Bursa Pagi: Global-Regional Berguguran, IHSG di Fase Konsolidasi

Bursa Pagi: Global-Regional Berguguran, IHSG di Fase Konsolidasi

Posted by Written on 05 December 2018


Ipotnews - Bursa saham Asia pagi ini, Rabu (5/12) dibuka berguguran, melanjutkan tren penurunan indeks acuan pada penutupan bursa saham utama Eropa dan Wall Street, yang tertekan oleh keraguan investor akan kemampuan Washington dan Beijing untuk menyelesaikan sengketa dagang mereka, setelah kesepakatan penundaan penerapan tarif tambahan selama 90 hari.

Mengawali perdagangan saham hari ini, bursa saham Australia dibuka dengan mencatatkan penurunan tajam indeks ASX 200, sebesar 1,24%, setelah rilis data PDB kuartal III yang menguat 03% namun di bawah ekspektasi. Kejatuhan indeks berlanjut 1,37% (-78,00 poin) menjadi 5635,10 padap pukul 8:35 WIB.

Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, Jepang bergerak melorot 1,07% (-236,88 poin) ke level 21.799,17, setelah dibuka anjlok 1,37% di tengah kejatuhan harag saham-sekstor keuangan. Mitsubishi UFJ Financial Group merosot 1,87%, Nomura terperosok 2,66%. Indeks Kospi, Korea Selatan juga dibuka melorot 1,24% dan berlanjut turun 0,96% menjadi 2.094,01

Indeks Hang Seng, Hongkong juga dibuka anjlok 1,89% (-514,75 poin) ke level 26.745,69. Indeks Shanghai Composite, China dibukaterperosok 1,36% ke posisi 2.629,83.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pagi ini dihadapkan pada tren kejatuhan indeks acuan di bursa saham global dan regional, setelah berhasil bertahan di zona hijau pada sesi perdagangan kemarin, dan ditutup menguat 0,57%ke level 6.152. Sejumlah analis memperkirakan, pergerakan IHSG hari ini masih berpotensi melanjutkan kenaikan, namun berpeluang tertahan di fase konsolidasi mengingat tekanan jual di bursa saham global dan regional. Secara teknikal, beberapa indikator pergerakan indeks memperlihatkan adanya potensi koreksi di area jenuh beli.

Tim Riset Indo Premier berpendapat,melemahnya indeks bursa global dan regional yang dipicu oleh kekhatarian akan perlambatan ekonomi Amerika dan keragu-raguan investor terhadap kesepakatan dagang antara Amerika dan China diprediksi akan menjadi sentimen negatif di pasar. Pelemahan rupiah juga akan menjadi tambahan sentimen negatif untuk indeks harga saham gabungan. IHSG diprediksi bergerak melemah dengan rentang support di level 6.115 dan resistance di 6.185.

Beberapa ekuitas yang direkomendasikan, antara lain;

  • Saham : TLKM (Buy, Support: Rp3.710, Resist: Rp3.840), UNTR (Buy, Support: Rp28.775, Resist: Rp30.800), PGAS (Buy, Support: Rp1.980, Resist: Rp2.200), MAIN (Buy, Support: Rp1.240, Resist: Rp1.360)

  • ETF : XISI (Buy, Support: 330, Resist: 339), XPES (Buy, Support: Rp451, Resist: Rp460), QKLP (Buy, Support: 535, Resist: 544).

Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursa Wall Street pagi tadi berakhir merah membara, tumbang lebih dari 3% didorong kekhawatiran perlambatan pertumbuhan AS, dan meningkatnya skeptisme sehari setelah reli merespon kesepekatan AS-China untuk menunda penerapan tarif baru. Investor khawatir kedua pihak akan kesulitan mencapai resolusi untuk menyelesaikan beberapa masalah, seperti kekayaan intelektual. Presiden AS Donald Trump kembali mengancam, dengan mgnatakan akan "senang" menandatangani kesepakatan yang "adil" dengan China tetapi juga siap untuk mengambil garis yang lebih keras.

Penyempitan spread imbal hasil antara US Treasury 2 tahun dan 10 tahun, menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya "inversi" di mana yield obligasi jangka pendek melampaui surat utang jangka panjang, yang dipandang sebagai sinyal bahwa ekonomi "siap untuk melemah." S&P Global Ratings memperkirakan pertumbuhan AS akan melambat dari 2,9% pada 2018, menjadi 2,3% di 2019, dan 1,8% di 2020. Saham raksasa perbankan, JPMorgan Chase dan Citigroup terjungkal 4,4% dan 5,4%. Saham Apple, Amazon, dan Microsoft terpuruk lebih dan 3%.

  • Dow Jones Industrial Average rontok 3,10% (-799,36 poin) ke level 25.027,07.

  • S&P 500 menukik 3,24% (-90,31 poin) menjadi 2.700,06.

  • Nasdaq Composite amblas 3,80% (-283,09 poin) ke posisi 7.158,43.
Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange anjlok 1,94% menjadi USD24,77.
Bursa saham utamaEropatadi malam juga tenggelam di zona merah di tengah meningkatnya keraguan akan kemampuan AS dan China untuk menyelesaikan sengketa dagang mereka. Indeks Stoxx 600 turun 0,76% menjadi 358,43, dipimpin kejatuhan harga saham sektorr otomotif hampir 2,5%. Saham pemasok suku cadang Faurecia, Prancis rontok 6,6% setelah Jefferies memangkas target harga sahamnya.Sektor teknologi anjlok 1,4%, pabrikan chip AMS dan Siltronic masing-masing terpuruk 5% dan 8%.

Pasar Eropa mengalami tekanan tambahan karena kenaikan euro dan pound terhadap dolar AS, setelah seorang pengacara menyarankan pengadilan tinggi Eropa bahwa Inggris dapat mengakhiri Brexit tanpa meminta izin pihak lain.

  • FTSE 100 London turun 0,56% (-39,65 poin) menjadi 7.022,76.

  • DAX 30 Frankfurt anjlok 1,14% (-130,14 poin) ke level 11.335,32.

  • CAC 40 Paris melorot 0,82% (-41,32 poin) ke posisi 5.012,66.

Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York pagi tadi ditutup melemah, seiring kejatuhan imbal hasil US Treasury, yang memicu kekhawatiran bahwa The Fed akan menghentikan siklus kenaikan suku bunga. Inversi dalam kurva yield juga menandakan potensi akan terjadinya resesi. Tekanan terhadap dolar sedikit tertahan oleh ketidakpastian kemampuan AS-China untuk menyelesaikan perang dagang mereka.

Kenaikan suku bunga mendorong imbal hasil jangka pendek bergerak lebih tinggi, namun ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang melambat membuat imbal hasil jangka panjang turun. Analis memandang situuasi tersebut sebagai sinyal kemungkinan terjadinya resesi di AS. Indeks dolar, yang mengukur kurs greenback terhadap enam mata uang negara maju, turun 0,08% menjadi 96,965.

Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% ChangeTime (ET)
Euro (EUR-USD)1.13430.000.00%6:28 PM
Poundsterling (GBP-USD)1.2718-0.0001-0.01%6:28 PM
Yen (USD-JPY)112.68-0.09-0.08%6:28 PM
Yuan (USD-CNY)6.836-0.047-0.68%10:29 AM
Rupiah (USD-IDR)14,291.5047.50+0.33%3:54 AM

Sumber : Bloomberg.com, 4/12/2018 (ET)

Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges hingga pagi bergerak fluktuatif, ditutup sedikit menguat di tengah karena kekhawatiran akan melambatnya permintaah akibat ketidakpastian kelanjutan kesepakatan penundaan perang dagang AS-China. Trump kembali mengancam akan menerapkan tarif tambahan terhadap China jika tidak dapat menyelesaikan perbedaan mereka. Sementara itu, Rusia dikabarkan berpotensi menjadi batu sandungan kesepakatan pemangkasan pasokan minyak mentah global setidaknya 1,3 juta barel per hari, dalam pertemuan OPEC di Wina, Kamis. Menteri Perminyakan Arab Saudi, Khalid Al-Falih, mengatakan terlalu cepat untuk memastikan OPEC dan eksportir minyak lainnya akan mengurangi produksi karena persyaratan kesepakatan masih belum terpecahkan.

Upaya pemangkasan produksi monyak OPEC juga terganggu oleh produksi minyak AS yang terus meningkat. Bank Barclays menyebutkan produksi minyak AS di Texas saja "mencapai 4,69 juta bph pada September, lebih besar dari perkiraan output Irak produsen minyak terbesar kedua OPEC , sebesar 4,66 juta bph.

  • Harga minyak mentah WTI untuk pengiriman Januari, naik 30 sen menjadi USD53,25 per barel.

  • Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Januari, naik 39 sen menjadi USD62,08 per barel.
Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange pagi tadi ditutup menguat, berada di jalur kenaikan untuk sesi kedua berturut-turut merespon pelemahan dolar AS. Harga palladium mencetak rekor, melonjak 2,6% menjadi USD1.235 per ounce melebihi harga emas, setelah sempat melesat USD1.239,50, tertinggi sepanjang masa. Logam auto-catalyst pengurangan emisi kendaraan itu , melambung sekitar 49% sejak pertengahan Agustus.didorong oleh defisit berkelanjutan dan minat spekulatif.

  • Harga emas di pasar spot naik 0,6% menjadi USD1.237,81 per ounce.

  • Harga emas berjangka AS naik 0,56% menjadi USD1.242,90 per ounce.

(AFP, CNBC , Reuters)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author