters/awj/idx)

Sumber : admin


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author