Bursa Pagi: Global-Regional Variatif, IHSG Dibayangi Momentum Bearish

Bursa Pagi: Global-Regional Variatif, IHSG Dibayangi Momentum Bearish

Posted by Written on 01 March 2019


Ipotnews - Jelang akhir pekan di awal Maret, Jumat (1/3), bursa saham Asia dibuka cenderung menguat merespon rilis data PDB AS yang melaju melebihi ekspektasi, kendati gagal mendongkrak indeks saham Wall Street. Investor menunggu rilis indeks aktivitas sektor manufaktur China hari ini.

Mengawali perdagangan hari ini, bursa saham Australia dibuka dengan mencatatkan laju indeks ASX 200 sebesar 0,53% didukung kenaikan indeks pada sebagian besar sektor. Indeks berlanjut naik 0,52% (32,20 poin) ke posisi 6.201,20 pada pukul 8:20 WIB.

Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, Jepang bergerak melaju 0,78% (166,08 poin) ke level 21.551,24, setelah dibuka melompat 0,9% didukung kenaikan harga saham Softbank Group lebih dari 1%. Bursa saham Korea Selatan hari ini libur.

Melanjutkan tren kenaikan Asia, indeks Hang Seng, Hongkong dibuka menguat 0,22% (62,19 poin) menjadi 28.695,37 pada pukul 8:40 WIB. Indeks Shanghai Composite, China naik tipis 0,03% di posisi 2.941,69.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) hari ini dihadapkan pada tren pergerakan indeks acuan di bursa saham global dan regional yang bervariasi, setelah gagal membukukan kenaikan untuk mengakhiri perdagangan di bulan Februari. Kemarin IHSG ditutup anjlok 1,26% ke level 6.443.

Sejumlah analis memperkirakan pergerakan IHSG hari ini masih berpeluang melanjutkan kenaikan, didukung rilis data ekonomi yang terkendali. Secara teknikal, beberapa indikator pergerakan indeks memperlihatkan adanya potensi pelemahan lanjutan dengan momentum bearish.

Tim Riset Indo Premier berpendapat, melemahnya indeks di bursa Wall Street seiring nihilnya hasil pertemuan antara Donald Trump dan Kim Jong Un, serta tertekannya nilai tukar rupiah terhadap dolar diprediksi akan menjadi sentimen negatif bagi IHSG . Selain itu terkoreksinya beberapa harga komoditas seperti CPO, nikel dan emas diprediksi akan menambah katalis negatif di pasar. IHSG diprediksi akan bergerak melemah dengan rentang support di level 6.375 dan resistance di 6.505.

Beberapa ekuitas yang direkomendasikan, antara lain;

  • Saham : BBRI (Buy on Weakness, Support: Rp3.800, Resist: Rp3.900), EXCL (Buy on Weakness, Support: Rp2.340, Resist: Rp2.460), AKRA (Buy, Support: Rp5.375, Resist: Rp5.725), BKSL (Buy on Weakness, Support: Rp123, Resist :Rp129)

  • ETF: XISI ( SELL , Support: Rp346, Resist: Rp354), XISR ( SELL , Support: Rp384, Resist: Rp397), 

    XBNI ( SELL , Support: Rp1.072, Resist: Rp1.114).


Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursa Wall Street pagi tadi berakhir melemah, diwarnai rilis data ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan, akhir pertemuan sia-sia antara Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Ekonomi AS kuartal keempat 2018 tumbuh 2,6% (yoy), lebih tinggi dari perkiraan sebesar 2,2%. Sementara itu, penasihat ekonomi Gedung Putih, Larry Kudlow, mengatakan bahwa AS dan China membuat kemajuan "fantastis" dalam negosiasi mereka Menteri Keuangan Steven Mnuchin mengatakan, "Kami membuat banyak kemajuan," tetapi menambahkan bahwa kesepakatan "belum dicapai."

Saham Celgene anjlok 8,7% karena keraguan terhadap pengambilalihan yang diusulkan oleh Bristol-Myers Squibb, sementara saham Bristol-Myers melonjak 1,4%. Emiten-emiten dengan pergerakan saham yang besar setelah mengumumkan pendapatan, antara lain, Booking Holdings anjlok 11%, HP Inc. rontok 17,3% dan Monster Beverage , melambung 8,7%. Tesla Motors naik 1,6%.

  • Dow Jones Industrial Average menyusut 0,27% (-69,16 poin) menjadi 25.916,00.
  • S&P 500 berkurang 0,28% (-7,89 poin) di level 2.784,49.

  • Nasdaq Composite melemah 0,29% (-21,89 poin) di posisi 7.532,53.
Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange anjlok 2,98% menjadi USD25,73.

Bursa saham utama Eropa tadi malam berakhir variatif cenderung menguat, setelah pelaku pasar terus mencermati berita geopolitik yang terjadi di seluruh dunia. Indeks STOXX menguat tipis 0,06% menjadi 372,80. 

Sektor pertambangan dasar mencatatkan kinerja terburuk, anjlok lebih dari 2% tertekan oleh kekhawatiran kelanjutan perundingan dagang AS-China dan rilis data makro terbaru. Indeks aktivitas pabrik China periode Februari jatuh ke level terendah tiga tahun. Pertemuan Trump dan Kim Jong Un di Vietnam berakhir lebih cepat setelah Trump menolak permintaan Kim untuk mengakhiri sanksi terhadap Pyongyang.

Saham Adecco turun 3% setelah melaporkan hasil kuartal keempat. Zalando melambung 23% setelah mengumumkan bahwa mereka memperkirakan pertumbuhan yang solid tahun ini.Saham Rolls-Royce merosot hampir 3% karena membukukan kerugian 2,9 miliar poundsterling untuk 2018. Pemilik British Airways, IAG, mengatakan pendapatan untuk tahun ini akan datar setelah melaporkan laporan keuangan 2018, sahamnya turun 0,2%.

  • FTSE 100 London turun 0,46% (-32,47 poin) menjadi 7.074,73.

  • DAX 30 Frankfurt menguat 0,25% (28,31 poin) ke posisi 11.515,64.

  • CAC 40 Paris naik 0,29% (15,18 poin) ke level 5.240,53.

Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS di pasar uang New York pagi tadi ditutup di level tertinggi sepuluh pekan terhadap yen dan mengurangi pelemahan terhadap euro. Rilis PDB AS menunjukkan pertumbuhan ekonomi kuartal keempat mencapai 2,6% (yoy), lebih baik dari estimasi ekonom, setelah melaju 3,4% sepanjang Juli-September. Secara keseluruhan ekonomi AS tumbuh 2,9% pada 2018, terbaik sejak 2015, dan lebih baik dari 2,2% pada 2017. 

Namun jika dibandingkan dengan pergerakan enam mata uang negara-negara maju, Indeks Dolar AS cenderung bergerak mendatar di posisi 96,175.


Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% ChangeTime (ET)
Euro (EUR-USD)1.13710.00000.00%6:26 PM
Poundsterling (GBP-USD)1.32640.0001+0.01%6:26 PM
Yen (USD-JPY)111.400.01+0.01%6:26 PM
Yuan (USD-CNY)6.69410.0069+0.10%10:29 AM
Rupiah (USD-IDR)14,069.0039.50+0.28%3:59 AM

Sumber : Bloomberg.com, 28/2/2019 (ET)


Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges hingga pagi bergerak berlawanan arah, terpengaruh oleh berita perundingan perdagangan AS-China, perlambatan ekonomi China dan India, dan melonjaknya produksi minyak AS. Aktivitas pabrik di China, importir minyak terbesar di dunia, menyusut untuk bulan ketiga pada Februari karena pesanan ekspor turun dengan laju tercepat sejak krisis keuangan satu dekade lalu. Ekonomi India kehilangan momentum pada kuartal terakhir 2018, meskipun tumbuh 6,6% (yoy) namun paling lambat dalam lima kuartal dan jauh lebih kecil dari perkiraan.

Survei Reuters terhadap 36 ekonom dan analis mengindikasikan pesimisme terhadap prospek kenaikan harga yang signifikan tahun ini, harga rerata perkiraan minyak Brent sebesar USD66,44 pada 2019, sedikit lebih rendah dari estimasi Januari. Produksi minyak AS melonjak lebih dari 2 juta barel per hari (bph) dalam satu tahun terakhir ke rekor 12,1 juta bph, pekan lalu. Impor AS dari Arab Saudi dan Venezuela turun tajam, mengurangi cadangan minyak mentah komersial AS sebesar 8,6 juta barel, pekan lalu.

  • Harga minyak Brent untuk pengiriman April turun 36 sen (-0,5%) menjadi USD66,03 per barel.

  • Harga minyak WTI untuk pengiriman April naik 28 sen (0,5%) menjadi USD57,22 per barel.
Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange pagi tadi juga berakhir melemah, sempat merosot mencapai titik terendah USD1.312,43, terlemah sejak 15 Februari, terpengaruh oleh rilis data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan. Investor mencermati ketegangan antara India dan Pakistan yang terlibat dalam serangan balasan, dan perkembangan perundingan perdagangan AS-China. Emas dianggap sebagai aset yang aman (safe-haven) selama masa ketidakpastian ekonomi atau politik. Harga palladium spot naik 0,82% menjadi USD1.542 per ounce, perak anjlok 0,95% menjadi USD15,58 per ounce, platinum naik 0,75% menjadi USD871 per ounce.

  • Harga emas di pasar spot turun 0,39% menjadi USD1.314 per ounce.

  • Harga emas berjangka juga turun USD5,10 (-0,4%) menjadi USD1.316,1 per ounce.

(AFP, CNBC , Reuters)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author