Bursa Pagi: Global Mixed, Asia Melemah, IHSG Sudah Jenuh Jual

Bursa Pagi: Global Mixed, Asia Melemah, IHSG Sudah Jenuh Jual

Posted by Written on 13 March 2019


Ipotnews - Bursa saham Asia pagi ini, Rabu (13/3) dibuka turun, di tengah ancaman ketidakpastian global setelah parlemen Inggris menolak proposal Brexit yang diajukan PM Theresa May. Pasar tak mampu memanfaatkan peluang penutupan bursa saham utama Eropa dan Wall Street yang ditutup bervariasi, cenderung menguat.

Mengawali perdagangan saham hari ini, indeks ASX 200, Australia dibuka turun 0,45%, diwarnai penurunan indeks saham di hampir semua sektor, sektor energi anjlok 0,87% terseret penurunan harga saham sektor perminyakan. Indeks berlanjut turun 0,36% (-22,40 poin) ke posisi 6.152,40 pada pukul 8:20 WIB.

Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, Jepang meluncur turun 0,31% (-67,07 poin) ke level 21.436,62, setelah dibuka menyusut 0,26%. Indeks Kospi, Korea Selatan juga dibuka turun 0,32%, dan berlanjut melorot 0,35% menjadi 2.149,53.

Berusaha melawan tekanan penurunan regional, indeks Hang Seng, Hongkong dibuka menguat tipis 0,01% (3,41 poin) di posisi 28.924,28 pada pukul 8:35 WIB. Indeks Shanghai Composite, China bertambah 0,07% menjadi 3.062,33.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) dihadapkan pada pergerakan indeks saham acuan di bursa saham gobal dan regional yang bervariasi, setelah gagal memanfaatkan tren positif penguatan indeks regional pada perdagangan kemarin. IHSG ditutup turun 0,2% menjadi 6.353.

Sejumlah analis memperkirakan, pergerakan IHSG hari ini masih berpeluang menguat, menyambut rilis data neraca perdagangan yang diperkirakan berada dalam kondisi membaik, namun dibayangi oleh fluktuasi harga komoditas dan arus dana investor asing. Secara teknikal, beberapa indikator pergerakan indeks memperlihatkan adanya peluang penguatan terbatas, karena sejumlah indikator sudah menunjukkan kondisi jenuh jual.

Tim Riset Indo Premier berpendapat, bervariasinya indeks di bursa Wall Street dan sikap investor yang cenderung hati-hati menjelang pilpres diprediksi akan menjadi sentimen negatif di pasar. Sementara itu naiknya sebagian besar harga komoditas seperti minyak mentah, nikel, timah, emas, batu bara diprediksi akan menjadi katalis positif untuk indeks. IHSG diprediksikan bergerak bervarisi cenderung melemah dengan rentang support di level 6.310 dan resistance di 6.395.

Beberapa ekuitas yang direkomendasikan, antara lain;

  • Saham : UNVR (Buy,Support:Rp48.400, Resist: Rp49.575), INCO (Buy,Support:Rp3.540,Resist:Rp3.640), 

    EXCL (Buy,Support: Rp2.420, Resist:Rp2.580), WSKT (Buy on Weakness, Support: Rp1.870, Resist :Rp1.920).

  • ETF: XBNI ( SELL ,Support: Rp1.072,Resist: Rp1.080), R-LQ45X ( SELL ,Support:Rp1.026,Resist: Rp1.036), XMTS ( SELL ,Support:Rp524,Resist: Rp530)

Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursa Wall Street pagi tadi berakhir cenderung menguat dengan menyisakan indeks Dow Jones di zona merah terseret kejatuhan harga saham Boeing, menyusul perintah grounded pesawat 737 MAX 8 di sejumlah negara. Indeks harga konsumen AS periode Februari naik 0,2%, sesuai ekspektasi, namun IHK inti gagal memenuhi perkiraan dengan hanya tumbuh 0,1%. Saham Boeing anjlok lebih dari 6%, setelah turun 5,3% pada sesi sebelumnya, sekaligus mencatat kerugian dua hari terbesar sejak Juni 2009.

Sektor teknologi menjadi sektor dengan kinerja terbaik untuk 2019, melambung 15,3% sepanjang tahun ini. Saham Apple melonjak lebih dari 1%. Pada sesi Senin penguatan perusahaan teknologi seperti Apple dan Facebook mengimbangi penurunan tajam Boeing. Angka penjualan ritel Januari yang lebih baik dari perkiraan juga memberikan dorongan untuk kepercayaan, setelah serangkaian data Desember yang lemah.

  • Dow Jones Industrial Average turun 0,38% (-96,22 poin) menjadi 25.554,66.

  • S&P 500 bertambah 0,30% (8,22 poin) ke posisi 2.792,00.

  • Nasdaq Composite naik 0,44% (32,97 poin) ke level 7.591,03.
Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange turun 0,55% menjadi USD25,19.

Bursa saham utama Eropatadi malam juga berakhir variatif, menjelang pemungutan suara terkait perjanjian Brexit di Parlemen Inggris. Poundsterling menukik dalam perdagangan petang karena Jaksa Agung Inggris Geoffrey Cox mengakui risiko hukum tetap ada di bawah kesepakatan Brexit PM May yang sudah direvisi. 

Indeks STOXX 600 melemah 0,06% menjadi 373,25, dipimpin lonjakan harga saham raksasa engineering Prancis, Spie lebih dari 8% setelah melaporkan kinerja setahun penuh yang kuat.
Perusahaan farmasi Swiss Galenica melejit lebih dari 6%, didukung peningkatan laba bersih pada 2018. Sebaliknya saham Telecom Italia anjlok 5,75%, saham Adyen merosot 5,7%. Menteri Keuangan Jerman Olaf Scholz, Senin, mengkonfirmasi bahwa Deutsche Bank dan Commerzbank sedang menjajaki kemungkinan merger. Saham keduanya tergelincir setelah reli menguat pada Senin kemarin.

  • FTSE 100 London menguat 0,29% (20,53 poin) menjadi 7.151,15.

  • DAX 30 Frankfurt menyusut 0,17% (-19,31 poin) ke posisi 11.524,17.

  • CAC 40 Paris naik tipis 0,08% (4,29 poin) di level 5.270,25.

Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York pagi tadi ditutup melemah, setelah rilis indeks harga konsumen AS periode Februari menunjukkan bahwa inflasi tetap rendah meski pasar tenaga kerja mengetat, sehingga memperkuat kemungkinan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga. Meski naik 0,2%, untuk pertama kalinya dalam empat bulan, laju IHK Februari sangat tipis, menghasilkan pertumbuhan tahunan terkecil dalam hampir dua setengah tahun.

Sebaliknya, euro menguat terhadap dolar, namun dolar menguat terhadap yen dan pounsterling. Sterling melorot karena parlemen Inggris menolak proposal kesepakatan Brexit yang diajukan PM Theresa May. Tidak ada jalan keluar yang jelas bagi Inggris: keluar dari UE tanpa kesepakatan, menunda tanggal perpisahan 29 Maret, pemilihan umum, atau bahkan referendum lain menjadi sangat memungkinkan. Indeks dolar, yang mengukur kurs greenback terhadap enam mata uang negara maju turun 0,29% menjadi 96,935.


Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% ChangeTime (ET)
Euro (EUR-USD)1.1286-0.0002-0.02%7:34 PM
Poundsterling (GBP-USD)1.3069-0.0006-0.05%7:35 PM
Yen (USD-JPY)111.27-0.09-0.08%7:35 PM
Yuan (USD-CNY)6.7085-0.0180-0.27%11:29 AM
Rupiah (USD-IDR)14,266.50-24.00-0.17%4:56 AM

Sumber : Bloomberg.com, 12/3/2019 (ET)


Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges pagi yadi berakhir dengan mencatatkan kenaikan tipis, didukung oleh sinyal pengetatan pasokan global. Pejabat Saudi mengatakan, negaranya berencana memotong ekspor minyak pada April, menjadi di bawah 7 juta barel per hari (bph), sambil menjaga output-nya jauh di bawah 10 juta bph. Sementara itu, AS memangkas proyeksi untuk pertumbuhan produksi minyak mentah domestik. Sejak awal tahun, harga WTI dan Brent sudah melonjak sekitar 25%.

Badan Informasi Energi (EIA) AS menyebutkan, produksi minyak mentah domestik pada tahun 2019 kemungkinan akan tumbuh lebih lambat dari perkiraan, rata-rata sekitar 12,3 juta bph. EIA juga memangkas perkiraan pertumbuhan permintaan minyak dunia 2019 sebesar 40.000 bph menjadi 1,45 juta bph. Persediaan minyak mentah AS, menurut American Petroleum Institute, turun 2,6 juta barel dalam pekan hingga 8 Maret menjadi 449 juta, namun analis memperkirakan peningkatan 2,7 juta barel.

  • Harga minyak mentah berjangka Brent, naik 12 sen menjadi USD66,70 per barel.

  • Harga minyak mentah berjangka WTI, naik 8 sen menjadi USD56,87 per barel.

Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange pagi tadi ditutup menguat, memanfaatkan pelemahan dolar yang tertekan rilis data inflasi AS yang mendukung sikap 'bersabar' Federal Reserve terhadap kenaikan suku bunga. Indeks harga konsumen AS pada Februari naik untuk kali pertama dalam empat bulan, namun mencatatkan kenaikan tahunan yang terkecil dalam sekitar dua setengah tahun, sehingga inflasi tetap rendah.

Ketidakpastian seputar Brexit juga mendorong harga emas. Analis mengatakan, Brexit tanpa kesepakatan akan memicu pergeseran aset secara lebih luas ke tempat yang aman. Kepemilikan SPDR Gold Trust, ETF emas terbesar di dunia, naik 0,4 persen menjadi 769,53 ton pada Senin kemarin. Harga palladium naik 0,3% menjadi USD1.540,01 per ounce. Platinum melonjak 1,2% menjadi USD834,55, dan perak naik 0,6%menjadi USD15,41 per ounce.

  • Harga emas di pasar spot naik 0,46%menjadi USD1.298,61 per ounce.

  • Harga emas berjangka naik 0,6% menjadi USD1.299,10 per ounce.

(AFP, CNBC , Reuters)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author