China-AS Sepakati "Gencatan Senjata", Minyak Melambung Lima Persen

China-AS Sepakati "Gencatan Senjata", Minyak Melambung Lima Persen

Posted by Written on 03 December 2018


Ipotnews - Harga minyak melonjak sekitar lima persen, Senin siang, setelah Amerika Serikat dan China menyetujui gencatan senjata 90 hari dalam perang dagang mereka, dan menjelang pertemuan kartel produsen OPEC pekan ini yang diperkirakan menghasilkan pemotongan pasokan.

Patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), berada di posisi USD53,41 per barel pada 13.22 WIB, menguat USD2,48 per barel, atau 4,9 persen dari penutupan terakhir, demikian laporan Reuters, di Singapura, Senin (3/12).

WTI mendapatkan dorongan lebih lanjut oleh pengumuman dari Kanada bahwa Provinsi Alberta akan memaksa produsen untuk memangkas produksi 8,7 persen, atau 325.000 barel per hari (bph), untuk mengatasi hambatan pada jaringan pipa yang menyebabkan peningkatan stok minyak mentah. Sebagian besar minyak Alberta diekspor ke Amerika Serikat.

Stephen Innes, Kepala Perdagangan Asia/Pasifik Oanda, Singapura, mengatakan keputusan Alberta merupakan "langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk meredakan krisis dalam industri energi Kanada."

Sementara itu, minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, mencatatkan kenaikan USD2,89 per barel, atau sekitar 4,9 persen, menjadi USD62,35 per barel.

China dan Amerika Serikat sepakat saat KTT G-20 di Argentina, akhir pekan lalu, untuk tidak memberlakukan tarif perdagangan tambahan selama setidaknya 90 hari, saat kedua belah pihak menggelar perundingan untuk menyelesaikan perselisihan yang ada.

Perang perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia itu sangat membebani perdagangan global, memicu kekhawatiran perlambatan ekonomi.

Minyak mentah tidak termasuk dalam daftar ratusan produk yang dikenakan tarif impor oleh masing-masing pihak, tetapi para pedagang mengatakan sentimen positif gencatan senjata antara dua ekonomi terbesar dunia itu juga mendorong pasar minyak mentah.

"Kesepakatan untuk terus berunding selama 90 hari di mana tarif dihentikan adalah kejutan positif," kata Morgan Stanley, Senin, sambil menambahkan bahwa negosiasi perdagangan akan penuh tekanan.

Secara keseluruhan, Morgan Stanley mengatakan melihat "sedikit kenaikan dalam prospek pertumbuhan 2019" karena perundingan tersebut.

Ke depan, pedagang akan mencermati pertemuan Organisasi Negara Eksportir Minyak ( OPEC ), 6 Desember. Pada pertemuan tersebut, OPEC bersama negara non- OPEC Rusia, diperkirakan mengumumkan pemotongan untuk mengekang kelebihan produksi yang menurunkan harga minyak mentah sekitar sepertiga sejak Oktober.

Analis memperkirakan pengurangan 1 juta hingga 1,4 juta bph dari level Oktober, merupakan tertinggi oleh OPEC sebagai kelompok sejak Desember 2016.

Di sisi lain, Senin, Qatar mengatakan akan meninggalkan kartel produsen itu pada Januari 2019.

Produksi minyak Qatar hanya sekitar 600.000 bph, namun negara tersebut merupakan eksportir gas alam cair (LNG) terbesar di dunia.

Negara Timur Tengah itu juga berselisih dengan tetangganya yang jauh lebih besar yang juga pemimpin OPEC , Arab Saudi.

Di luar OPEC , produksi minyak Rusia mencapai 11,37 juta bph pada November, turun dari rekor pasca-Soviet sebesar 11,41 juta bph yang dicapai Oktober, menurut data Kementerian Energi, Minggu.

Sementara itu, produsen minyak di Amerika Serikat terus mencatatkan rekor output, dengan produksi minyak mentah pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya lebih dari 11,5 juta bph.

Dengan aktivitas pengeboran yang masih tinggi, sebagian besar analis memperkirakan produksi minyak Amerika akan meningkat lebih lanjut pada 2019. 

(ef)


Sumber : Admin


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author