Bursa Siang: Neraca Perdagangan Defisit, IHSG Menurun

Bursa Siang: Neraca Perdagangan Defisit, IHSG Menurun

Posted by Written on 15 February 2019


Ipotnews - Tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) berlanjut pada akhir perdagangan sesi pagi hari Jumat (15/2). IHSG melemah -0,34 persen (-22 poin) ke level 6.398.

Indeks LQ45 -0,47% ke 996. Indeks IDX30 -0,49% ke level 547. IDX80 -0,47% ke 142. Indeks JII -0,41% ke 693. Indeks Kompas100 -0,45% ke 1.300. Indeks Sri Kehati -0,54 persen ke 386 dan Indeks SMInfra18 -0,21 persen ke level 324.

Saham-saham teraktif: EXCL,BMTRBHITTLKMISATBUMIKAEF

Saham-saham top gainers: EXCLMNCNBRPTERAAMEDCTLKMGGRM

Saham-saham top losers: BBNIBMRIAKRABBCAELSASRILINTP

Nilai transaksi mencapai Rp4,16 triliun. Volume trading sebanyak 76,38 juta lot saham. Investor asing membukukan jual bersih -Rp42,27 miliar.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan neraca perdagangan periode bulan Januari 2019 tercatat defisit sebesar USD1,16 miliar baik secara year on year (YoY) ataupun secara month to month (m to m). Defisit perdagangan ini karena nilai ekspor jauh lebih rendah dibandingkan nilai impor.

Kepala BPS, Suhariyanto, mengatakan nilai ekspor pada Januari 2019 kemarin sebesar USD13,87 miliar. 

Sedangkan nilai impor pada periode tersebut sebesar USD15,03 miliar. Untuk nilai ekspor tercatat mengalami penurunan sebesar 3,24 persen m to m dan dibandingkan pada periode yang sama tahun 2018 mengalami penurunan sebesar 4,70 persen.

Nilai tukar rupiah melemah -0,24% ke posisi Rp14.124 terhadap dolar AS. (11:30 am).


Bursa Asia

Market saham Asia melemah pada perdagangan sesi pagi hari Jumat (15/2) seiring sentimen pelemahan penjualan ritel di AS sehingga meningkatkan keraguan baru tentang kekuatan ekonomi AS mengimbangi optimisme kesepakatan konflik dagang AS dan China.

MSCI Asia Pacific Index (tolok ukur bursa saham regional) bergerak melemah 0,8 persen.

Data penjualan ritel AS turun 1,2 persen di periode Desember. Penurunan ini adalah terburuk sejak September 2009. Analis pada lembaga State Street (Tokyo), Kazushige Kaida mengaku data ritel AS tersebut mengejutkan.

"Pelemahan luar biasa tetapi tampak sebagian disebabkan faktor government shutdown meskipun sampai batas apa dampaknya tidak jelas," ujarnya. Akan tetapi kata dia terlalu dini berpikir ekonomi AS telah kehilangan power. Menurutnya masih harus melihat data lainnya dalam beberapa bulan ke depan.

Di market Tokyo, Indeks Nikkei 225 melaju negatif saat aktivitas trading sesi pagi sedang berlangsung. Indeks Topix drop 0,67 persen. Harga saham emiten unggulan yaitu Softbank Group tumbang 0,6 persen.

Pergerakan negatif terjadi di bursa Korsel seiring pelemahan Indeks Kospi sebesar 1,05 persen. Saham unggulan di bursa Korsel seperti Samsung Electronics dan SK Hynix melemah masing-masing 2 persen.

Pasar saham China berada di zona negatif. Indeks Shenzhen Component drop 0,102 persen. Sementara Indeks Shanghai Composite juga melemah. Di pasar saham Hong Kong, Indeks Hang Seng berkutat di area negatif.

Pergerakan negatif market China terjadi setelah data inflasi periode Januari di China meleset dari ekspektasi, naik sebesar 1,7 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Konsensus para analis inflasi tersebut diperkirakan 1,9 persen.

Sedangkan Indeks ASX200 di bursa Australia bergerak naik sebesar 0,26 persen . Sektor energi yang melaju 0,83 persen seiring kenaikan harga minyak mentah global.

Di pasar finansial, Indeks dolar AS ke level 97,067 atau melemah dibanding posisi sebelumnya di level 97,2. 

Nilai tukar yen di posisi 110,34 terhadap dolar AS menguat dibanding posisi sesi kemarin di level 111. Dolar Australia lesu pada posisi $0,7082 dari sesi sebelumnya di level $0,7107.

Indeks Nikkei 225 (Jepang) -1,17% ke level 20.892 (11:30 am)

Indeks Hang Seng (Hong Kong) -1,64% di posisi 27.964. (break)

Indeks Shanghai (China) -0,62% ke posisi 2.702. (break)

Indeks Straits Time (Singapura) -0,38% ke 3.240. (11.30 am)


Minyak

Harga minyak rally pada perdagangan sesi pagi, hari Jumat (15/2) di pasar komoditas Asia. Posisi harga minyak Brent di bursa berjangka ke level tertinggi di tahun 2019 di tengah sanksi AS terhadap ekspor minyak Venezuela dan Iran serta pemangkasan suplai yang dimotori oleh OPEC.

Minyak WTI naik 33 sen ke harga USD54,74 per barel. Sedangkan minyak Brent juga melaju 0,5 persen sen ke harga USD64,91 per barel (pukul 01:43 GMT). Harga minyak Brent sempat ke level USD65 per barel untuk kali pertama di tahun 2019.


(cnbc/reuters/awj/idx)

Sumber : admin


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author