Bursa Pagi: Asia Bergerak Naik, IHSG Menguat Terbatas Berpotensi Koreksi

Bursa Pagi: Asia Bergerak Naik, IHSG Menguat Terbatas Berpotensi Koreksi

Posted by Written on 26 November 2018


Ipotnews - Awali pekan ini, di pekan terakhir November, Senin (26/11, bursa saham Asia dibuka mixed cenderung menguat, diwarnai kejatuhan harga minyak mentah dan komoditas logam, merontokkan harga saham sektor minyak dan gas, serta pertambangan. Akhir pekan lalu bursa saham utama Eropa ditutup cenderung menguat, namun bursa saham Wall Street ditutup turun.

Perdagangan saham hari ini dibuka dengan mencatatkan penurunan indeks ASX 200, Australia sebesar 0,68%, terseret kejatuhan harga minyak dan komoditas logam karena kekhawatiran akan melemahnya permintaan China. Harga saham sektor pertambangan anjlok 2,06% dan harga saham pertambangan tergerus 1,89%. Penurunan indeks berlanjut 0,40% (-23,10 poin) ke level 5.693,10 pada pukul 8:15 WIB.

Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, Jepang bergerak naik 0,26% (57,16 poin) menjadi 21.703,71, setelah dibuka menguat 0,16% pada sesi awal perdagangan. Indeks Kospi juga dibuka naik 0,32%, dan berlanjut melaju 0,55% ke posisi 2.068,84.

Melanjutkan tren kenaikan Asia, indeks Hang Seng, Hongkong dibuka melaju 0,66% (171,67 poin) ke level 26.099,35 pada pukul 8:35 WIB. Indeks Shanghai Composite, China dibuka menguat 0,06% di posisi 2.580,90.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pagi dihadapkan pada tren pergerakan indeks acuan di bursa saham global dan regional yang bervariasi, setelah berhasil bertahan di teriroti positif pada akhir perdagangan pekan lalu, dan ditutup menguat 0,26% menjadi 6.006,20. Sejumlah analis memperkirakan pergerakan IHSG hari ini masih berpotensi melanjutkan penguatan didukung oleh capital inflow. Secara teknikal, beberapa indikator pergerakan indeks memperlihatkan adanya potensi koreksi di area jenuh beli sehingga cenderung menguat terbatas.

Tim Riset Indo Premier berpendapat, melemahnya indeks bursa global seiring dengan berlanjutnya tekanan terhadap saham sektor teknologi dan energi diprediksi akan menjadi sentimen negatif di pasar. Sementara itu berlanjutnya tren penguatan rupiah dan turunya harga minyak mentah yang diharapkan akan menekan defisit transaksi berjalan diprediksi akan menjadi katalis positif di pasar. IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung menguat dengan rentang support di level 5.980 dan resistance di 6.030.

  • Saham : UNVR (Buy, Support: Rp41.150, Resist: Rp43.050), AALI (Buy, Support: Rp10.650, Resist: Rp11.375), BJBR (Buy, Support: Rp1.925, Resist: Rp1.965), PTBA (Buy, Support: Rp4.250, Resist: Rp4.370).

  • ETF : R-LQ45X (Buy, Support: Rp1.004, Resist: Rp1.012), XIIC (Sell on Strength, Support: Rp1.097, Resist: Rp1.110), XIIT (Buy, Support: Rp541, Resist: Rp547).

Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursaWall Street akhir pekan lalu ditutup dengan melemah, terseret kejatuhan harga minyak dan data ekonomi ekonomi AS. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) rontok sekitar 7%, dan Brent menyusut 5%, level terendah dalam lebih dari setahun. Saham-saham teknologi papan atas kembali mengalami tekanan. Saham Apple melorot 2,5 setelah dikabarkan berniat memangkas harga iPhone XR di Jepang karena penjualannya tidak bagus.

Survei Universitas Michigan menunjukkan, indeks sentimen konsumen AS periode November mencapai 97,5, lebih rendah dari perkiraan sebesar 98,3, turun dari 98,6 pada Oktober lalu. Klaim awal tunjangan pengangguran hingga pertengahan November naik 3.000 menjadi 224.000, tertinggi dalam lebih dari empat bulan.

  • Dow Jones Industrial Average anjlok 0,73% (-178,74 poin) ke level 24.285,95.

  • S&P 500 meorost 0,66% (-17,37 poin) ke posisi 2.632,56.

  • Nasdaq Composite turun 0,48% (-33,27 poin) menjadi 6.938,98.
Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange naik 058% menjadi USD24,17.

Bursa saham utama Eropaakhir pekan lalu ditutup cenderung menguat meski diwarnai aktivitas perdagangan yang bergejolak. Indeks Stoxx 600 naik 0,42% menjadi 353,98, namun melemah dibanding pekan sebelumnya, memasuki penurunan mingguan kedua secara beruntun. Indeks saham emiten minyak dan gas turun 2,9% terseret kejatuhan harga minyak. Konflik dagang China-AS, kelanjutan negosiasi lanjutan Brexit, dan masalah anggaran Italia memunculkan kekhawatiran bahwa korporasi akan terus menunda keputusan investasi. Indeks PMI gabungan zona euro versi IHS Markit's Flash periode November mencapai 52,4, terendah sejak 2014.

Saham maskapai penerbangan Lufthansa, Jerman melompat 2,9%, dan Easy Jet melesat 4,1%. Saham perbankan Italia naik 1,3% setelah Menteri Urusan Uni Eropa Italia, Paolo Savona dikabarkan mempertimbangkan mundur dari kabinet. Saham Generali, Banca Medionalum dan Unicredit naik lebih dari 2%. Sementara itu, saham Renault melaju 2,3% setelah Deputy CEO perusahaan tersebut menyatakan akan melindungi kepentingan perusahaannya dengan Nissan. Saham Ericsson naik 3,9% dan Nokia naik 1,5%, karena AS meminta negara sekutunya untuk menghindari penggunaan peralatan telekomunikasi dari Huawei.

  • DAX 30 Frankfurt naik 0,49% (54,20 poin) menjadi 11.192.

  • FTSE 100 London melemah 0,11% (-7,46 poin) di posisi 6.952.

  • CAC 40 Paris menguat 0,18% (8,81 poin) di level 4.946.

Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York akhir pekan lalu ditutup menguat, karena euro dan poundsterling tertekan oleh kekhawatiran potensi pelambatan pertumbuhan ekonomi di zona euro. Indeks PMI Jerman dan gabungan zona lebih lemah dari yang diperkirakan, meningkatkan keraguan tentang kemampuan ekonomi Eropa untuk "rebound" di sisa tahun ini. Analis mengatakan, penurunan tajam harga minyak mendorong aksi penghindaran resiko, mendongkrak dolar AS sebagai mata uang "safe-haven". Indeka dolar yang mengukur kurs greenback terhadap enam mata uang negara maju naik 0,21% menjadi 96,916.


Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% Change
Euro (EUR-USD)1.1338-0.0065-0.57%
Poundsterling (GBP-USD)1.2814-0.0063-0.49%
Yen (USD-JPY)112.96000.0100+0.01%
Yuan (USD-CNY)6.94850.0165+0.24%
Rupiah (USD-IDR)14,544.00-36.00-0.25%

Sumber : Bloomberg.com, 23/11/2018 (ET)


Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges akhir pekan lalu merosot tajam, tertekan aksi jual masif, meningkatkan tekanan kepada OPEC untuk membatasi produksi menjelang pertemuan di Wina, 6 Desember mendatang. Menteri Energi Arab Saudi Khalid al Falih, Kamis lalu mengatakan produksi minyak negaranya di bulan November akan melampaui angka produksi bulansebelumnya menjadi 10,6 juta barel per hari.Sedangkan produksi minyak USA mencapai 11,7 juta barel per hari. Begitu pula dengan Rusia telah mencapai produksi minyak 11 juta barel per hari. International Energy Agency (IEA) memperkirakan permintaan minyak pada 2019 tumbuh 1,3 juta barel per hari, atau turun dari perkiraan sebesar 1,5 juta bph.

  • Harga minyak mentah berjangka WTI turun USD4,21 (-7,7%) menjadi USD50,42 per barel.

  • Harga minyak mentah berjangka Brent turun USD3,66 (-5,9%) menjadi USD58,94 per barel.
Harga emasdi bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange akhir pekan lalu juga ditutup turun, tertekan olh kenaikan dolar AS. Namun analis menilai, pasar logam emas masih relatif tenang karena pada investor menunggu katalis untuk menembus rentang pergerakan harga yang sempit akhir-akhhir ini. Secara teknikal, emas telah diperdagangkan di atas harga rata-rata 50 hari dan 100 hari.

  • Harga emas di pasar spot turun 0,3% menjadi USD1.222,54 per ounce.

  • Harga emas di bursa berjangka turun 0,4% menjadi USD1,223 per ounce.

(AFP, CNBC , Reuters)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author