Bursa Pagi: Wall Street dan Asia Naik, IHSG Melaju Di Area Jenuh Beli

Bursa Pagi: Wall Street dan Asia Naik, IHSG Melaju Di Area Jenuh Beli

Posted by Written on 18 January 2019


Ipotnews - Jelang akhir pekan, Jumat (18/1), bursa saham Asia dibuka melaju melanjutkan kenaikan indeks acuan di bursa saham Wall Street yang diwarnai isu usulan Menteri Keuangan Steven Mnuchin untuk menghapus tarif impor AS terhadap produk China, demi mendapatkan konsesi yang lebih baik dalam lanjutan perundingan dengan Beijing.

Perdagangan saham hari ini dibuka dengan mencatatkan kenaikan indeks ASX 200, Australia sebesar 0,52%, didukung laju harga saham sektor keuangan sebesar 0,65% pada sesi pembukaan. Kenaikan indeks berlanjut mengut 0,57% (33,20 poin) ke posisi 5.883,30 pada pukul 8:25 WIB.

Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, Jepang bergerak melaju 0,85% (172,70 poin) ke level 20.574,97, setelah dibuka melompat 0,9% meskipun yen bergerak menguat terhadap dolar AS. Indeks Kospi, Korea Selatan dibuka menguat 0,37% dan berlanjut naik 0,38% menjadi 2.115,12.

Melanjutkan tren kenaikan Asia, indeks Hang Seng, Hongkong dibuka naik 0,89% (237,81 poin) ke level 26.993,44 pada pukul 8:35 WIB. Indeks Shanghai Composite, China naik 0,32% menjadi 2.567,74.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pagi ini dihadapkan pada tren penguatan indeks acuan di bursa saham global dan regional, setelah berhasil mengakhiri sesi perdagagangan kemarin dengan naik tipis 0,16%, di posisi 6.423. Sejumlah analis memperkirakan, pergerakan IHSG hari ini berpeluang melanjutkan tren positif didukung capital inflow, meski dibayangi aksi ambil untuk jelang akhir pekan. Secara teknikal, beberapa indikator pergerakan indeks mengindikasikan adanya tekanan koreksi jangka pendek di area jenuh beli.

Tim Riset Indo Premier berpendapat, berlanjutnya penguatan indeks bursa Wall Street seiring dengan optimisme investor terkait perudingan dagang antara Amerika dan China dan naiknya harga CPO serta batu bara diprediksi akan menjadi sentimen positif untuk indeks harga saham gabungan. IHSG diprediksi akan melanjutkan penguatannya dengan rentangsupport di level 6.385 dan resistance di 6.455.

Beberapa ekuitas yang direkomendasikan, antara lain;

  • Saham : INTP (Buy, Support: Rp17.900, Resist: Rp19.100), UNVR (Buy, Support: Rp48.225, Resist: Rp49.500), INDF (Buy, Support: Rp7.400 Rp, Resist: Rp7.625), LSIP (Buy, Support :Rp1.300, Resist :Rp1.340).

  • ETF : XPFT (Buy, Support: Rp556, Resist: Rp561), XMTS (Buy, Support: Rp543, Resist: Rp548), 

    XPLC (Buy, Support: Rp531, Resist: Rp537).


Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursa Wall Street pagi tadi ditutup menguat didorong laporan bahwa Washington sedang mempertimbangkan kemungkinan menurunkan kembali beberapa tarif impor terhadap China. Menteri Keuangan Steven Mnuchin dikabarkan, mengusulkan pencabutan beberapa atau semua tarif impor produk China sebagai cara untuk meyakinkan pasar dan meningkatkan kemungkinan kesepakatan perdagangan yang lebih besar. Usulan tersebut merupakan bagian dari perdebatan kebijakan dengan Perwakilan Dagang AS, Robert Lighthizer, yang lebih hawkish terhadap China.

Saham Boeing dan Caterpillar melompat sedikitnya 2%, karena bergantung pada China untuk porsi penjualan yang signifikan. Di sisi lain, Morgan Stanley merosot 4,4% setelah melaporkan laba kuartal keempat sebesar 80 sen per saham, sembilan sen lebih rendah dari ekspektasi analis. Saham PPG melambung 4,8 persen setelah melaporkan laba kuartal keempat lebih baik dari perkiraan.

  • Dow Jones Industrial Average naik 0,67% (162,94 poin) menjadi 24.370,10.

  • S&P 500 melaju 0,76% (19,86 poin) ke level 2.635,96.

  • Nasdaq Composite meningkat 0,71% (49,77 poin) ke posisi 7.084,46.
Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange naik 0,75% menjadi USD26,97.

Bursa saham utamaEropa tadi malam berakhir cenderung melemah, di tengah meningkatnya ketidakpastian politik di Inggris dan kekhawatiran mengenai perlambatan ekonomi China. Indeks STOXX 600 naik tipis 0,04% di posisi 350,73, dipimpin kejatuhan harga saham sektor perbankan sebesar 1,2%. Data yang dirilis Badan Statistik Uni Eropa itu menunjukkan inflasi melorot jauh dari target Bank Sentral Eropa, tetapi mendekati 2%, menyulitkan kemungkinan kenaikan suku bunga selama beberapa bulan mendatang. Pasar menunggu perkembangan terbaru seputar Brexit, setelah PM Inggris Theresa May selamat dari mosi tidak percaya.

Bank Prancis, Societe Generale, rontok lebih dari 6% karena melaporkan hasil kuartal keempat akan terkena dampak negatif kondisi pasar yang sulit. Saham media ITV, Inggris juga terpuruk lebih dari 6% setelah Bank of America Merrill Lynch memangkas rekomendasi sahamnya menjadi "underperform" dari "buy." Sebaliknya perusahaan perangkat lunak Sage, Inggris melonjak lebih dari 5% karena berhasil mempertahankan proyeksi setahun penuh.

  • FTSE 100 London melorot 0,40% (-27,76 poin) menjadi 6.834,92.

  • DAX 30 Frankfurt menyusut 0,12% (-12,26 poin) di posisi 10.918,62.

  • CAC 40 Paris turun 0,34% (-16,37 poin) di level 4.794,37.

Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York pagi tadi berakhir relatif stabil. Dolar sempat menguat merespon kabar bahwa Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mempertimbangkan pelonggaran tarif impor produk China. Namun Departemen Keuangan AS menjawab bahwa tidak ada keputusan baru tentang tarif impor China. Poundsterling melesat seiring munculnya harapan referendum kedua Brexit. 

Euro melorot karena data inflasi yang semakin jauh dari target Bank Sentral Eropa, dan perlambatan 
pertumbuhan ekonomi Jerman. Indeks dolar, ukuran greenbackterhadap enam mata uang negara maju menguat tipis 0,02% menjadi 96,074.


Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% ChangeTime (ET)
Euro (EUR-USD)1.13900.0001+0.01%6:14 PM
Poundsterling (GBP-USD)1.29860.000.00%6:14 PM
Yen (USD-JPY)109.11-0.15-0.14%6:14 PM
Yuan (USD-CNY)6.77640.0196+0.29%10:28 AM
Rupiah (USD-IDR)14,191.5064.00+0.45%3:57 AM

Sumber : Bloomberg.com, 17/1/2019 (ET)


Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges hingga pagi bergerak melemah, tertekan kekhawatiran melonjaknya produksi minyak AS dan perlambatan permintaan global karena sengketa dagang AS-China. 

Laporan bulanan OPEC memangkas perkiraan permintaan rata-rata untuk minyak mentah pada 2019 menjadi 30,83 juta barel per hari, turun 910.000 bph dari rata-rata 2018, dan produksi Desember lalu turun 751.000 bph.

Namun output AS pada pekan lalu melonjak mendekati 12 juta bph. Data Badan Informasi Energi mengungkapkan, produksi AS naik 2,4 juta bph sejak Januari 2018 dan stok minyak mentah serta produk olahan meningkat tajam. Analis mengatakan Brent diperdagangkan di kisaran USD60 dan WTI di kisaran USD50 karena kekhawatiran perang dagang AS-China yang berkelanjutan dan melemahnya prospek ekonomi China.

  • Harga minyak mentah berjangka WTI turun 24 sen (-0,5%) menjadi USD52,07 per barel.

  • Harga minyak mentah berjangka Brent turun 14 sen menjadi USD61,18 per barel.

Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange pagi tadi berakhir melemah, tertekan aprsiasi dolar AS dan data ketenagakerjaan mingguan AS yang lebih baik dari perkiraan. Jumlah klaim tunjangan pengangguran AS pekan lalu di luar dugaan menurun, menunjukkan kekuatan pasar tenaga kerja yang berkelanjutan yang akan terus menopang perekonomian. Tapi penutupan sebagian aktivitas pemerintah AS yang berkepanjangan, kemungkinan jeda dalam siklus kenaikan suku bunga Federal Reserve, dan kekhawatiran seputar Brexit, masih menopang harga emas.

Harga palladium di pasar spot melonjak 2,3 persen menjadi USD1.390 per ounce setelah sempat mencapai level tertinggi sepanjang masa USD1.434,50. Menambah daya tarik palladium adalah inisiatif kebijakan untuk membantu mendukung permintaan yang diungkapkan oleh China, pasar otomotif terbesar, tutur Steel.

  • Harga emas di pasar spot turun 0,11% menjadi USD1.292,03 per ounce.

  • Harga emas berjangka juga turun USD1,50 menjadi USD1.292,30 per ounce.

(AFP, CNBC , Reuters)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author