Bursa Pagi: Isu Resesi Jungkalkan Global-Regional, IHSG Berpotensi Koreksi

Bursa Pagi: Isu Resesi Jungkalkan Global-Regional, IHSG Berpotensi Koreksi

Posted by Written on 25 March 2019


Ipotnews - Mengawali pekan terakhir Maret, Senin (25/3), bursa saham Asia dibuka melorot, setelah munculnya sinyal potensi resesi global yang menghantam indeks saham acuan di bursa saham utama Eropa dan Wall Street, akhir pekan lalu. Indeks MSCI Asia-ex Jepang merosot 0,56% menjadi 526,78.pada pukul 8 pagi di Hongkong.

Perdagangan saham hari ini dibuka dengan membukukan kejatuhan indeks ASX 200, Australia lebih dari 1%, dengan menempatkan hampir semua sektor di zona merah. Indeks meluncur turun 1,18% (-73,20 poin) menjadi 6.122,00 pada pukul 8:15 WIB.

Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, Jepang terpelanting 2,96% (-639,84 poin) ke level 20.987,50, setelah dibuka terjungkal 2,4% diwarnai kejatuhan harga saham Fast Retailing, Softbank Group dan Fanuc. 

Indeks Topix dibuka anjlok 2,23%. Indeks Kospi, Korea Selatan, dibuka turun 1,46%, saham Hyundai Motor rontok 3%, dan berlanjut terperosok 1,58% ke posisi 2.152,37.

Melanjutkan tren kejatuhan global, indeks Hang Seng, Hongkong dibuka tersungkur 2,04% (-595,17 poin) ke level 28.518,19 pada pukul 8:35 WIB. Indeks Shanghai Composite, China terperosok 1,64% ke posisi 2.151,09.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pagi ini dihadapkan pada kejatuhan indeks acuan di bursa saham global dan regional, setelah berhasil mengakhiri pekan lalu dengan membukukan kenaikan 0,36% menjadi 6.525.

Sejumlah analis memperkirakan, pergerakan IHSG hari ini berada dalam fase konsolidasi wajar namun tetap berpeluang melanjutkan kenaikan, didukung capital inflow. Secara teknikal, IHSG mengindikasikan adanya potensi koreksi di zona jenuh beli sehingga berpotensi memicu profit taking.

Tim Riset Indo Premier berpendapat, kekhawatiran investor akan melambatnya pertumbuhan ekonomi global, seiring dengan negatifnya selisih yield obligasi Amerika dengan tenor 3 bulan dan 10 tahun, diprediksi akan menjadi sentimen negatif untuk IHSG.

Sementara itu melemahnya nilai tukar rupiah serta penurunan sebagian besar harga komoditas seperti minyak mentah, CPO, nikel dan batu bara diprediksi akan menjadi tambahan katalis negatif di pasar. IHSG diprediksi akan bergerak melemah dengan rentang support di level 6.495 dan resistance di 6.555.

Beberapa ekuitas yang direkomendasikan antara lain;

  • Saham : HMSP (Buy, Support: Rp3.770, Resist: Rp3.830), KLBF (Buy, Support: Rp1.500, Resist: Rp1.530), INDF (Buy, Support: Rp7.275, Resist: Rp7.500), BBCA (Buy, Support: Rp27.325, Resist :Rp27.575).

  • ETF: XMTS ( SELL , Support: Rp539, Resist: Rp543), XDIF ( SELL , Support: Rp508, Resist: Rp512), 

    XPLC ( SELL , Support: Rp530, Resist: Rp534).


Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursa Wall Street menutup pekan lalu dengan membukukan penurunan tajam terseret kekhawatiran akan pertumbuhan ekonomi global, serta sikap the Fed yang memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi AS. Saham perbankan turun tajam karena penurunan yield surat utang bertenor 10 tahun sehingga lebih rendah dari yield surat utang tenor 3 bulan (inverting curve), untuk pertama kalinya sejak 2007, yang dianggap sebagai indikator resesi ekonomi.

Saham Netflix, Alphabet dan Apple menjadi pemicu pelemahan indeks Nasdaq. Harga saham Citigroup terjungkal 4%. Goldman Sachs, Morgan Stanley, JP Morgan Chase dan Bank of America tergerus sedikitnya 2%. Harga saham Nike rontok 6,6% karena pelemahan penjualan triwulan pertama tahun ini. Saham Boeing merosot 2,8%, setelah maskapai penerbangan Indonesia membatalkan order sebanyak 49 Boeing jenis 737 Max senilai USD6 miliar.

  • Dow Jones Industrial Average melorot 1,77% (-460 poin) menjadi 25.502,32.

  • S&P 500 anjlok 1,90% (-54,17 poin) ke posisi 2.800,71.

  • Nasdaq Composite terperosok 2,50% (-196,29 poin) ke level 7.642,67.
Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange anjlok 2,95% menjadi USD25,69
Bursa saham utama Eropa akhir pekan lalu juga ditutup dengan mengalami koreksi tajam terbebani kekhawatiran perlambatan pertumbuhan global. Data manufaktur Jerman kembali menyulut kekhawatiran resesi, bersamaan dengan terjadinya inverting curve imbal hasil surat utang AS. Indeks manufaktur Uni Eropa turun ke posisi 51,3 pada Maret, lebih rendah dibanding bulan sebelumnya pada level 51,9. Yield obligasi Jerman tenor 10 tahun berbalik negatif untuk pertama kalinya sejak Oktober 2016.

Indeks STOXX 600 terperosok 1,2 persen ke level 376,03, turun 1,3% dibanding pekan lalu mengarah ke level terendah tahun ini. Saham-saham kimia dan otomotif turun 2%, saham sektor perbankan mengalami koreksi harian paling signifikan sejak awal Februari.Sebagian besar pasar saham Eropa sempat menguat menyambut persetujuan Uni Eropa untuk setidaknya menangguhkan tenggat Brexit selama 2 pekan yang bisa mencegah keluarnya Inggris tanpa sebuah kesepakatan.

  • DAX 30 Frankfurt merosot 1,61% (-185,79 poin) ke posisi 11.364,17.

  • FTSE 100 London anjlok 2,01% (-147,72 poin) menjadi 7.207,59.

  • CAC 40 Paris drop 2,03% (-108,93 poin) ke level 5.269,92.


Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York menutup pekan lalu dengan membukukan sedikit kenaikan, kendati tertekan oleh rilis data manufaktur AS yang suram. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun mengalami inverting untuk pertama kali sejak 2007 setelah data manufaktur AS meleset dari estimasi. Inversi yield curve surat utang yang kian melebar mengindikasikan resesi. Dolar melemah terhadap yen, namun menguat terhadap euro karena data manufaktur Jerman yang lebih rendah dari ekspektasi. Indeks dolar AS menguat 0,16% menjadi 96,651.


Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% Change
Euro (EUR-USD)1.1302-0.0072-0.63%
Poundsterling (GBP-USD)1.32090.0102+0.78%
Yen (USD-JPY)109.92-0.90-0.81%
Yuan (USD-CNY)6.71810.0189+0.28%
Rupiah (USD-IDR)14,162.5022.50+0.16%

Sumber : Bloomberg.com, 22/3/2019 (ET)


Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges akhir pekan lalu berakhir turun, para pemodal mengubah fokus kepada minimnya perkembangan negosiasi konflik dagang AS-China. Tidak ada terobosan yang muncul dalam negosiasi konflik dagang AS-China jelang pertemuan kedua negara pada 28-29 Maret mendatang. Data indeks manufaktur Jerman dan Prancis melemah, menimbulkan kekhawatiran akan perlembangan ekonomi global. 

Perlambatan ekonomi di Asia, Eropa dan Amerika Utara, potensial menekan konsumsi energi dan penurunan permintaan BBM. Polling Reuters mengindikasikan 3 dari 4 perusahaan Jepang memperkirakan konflik dagang AS-China masih terjadi sampai setidaknya akhir tahun ini. Perusahaam energi AS pada pekan lalu mengurangi lagi operasi 9 rignya dalam 5 pekan berturut-turut, terendah pada tahun ini.

  • Harga minyak mentah berjangka Brent turun 1,3% menjadi USD66,96 per barel.

  • Harga minyak mentah berjangka WTI turun 1,6% menjadi USD59,04 per barel.
Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange akhir pekan lalu ditutup dengan membukukan kenaikan tajam, di tengah kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global yang menempatkan emas batangan pada jalur penguatan mingguan terbaik dalam 2 bulan. Situasi Brexit yang tak menentu serta faktor geopolitik, ikut mendukung harga emas. Harga palladium turun 2,6% menjadi USD1.565 per ounce, perak turun 0,45% menjadi USD15,39, dan platinum turun 1,54% menjadi USD845,25 per ounce.

  • Harga emas di pasar spot naik 0,2% menjadi USD1.311,85 per ounce.

  • Harga emas berjangka naik USD5 menjadi USD1.312,30 per ounce.

(AFP, CNBC , Reuters)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author