Bursa Pagi: Asia Dibuka Anjlok, IHSG Berisiko Terkoreksi

Bursa Pagi: Asia Dibuka Anjlok, IHSG Berisiko Terkoreksi

Posted by Written on 10 December 2018


Ipotnews - Awali pekan ini, Senin (10/12), bursa saham Asia dibuka menurun tajam, terpengaruh oleh rilis data perdagangan China periode November yang jauh di bawah ekspektasi, melanjutkan tren kejatuhan indeks saham acuan di bursa Wall Street akhir pekan lalu. Ekspor China tumbuh 5,4% (ekspektasi 10%) dan impor naik 3% (ekspektasi 14,5%.)

Perdagangan hari ini dibuka dengan mencatatkan kejatuhan indeks ASX 200 , Australia sebesar 1,71% dengan menempatkan semua indeks sektoral di zona merah. Harga saham sektor keuangan terjungkal 2,35%. 

Penurunan indeks berlanjut 1,57% (-89,00 poin) ke level 5.592,50 pada pukul 8:10 WIB.

Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, Jepang terjungkal 2,01% (-435,34 poin) ke level 21.243,34, setelah dibuka anjlok lebih dari 2%. Saham Japan Display terpenggal lebih dari 9% setelah mengumumkan rencana pemangkasan produksi. Indeks Kospi, Korea Selatan, juga dibuka terperosok 1,45% dan berlanjut merosot 1,22% ke posisi 2.050,48.

Melanjutkan tren kejatuhan Asia, indeks Hang Seng, Hongkong dibuka turun 0,86% (-224,42 poin) menjadi 25.839,34 pada pukul 8:35 WIB. Indeks Shanghai Composite, China juga dibuka turun 0,45% ke posisi 2.594,05.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pagi ini dihadapkan pada tren pelemahan Asia, melanjutkan tren pelemahan global akhir pekan lalu, namun berhasil dihindari IHSG dengan ditutup menguat 0,18% ke level 6.126. Sejumlah analis memperkirakan, perdagangan saham hari ini masih berpeluang menguat, ditopang capital inflow dan rilis sejumlah data ekonomi RI yang positif. Secara teknikal, indeks berpotensi melanjutkan penguatan di area jenuh beli, sehingga berisiko terkoreksi.

Tim Riset Indo Premier berpendapat, melemahnya indeks di bursa global dan regional seiring dengan masih adanya kekhawatiran atas hubungan dagang antara Amerika dengan China diprediksi menjadi sentimen negatif di pasar. Selain itu berlanjutnya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar diprediksi menambah katalis negatif bagi indeks harga saham gabungan. Di sisi lain menguatnya harga minyak mentah diperkirakan menjadi katalis positif di pasar. IHSGdiprediksi bergerak bervariasi cenderung melemah dengan rentang support di level 6.095 dan resistance di 6.155.

Beberapa ekuitas yang direkomendasikan antara lain;

  • Saham : ASII (Buy, Support: Rp8.050, Resist: Rp8.375), CTRA (Buy, Support: Rp1.050, Resist: Rp1.125), 

    ACES (Buy, Support: Rp1.500, Resist: Rp1.595), PTPP (Buy, Support: Rp1.870, Resist: Rp1.990)

  • ETF : XPDV (Buy, Support: Rp488, Resist: Rp492), XISC (Sell on Strength, Support: Rp696, Resist: Rp704), XIIF (Buy, Support: Rp671, Resist: Rp689)

Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursaWall Streetakhir pekan lalu ditutup dengan membukukan penurunan tajam, terpengaruh oleh rilis sejumlah data ekonomi yang lebih lemah dari perkiraan. Aksi jual dimotori saham-saham teknologi, karena kekhawatiran akan perang dagang AS-China serta spekulasi kenaikan suku bunga yang mengejutkan. Saham Apple ajlok 3,57% setelah Morgan Stanley memangkas target harganya. Harga saham Netflix rontok 6,27% dan Amazon anjlok 4,12%. Saham Deere dan Boeing turun 4,6% dan 2,6%, Caterpillar drop 3,75%. Koreksi juga terjadi pada saham-saham perbankan. JP Morgan, Bank of America dan Citigroup melemah sedikitnya di atas 1 persen.

Rilis data pertumbuhan lapangan pekerjaan AS periode November, memperkuat kekhawatiran kemungkinan perlambatan ekonomi. Total pekerjaan non-pertanian meningkat sebesar 155.000, jauh di bawah perkiraan 190.000, dan lebih rendah dari rata-rata bulanan 170.000 selama tiga bulan terakhir. Tingkat pengangguran tidak berubah di level 3,7%.

  • Dow Jones Industrial Average anjlok 2,24% (-558,72 poin) ke posisi 24.388,95.

  • S&P 500 terperosok 2,33% (-62,87 poin) ke level 2.633,08.

  • Nasdaq Composite terpenggal 3,05% (-219,01 poin) menjadi 6.969,25 poin.
Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange turun 1,69% menjadi USD24,42.

Bursa saham utamaEropa akhir pekan lalu, ditutup menguat, menutup koreksi signifikan selama tiga hari terakhir. Namun secara mingguan, pasar saham Eropa membukukan koreksi terburuk dalam 2 bulan terakhir. 

Indeks Stoxx 600 berakhir naik 0,6% menjadi 345,45,ditopang kenaikan harga saham di sektor migas, seiring reli harga minyak setelah OPEC dan Rusia sepakat memangkas produksi minyak lebih banyak dari perkiraan, mengabaikan tekanan dari Presiden AS Donald Trump. Indeks nyaris melemah di menit terakhir menjelang penutupan pasar seiring penurunan saham teknologi di bursa Wall Stree.

Saham Amer Sports memimpin kenaikan 9% setelah motor Anta Sports (China) merilis pembelian sahamnya senilai 4,6 miliar euro. Sebaliknya, Fresenius membukukan penurunan terbesar 8,5%. Saham Sabadell (Spanyol) terkoreksi 0,2%. Associated British Foods anjlok 4,6%. Harga saham teknologi Eropa menguat 2%; saham Nokia dan Ericsson melompat lebih dari 3%.

  • DAX 30 Frankfurt turun 0,21% (-22,89 poin) menjadi 10.788,09.

  • FTSE 100 London melaju 1,10% (74,06 poin) ke level 6.778,11.

  • CAC 40 Paris naik 0,68% (32,67 poin) ke posisi 4.813.

Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York mengakhiri pekan lalu dengan meluncur turun, tertekan oleh rilis data lapangan kerja non pertanian AS periode November yang naik 155.000, namun lebih rendah dari perkiraan. Sebaiknya, tingkat upah tumbuh melebihi perkiraan. Pasar berspekulasi, hasil tersebut akan mendorong The Fed untuk memperlambat laju pengetatan moneter. Greenback turun 0,15 persen pasca rilis data tersebut. OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan melambat menjadi 3,5% pada 2019 dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,7%. Yield surat utang pemeritah USD (US Treasury) tenor 10 tahun di level 2,896% setelah jatuh ke posisi terendah sejak akhir Agustus. Indeks dolar AS terkoreksi 0,31% menjadi 96,514.


Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% Change
Euro (EUR-USD)1.13790.0005+0.04%
Poundsterling (GBP-USD)1.2726-0.0055-0.43%
Yen (USD-JPY)112.690.01+0.01%
Yuan (USD-CNY)6.8743-0.0084-0.12%
Rupiah (USD-IDR)14,480.00-40.00-0.28%
Sumber : Bloomberg.com, 7/12/2018 (ET)


Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges akir pekan lalu bergerak menguat, setelah OPEC , Rusia dan beberapa negara produsen minyak mencapai kesepakatan pemotongan produksi hingga 1,2 juta barel per hari selama 6 bulan pertama tahun 2019. Kesepakatan baru tersebut muncul pada saat harga minyak mendekati titik harga terburuk sejak krisis 2008, ambruk 30% sejak Oktober, karena kekhawatiran over supply serta pelemahan pasar global. Wood Mackenzie memproyeksikan pemangkasan produksi akan mengetatkan pasar pada 3 bulan pertama tahun 2019 dan menyebabkan minyak Brent naik kembali di atas harga USD70 per barel.

  • Harga minyak mentah berjangka Brent naik USD1,61 (2,7%) menjadi USD61,67 per barel.

  • Harga minyak mentah berjangka WTI naik USD1,12 (2,2%) menjadi USD52,61 per barel.
Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange akhir pekan lalu ditutup di posisi terbaik dalam 5 bulan terakhir, seiring pelemahan dolar AS setelah rilis data lapangan kerja yang lebih rendah dari perkiraan. Pelemahan data ini memungkinkan perlambatan lau kenaikan suku bunga the Fed. Secara mingguan harga emas di pasar spot naik mendekati 1,7%, pulih sekitar 7% dari posisi terendah dalam 19 bulan terakhir.

  • Harga emas di pasar spot naik 0,86% menjadi USD1.248,28 per ounce.

  • Harga emas berjangka berada di level USD1.252,60 per ounce.

(AFP, CNBC , Reuters)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author