Setelah IPO, PEHA Siapkan Rights Issue

Setelah IPO, PEHA Siapkan Rights Issue

Posted by Written on 31 December 2018


Sukses mencatatkan saham perdananya di pasar modal, PT Phapros Tbk (PEHA) langsung tancap gas memacu ekspansi bisnsnya. Bahkan emiten farmasi plat merah ini memiliki beberapa aksi korporasi yang bakal digelar pada tahun depan. Dimana perseroan berencana menggelar rights issue dengan target dana antara Rp1 triliun—Rp2 triliun pada semester II/2019.

Direktur Keuangan Phapros, Heru Marsono mengatakan, perseroan berencana melakukan rights issue dengan melepas 20%-25% saham baru. Aksi korporasi ini diperkirakan akan dilakukan pada semester II/2019.”Saat ini masih dalam kajian untuk rights issue dan aksi korpoasi ini diperlukan karena memang kami perlu dana besar,”ujarnya di Jakarta.

Heru mengungkapkan, aksi rights issue perlu dilakukan karena perseroan akan melakukan sejumlah ekspansi, seperti mengakuisisi perusahaan farmasi dan perusahaan makanan minuman (mamin), serta pengembangan bisnis alat kesehatan dan kecantikan. Pada 2019, perusahaan mengalokasikan belanja modal Rp350 miliar. Sumber pendanaan selain melalui rights issue juga berasal dari kas internal dan pinjaman perbankan.

Sementara Direktur Utama Phapros, Barokah Sri Utami mengatakan, setelah melakukan IPO pemegang saham perseroan semakin mengetahui kegiatan investasi di pasar modal. Dengan demikian, investor semakin tertarik dengan aksi korporasi PEHA selanjutnya. “Pemegang saham kami belum sepenuhnya mengatahui jual beli saham, jadi biar ada waktu pembelajaran,” imbuhnya.

Disampaikannya, perseroan sudah menyiapkan dana untuk melunasi Medium Term Notes (MTN) senilai Rp200 miliar yang jatuh tempo pada 30 Maret 2019. Surat utang tersebut memiliki kupon tetap 9,5% dengan jangka pembayaran bunga tiap tiga bulan. Untuk menghadapi fluktuasi rupiah terhadap dolar AS, perusahaan juga berencana memperluas pasar ekspor ke Myanmar dan Nigeria, dari sebelumnya hanya Kamboja dan Filipina. Di Nigeria, perusahaan sudah mendapatkan izin untuk menjual produk Antimo.”Memang porsi ekspor masih kecil di bawah 1% dari omzet, tapi kami akan pacu sebagai upaya natural hedging,” ujarnya.

Diharapkan pada tahun depan kontribusi penjualan dari pasar ekspor dapat mencapai 2%. Menurut Emmy, PEHA akan menambah produksi kurang dari 10% seiring dengan perluasan penetrasi pasar mancanegara. Saat ini, kapasitas produksi produk tablet mencapai 3 miliar per tahun. Pada debut perdana di pasar modal, saham PEHA dibuka pada level Rp1.800/saham, naik Rp600 atau 50% dari harga penawaran Rp1.200.

Phapros merupakan anak perusahaan BUMN PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). Saham perusahaan tercatat ditransaksikan sebanyak 4.871 kali, dengan volume 101 ribu lot. Direktur Utama RNI, B Didik Prasetyo mengatakan, IPO menjadi bagian strategis bagi perusahaan mendapatkan pendanaan lebih besar ke depannya.”Menjadi peluang agar dapat membuka akses sumber pendanaan pasar modal yang lebih menguntungkan,” ungkapnya.

Kedepan, lanjutnya, RNI tengah mendekati Kementerian Badan Usaha Milik Negera (BUMN) untuk mengantungi ijin penggalangan dana melalui initial public offering (IPO) salah satu anak usahanya yang bergerak dibidang produksi gula, yakni PT PG Rajawali I.”Tahun depan, RNI lagi minta ijin untuk IPO PG Rajawali I Surabaya,” kata Didik.

Dia menjelaskan, saat ini, manajemen PG Rajawali I tengah melakukan persiapan, seperti penunjukan penjamin pelaksana emisi efek dan profesi penunjang lainnya.”Jika diijinkan oleh Kementerian BUMN, kami harapkan IPO saat proses politik (Pilpres) selesai, jadi semester II 2019 dan bersamaan semester II telah mulai giling gula sehingga sudah bukukan pendapatan,”tuturnya.

Dengan dana hasil IPO tersebut, PG Rajawali I akan dapat mengembangkan produk hilirisasi tebu. Untuk diketahui, PG Rawajali I memiliki lahan tanam 25 ribu hektar hingga 30 ribu hektar dengan dua pabrik di Malang dan Madiun.“Ini hanya pabrik gula, tapi kedepannya, bukan hanya gula saja tapi produk turunan lainnya,” kata dia.


comments

logo-senokuncoro

Seno Kuncoro

author