Rencana Pemotongan OPEC Masih Teka-teki, Minyak Dunia Anjlok

Rencana Pemotongan OPEC Masih Teka-teki, Minyak Dunia Anjlok

Posted by Written on 07 December 2018


Ipotnews - Harga minyak merosot, Jumat petang, terbebani oleh OPEC yang menunda keputusan final mengenai pemotongan produksi karena menunggu dukungan dari Rusia, yang dilaporkan tidak ingin mengurangi output-nya lebih dari 150.000 barel per hari (bph).

Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, jatuh ke bawah USD60 per barel di awal sesi, diperdagangkan USD59,40 per barel pada pukul 14.04 WIB, turun 66 sen, atau 1,1 persen dari penutupan terakhir, demikian laporan Reuters, di Singapura, Jumat (7/12).

Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), melemah 52 sen atau sekitar satu persen menjadi USD50,97 per barel.

Penurunan itu terjadi setelah minyak mentah anjlok hampir tiga persen pada hari sebelumnya, dengan Organisasi Negara Eksportir Minyak ( OPEC ) mengakhiri pertemuan di kantor pusatnya di Wina, Austria, Kamis, tanpa mengumumkan keputusan untuk mengurangi pasokan, sebagai gantinya bersiap untuk membahas masalah tersebut hari ini.

Rusia ingin memangkas produksi minyaknya maksimal 150.000 bph untuk tiga bulan pertama 2019, menurut kantor berita RIA mengutip narasumber, Jumat.

Analis memperkirakan OPEC akan memangkas pasokan lebih banyak dari Rusia, tetapi memperingatkan pemotongan besar sangat diperlukan untuk membalikkan penurunan harga baru-baru ini.

"Membalikkan sentimen harga yang sangat bearish kemungkinan membutuhkan pesan yang kredibel dan kohesif dari pertemuan OPEC . Bahkan pemotongan 1 juta bph dapat mendorong reaksi jual dalam jangka pendek," kata bank investasi Amerika, Jefferies.

"Jika tidak ada kesepakatan yang dicapai, harga minyak bakal mengalami kejatuhan signifikan."

Produsen minyak terpukul oleh penurunan harga minyak sebesar 30 persen sejak Oktober karena lonjakan pasokan saat prospek permintaan melemah di tengah perlambatan ekonomi global.

Produksi minyak dari produsen terbesar dunia-- OPEC , Rusia dan Amerika Serikat--melonjak 3,3 juta bph sejak akhir 2017, menjadi 56,38 juta bph, memenuhi hampir 60 persen dari konsumsi global.

Peningkatan itu saja setara dengan output dari salah satu produsen utama OPEC , Uni Emirat Arab.
Kenaikan itu sebagian besar ditujukan pada melonjaknya produksi minyak mentah Amerika, yang melambung 2,5 juta bph sejak awal 2016 menjadi rekor 11,7 juta bph, menjadikan Amerika Serikat sebagai produsen minyak terbesar dunia.

Akibatnya, Amerika Serikat pekan lalu mengekspor lebih banyak minyak mentah dan bahan bakar daripada mengimpor untuk kali pertama pada rekor kembali ke 1973, menurut data yang dirilis Kamis. (ef)

Sumber : Admin


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author