Saudi Tutup Ladang Minyak Terbesar, Brent Tembus Level Tertinggi 2019

Saudi Tutup Ladang Minyak Terbesar, Brent Tembus Level Tertinggi 2019

Posted by Written on 15 February 2019


Ipotnews - Harga minyak Brent menembus level tertinggi 2019 di atas USD65 per barel, Jumat, didorong pengurangan pasokan yang dipimpin OPEC dan penutupan sebagian ladang minyak lepas pantai terbesar Arab Saudi.

Brent melesat setingginya USD65,10, melampaui tanda USD65 untuk kali pertama tahun ini, sebelum jatuh kembali ke posisi USD64,77 per barel pada pukul 13.23 WIB, demikian laporan Reuters, di Singapura, Jumat (15/2). Itu masih 0,3 persen di atas penutupan terakhir.

Patokan internasional untuk harga minyak itu berada di dekat tingkat tertinggi tiga bulan dan di jalur kenaikan 4,5 persen untuk pekan ini.

Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), berada di posisi USD54,56 per barel, menguat 15 sen, atau 0,3 persen, dari penutupan terakhir.

Pedagang mengatakan harga didorong oleh penutupan sebagian fasilitas Safaniyah Arab Saudi, ladang minyak offshore terbesarnya dengan kapasitas produksi lebih dari 1 juta barel per hari (bph).

Penutupan itu terjadi awal pekan ini, kata seorang narasumber, dan tidak begitu jelas kapan ladang minyak itu akan kembali ke kapasitas penuh.

Penutupan sebagian itu terjadi ketika dilakukan pemangkasan pasokan sukarela yang dipimpin Organisasi Negara Eksportir Minyak ( OPEC ), di mana Arab Saudi sebagai pemimpin de-facto, guna memperketat pasar.

Kartel itu serta beberapa produsen non- OPEC , termasuk Rusia, akhir tahun lalu sepakat untuk memangkas produksi minyak mentah sebesar 1,2 juta barel per hari. Eksportir terbesar Arab Saudi mengatakan akan memangkas lebih banyak, bulan depan, dibandingkan jumlah yang disepakati.

Rusia telah mengurangi produksi minyaknya sebesar 80.000-90.000 barel per hari dari levelnya pada Oktober, tingkat referensi Moskow untuk pengurangannya, kata menteri energi negara itu.

"Rata-rata Brent bisa mencapai USD70 per barel pada 2019, dibantu oleh pemotongan sukarela (Saudi, Kuwait, UEA) dan pemangkasan terpaksa (Venezuela, Iran) dalam pasokan OPEC ," ujar Bank of America Merrill Lynch.

Bank tersebut juga memperkirakan "penurunan 2,5 juta barel per hari dalam pasokan OPEC dari kuartal keempat 2018 hingga kuartal keempat 2019".

Meski pasar relatif bullish pada perdagangan Jumat, namun ada tanda-tanda perlambatan permintaan.

"Musim maintenance akhirnya terjadi pekan ini, dengan pemanfaatan kilang (AS) turun tajam 480 basis poin (week-on-week) menjadi 85,9 persen," ungkap bank investasi Amerika, Jefferies, Jumat.

Hambatan pertumbuhan ekonomi juga menjadi perhatian, dengan tanda-tanda perlambatan sekarang memasuki Eropa, Asia dan Amerika Serikat.

"Pandangan makroekonomi kami tetap sangat bearish," ucap pialang komoditas Marex Spectron.
Lonjakan output Amerika juga dapat merusak upaya OPEC untuk mengetatkan pasar.

Produksi minyak mentah AS meningkat lebih dari dua juta barel per hari tahun lalu, menjadi 11,9 juta barel per hari, menjadikan Amerika Serikat produsen minyak terbesar di dunia.

Sebagian besar analis memperkirakan output AS akan segera melampaui 12 juta barel per hari, dan mungkin bahkan menembus 13 juta barel per hari pada akhir tahun.

Melambungnya pasokan shale-oil AS, meningkatnya kapasitas cadangan OPEC dan stagnasi konsumsi bahan bakar berarti prospek harga minyak jangka menengah lebih rendah, kata BoAML.

"Kami melihat risiko penurunan yang berkembang terhadap harga minyak jangka menengah karena meningkatnya pasokan AS dan konsumsi yang lebih lambat," kata bank tersebut. Diperkirakan Brent berkisar antara USD50 dan USD70 per barel dalam lima tahun mendatang. (ef)

Sumber : Admin


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author