Bursa Pagi: Asia Dibuka Melaju, Dukung Peluang Kenaikan IHSG

Bursa Pagi: Asia Dibuka Melaju, Dukung Peluang Kenaikan IHSG

Posted by Written on 04 March 2019


Ipotnews - Mengawali pekan ini, di pekan pertama Maret, Senin (4/3), bursa saham Asia dibuka menguat, merespon laporan tentang tawaran China untuk menurunkan tarif pada beberapa produk AS. Kedua pihak diharapkan akan menandatangani kesepakatan dalam beberapa pekan mendatang.

Perdagangan saham hari ini dibuka dengan mencatatkan kenaikan indeks ASX 200, Australia sebesar 0,58% dengan menempatkan hampir semua sektor di zona hijau. Indeks bergerak naik 0,73% (45,10 poin) ke level 28.812,17 pada pukul 8:15 WIB.

Pada jam yang sama, indeks Nikkei 225, Jepang bertambah 0,81% (175,57 poin) menjadi 21.778,26, setelah dibuka melaju 0,83% diwarnai lonjakan harga saham Fanuc sebesar 2,15%. Indeks Kospi, Korea Selatan, juga dibuka melompat 0,72% dan berlanjut naik 0,53% menjadi 2.207,14.

Melanjutkan tren kenaikan Asia, indeks Hang Seng, Hongkong dibuka menguat 0,13% (39,32 poin) di posisi 28.850,49 pada pukul 8:35 WIB. Indeks Shanghai Composite, China dibuka melonjak 0,98% ke level 3.023,42.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pagi ini dihadapkan pada tren kenaikan indeks global dan regional, setelah berhasil menutup pekan lalu dengan mencatatkan kenaikan signifikan 0,88% ke level 6.499. 

Sejumlah analis memperkirakan, pergerakan IHSG hari ini berpeluang melanjutkan kenaikan, didukung rilis data ekonomi awal bulan. Secara teknikal, beberapa indikator pergerakan indeks memperlihatkan adanya potensi penguatan lanjutan di area positif.

Tim Riset Indo Premier berpendapat, menguatnya indeks bursa global dan regional seiring dengan semakin dekatnya kesepakatan dagang AS-China, diprediksi akan menjadi sentimen positif untuk IHSG . Sementara itu naiknya harga beberapa komoditas seperti CPO, nikel dan batu bara serta laporan keuangan emiten juga akan menjadi tambahan katalis positif untuk indeks. IHSG diprediksi akan bergerak menguat dengan rentang support di level 6.455 dan resistance di 6.535.

Beberapa ekuitas yang direkomendasikan, antara lain;

  • Saham : BBNI (Buy, Support: Rp8.825, Resist: Rp9.125), KLBF (Buy, Support: Rp1.510, Resist: Rp1.570), ANTM (Buy, Support: Rp1.000, Resist: Rp1.100), INCO (Buy, Support: Rp3.720, Resist :Rp4.040).

  • ETF: R-LQ45X (Buy, Support: Rp1.045, Resist: Rp1.069), XMTS (Buy, Support: Rp533, Resist: Rp545), 

    XIIC (Buy, Support: Rp1.139, Resist: Rp1.164).


Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursa Wall Street akhir pekan lalu ditutup menguat, indeks S&P 500 dan Dow Jones mengakhir pelemahan 3 hari terakhir, seiring optimisme prospek kesepakatan dagang AS dan China di tengah suramnya data manufaktur China. Presiden Trump dan Xi Jinping diberitakan dapat segera menandatangani kesepakatan konflik dagang pada pertengahan Maret nanti.

Data indeks manufaktur AS periode Februari turun terendah sejak November 2016. Indeks sentimen konsumen juga melemah, lebih rendah dari ekspektasi. Di China aktivitas manufaktur periode Februari melemah untuk bulan ketiga beruntun. Hal ini mengindikasikan permintaan domestik di China hanya sedikit membaik karena kebingungan terhadap kebijakan stimulus yang dimulai pada akhir tahun lalu.

  • Dow Jones Industrial Average naik 0,43% (110,32 poin) ke posisi 26.026,32.

  • S&P 500 melaju 0,69% (19,20 poin) menjadi 2.803,69.

  • Nasdaq Composite melonjak 0,83% (62,82 poin) ke level 7.595,35.
Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange naik 0,54% menjadi USD25,87.

Bursa saham utama Eropa juga mengakhiri pekan lalu dengan kenaikan, didukung laporan kinerja laba emiten yang memicu gairah pelaku pasar. Indeks STOXX 600 naik 0,39% menjadi 374,24, dipimpin kenaikan harga saham sektor otomotif. Bursa saham Dublin memimpin penguatan di Eropa dengan melonjak 1,3% di tengah meredanya kekhawatiran sentimen Brexit. Kenaikan bursa saham Eropa tertahan oleh rilis indeks manufaktur AS yang turun ke posisi terendah sejak November 2016.

Optimisme pelaku pasar meningkat meski rilis data indikator perekonomian cenderung mixed. Indeks manufaktur Uni Eropa menguat untuk pertama kalinya dalam 5 tahun terakhir. Penjualan ritel di Jerman naik. Inflasi zona euro periode Februari mencapai 1,5% dari 1,4% pada Januari. Inflasi inti mencapai 1,2%%, masih di bawah target Bank Sentral Eropa sebesar 2%.

  • DAX 30 Frankfurt melaju 0,75% (86,04 poin) ke level 11.601,68.

  • FTSE 100 London naik 0,45% (32,00 poin)ke posisi 7.106,73.

  • CAC 40 Paris bertambah 0,47% (24,66 poin)menjadi 5.265,19.

Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York akhir pekan lalu ditutup menguat ke level tertinggi dalam 10 pekan terhadap yen. Minat terhadap aset berisiko meningkatnya di tengah prospek pada sebagian perekonomian global yang lebih optimistis, dan prospek penyelesaian konflik dagang AS-China. Kenaikan dolar juga ditopang oleh data PDB AS yang tumbuh 2,6% melampaui estimasi sebesar 2,3%. Namun indeks manufaktur AS periode Februari mencapai 54,2 di, turun dibanding bulan sebelumnya di posisi 56,6. Indeks Dolar AS naik 0,38% menjadi 96,527.


Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% Change
Euro (EUR-USD)1.1365-0.0006-0.05%
Poundsterling (GBP-USD)1.32020.0061-0.46%
Yen (USD-JPY)111.890.50+0.45%
Yuan (USD-CNY)6.70640.0123+0.18%
Rupiah (USD-IDR)14,120.0051.00+0.36%
Sumber : Bloomberg.com, 1/3/2019 (ET)


Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges menutup pekan lalu dengan berbalik melemah tertekan oleh rilis data sektor manufaktur AS yang memicu kekhawatiran terhadap pertumbuhan permintaan energi secara global. 

Polling Reuters memperlihatkan, para analis memperkirakan konsumsi BBM secara global akan turun pada tahun ini terdampak perlambatan ekonomi secara luas.

Aktivitas pabrikan China melemah dalam 3 bulan beruntun seiring penurunan ekspor China. Ekspor Korea Selatan periode Februari drop ke posisi terendah seiring melambatnya permintaan dari China. Meski begitu, konsumsi BBM di emerging market Asia masih menguat. Konsumsi minyak diesel India diperkirakan mencapai rekor baru tahun ini didukung pertumbuhan ekonomi sebesar 7%.

  • Harga minyak mentah berjangka WTI turun USD1,42 menjadi USD55,80 per barel.

  • Harga minyak mentah berjangka Brent turun USD1,32 ke level USD64,99 per barel.
Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange juga mengakhiri pekan lalu dengan penurunan kebawah USD1.300, terendah awal Januari, sekaligus pelemahan terburuk mingguan dalam 6,5 bulan terakhir. Secara mingguan emas turun 2%, pelemahan mingguan terburuk sejak Agustus lalu. Pasar digembur aksi profit taking di tengah penguatan dolar AS. Data PDB AS yang lebih baik dari ekspektasi mendongkrak dolar AS dan yield US Treasury tenor 2 tahun dalam beberapa hari terakhir, menurunkan pamor emas di mata pemodal.

Harga palladium naik 0,3% menjadi USD1.547,86 per ounce, platinum turun 1,17% ke USD859,81, dan harga perak di pasar spot anjlok 2,48% ke level USD15,21. Perak melemah 4% secara mingguan, penurunan mingguan terburuk sejak 2 Februari 2018.

  • Harga emas di pasar spot turun 1% menjadi USD1.295,99 per ounce.

  • Harga emas di pasar berjangka turun USD16,90 menjadi USD1.299,20 per ounce.

(AFP, CNBC , Reuters)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author