Bursa Pagi: Asia Dibuka Mixed, IHSG Cenderung Bergerak di Rentang Konsolidasi

Bursa Pagi: Asia Dibuka Mixed, IHSG Cenderung Bergerak di Rentang Konsolidasi

Posted by Written on 17 December 2018


Ipotnews - Awali pekan ini, Senin (17/12), bursa saham Asia dibuka bervariasi, berusaha mengabaikan aksi jual yang melanda Wall Street akhir pekan lalu. Bank of International Settlements (BIS) memperingatkan, tekanan yang berlangsung di bursa saham global belakangan ini merupakan sinyal akan adanya kekacauan. Normalisasi kebijakan moneter cenderung akan memicu aksi jual yang membingungkan dalam waktu dekat.

Perdagangan saham hari ini diawali dengan mencatatkan pergerakan indeks ASX 200, Australia yang cenderung mendatar, naik tipis 0,03% setelah dibuka melemah. Harga saham sektor keuangan anjlok 1%. Pergerakan indeks berlanjut positif 0,01% (0,60 poin) di posisi 5.60,60 pada pukul 8:25 WIB.

Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, Jepang bergerak naik 0,42% (90,37 poin) menjadi 21.465,29, setelah dibuka melaju 0,47%, di tengah pelemahan yen. Indeks Kospi, Korea Selatan, dibuka turun 0,15% dan berlanjut melemah 0,03% di level 2.068,70.

Indeks Hang Seng, Hongkong bergerak melemah 0,02% pada pukul 8:50 WIB, dan indeks Shanghai Composite, China turun 0,32% ke level 12.585,47.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pagi ini dihadapkan pada tren pergerakan indeks saham acuan global dan regional yang bervariasi cenderung melemah, setelah gagal mempertahankan manuvernya pada akhir pekan lalu dan ditutup melemah 0,13% menjadi 6.169. Memasuki pekan terakhir libur akhir tahun, bursa saham global biasanya mengalami Santa Reli, terutama di bursa Wall Street.

Tim Riset Indo Premier berpendapat, melemahnya indeks bursa global yang di dorong oleh kekhawatiran akan adanya perlambantan ekonomi dan melemahnya nilai tukar rupiah diprediksi akan menjadi sentimen negatif di pasar. Sementara itu investor juga akan mencermati data neraca perdangangan di bulan November yang menurut konsensus akan membukukan penurunan defisit menjadi USD0,83 miliar dari sebelumnya defisit USD1,82 miliar. IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung menguat dengan rentang support di level 6.140 dan resistance di 6.200.

Beberapa ekuitas yang perludiperhatikan, antara lain;

  • Saham : BBNI (Buy, Support: Rp8.475, Resist: Rp8.700), BBCA (Buy, Support: Rp25.575, Resist: Rp26.025), PPRO (Buy on Weakness, Support: Rp130, Resist: Rp137), BRPT (Buy on Weakness, Support: Rp2.130, Resist: Rp2.180)

  • ETF : XBLQ ( SELL , Support: Rp491, Resist: Rp497), XIJI ( SELL , Support: Rp698, Resist: Rp706), 

    XPSG ( SELL , Support: Rp447, Resist: Rp451)


Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursa Wall Street akhir pekan lalu ditutup dengan membukukan penurunan tajam, karena meningkatnya kekhawatiran investor akan kemungkinan perlambatan ekonomi global. Output industri China di periode November tumbuh 5.4%, di bawah ekspektasi. Sementara penjualan ritel mengalami masa paling buruk dalam 3 tahun terakhir. Indeks PMI zona euro IHS Markit periode Desember turun menjadi 51,7. 

Sebaliknya, penjualan ritel AS meningkat 0,2%, dipimpin oleh kenaikan transaksi toko daring (online), dan produksi industri naik 0,6%, mengalahkan ekspektasi pasar.

Analis mengatakan pasar global cenderung menghindari risiko menjelang libur panjang akhir tahun. Penguatan indeks dolar mendorong investor untuk lebih banyak memegang dana tunai. Saham Johnson & Johnson, terpenggal lebih dari 10% karena diberitakan telah mengetahui adanya kandungan asbes dalam produksi bedak bayinya selama beberapa dekade. Saham Apple anjlok 3,2% setelah analis memangkas estimasi pengiriman iPhone hingga 20%.

  • Dow Jones Industrial Average terjungkal 2,02% (-496,87 poin) ke posisi 24.100,51.

  • S&P 500 terpangkas 1,91% (-50,59 poin) menjadi 2.599,95.

  • Nasdaq Composite terjerembab 2,26% (-159,67 poin) ke level 6.910,66 poin.
Perdagangan saham di bursa utama Eropa akhir pekan lalu, juga berakhir di zona merah, seiring memburuknya indikator ekonomi yang memicu kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global. Indeks manufaktur Eropa turun menjadi 51,7,posisi terendah dalam 4 tahun terakhir. Data penjualan ritel China periode November di posisi terburuk sejak 2013, dan data output industri meleset dari estimasi sehingga memunculkan kekhawatiran bahwa permintaan domestik China melemah.

Indeks Stoxx 600, anjlok 0,63% menjadi 347,21, dipimpin penurunan harga saham Plastic Omnium, Prancis sebesar 7,04% setelah mengalami penurunan rating. Harga saham sektor otomotif sebesar 1,29%, dan sektor industri dasar drop 1,16%. Penjualan mobil Volkswagen, Renault dan Fiat Chrysler selama November rontok hinga 8,1%.

  • FTSE 100 London turun 0,47% (-32,33 poin) menjadi 6.845.

  • DAX 30 Frankfurt melorot 0.54% (-58,93 poin) ke posisi 10.865,77

  • CAC 40 Paris terpangkas 0.88% (43,22 poin) ke level 4.853,70.

Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York akhir pekan lalu ditutup menguat, ke level tertinggi 19 bulan, di tengah pelemahan poundsterling. Para tader mengkhawatirkan upaya PM InggrisTheresa May untuk mendapatkan persetujuan parlemen Inggris untuk penyelesaian kesepakatan Brexit dengan Uni Eropa.Euro dan yuan melemah karena data ekonomi mengindikasikan penurunan pertumbuhan. Di lain pihak, perbaikan data penjualan ritel domestik dan output industri. Namun penguatan dolar tertahan oleh kemungkinan terhentinya aktivitas sebagian pemerintahan AS, karena penolakan anggota parlemen untuk mendanai tembok perbatasan. Indeks dolar AS naik 0,39% menjadi 97,443.


Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% Change
Euro (EUR-USD)1.1306-0.0055-0.48%
Poundsterling (GBP-USD)1.2584-0.0059-0.47%
Yen (USD-JPY)113.39-0.24-0.21%
Yuan (USD-CNY)6.90770.0261+0.38%
Rupiah (USD-IDR)14,581.3084.80+0.58%

Sumber : Bloomberg.com, 14/12/2018 (ET)


Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges akhir pekan lalu ditutup turun, terpukul oleh tanda-tanda kemungkinan melemahnya ekonomi global. Serangkaian data ekonomi Eropa dan China yang relatif suram, menenggelamkan pasar ke dalam situasi "risk aversion" atau penghindaran risiko yang lebih dalam. 

Kekhawatiran akan kelebihan pasokan terus berlanjut, karena pertumbuhan permintaan global tahun depan diperkirakan akan tetap lamban. Badan Energi Internasional (IEA) mempertahankan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global pada November lalu sebesar 1,4 juta barel per hari, sedikit lebih tinggi dari perkiraan pertumbuhan sebesar 1,3 juta barel per hari tahun ini.

  • Harga minyak mentah berjangka WTI turun USD1,38 (-2,60%) menjadi USD51,20 per barel.

  • Harga minyak mentah berjangka Brent turun USD1,33 (-2,16%) menjadi USD60,12 per barel.
Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange akhir pekan lalu ditutup di posisi terendah selama sepekan, tertekan oleh penguatan dolar jelang rapat kebijakan Federal Reserve AS, pekan depan. Kondisi ekonomi China dan zona euro yang melemah, mendorong investor untuk menghindari risiko lebih besar dan mengalihkan dananya ke dolar AS.

  • Harga emas di pasar spot turun 0,3% menjadi USD1.238 per ounce.

  • Harga emas untuk pengiriman Februari drop 0.4% ke level USD1.242 per ounce. Saham Plstic Omnium terpenggal hingga 7,04% setelah mengalami penurunan rating.

(AFP, CNBC , Reuters)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author