Bursa Pagi: Global-Regional Mixed, IHSG Berpotensi Menguat Terbatas

Bursa Pagi: Global-Regional Mixed, IHSG Berpotensi Menguat Terbatas

Posted by Written on 14 November 2018


Ipotnews - Bursa saham Asia pagi ini, Rabu (14/11) dibuka bervariasi cenderung melemah, merespon pergerakan indeks acuan di bursa saham utama Eropa dan Wall Street yang bergerak berlainan arah. Harga minyak rontok, diwarnai munculnya harapan akan berlanjutnya perundingan dagang AS-China. China akan merilis data produksi industri periode Oktober.

Mengawali perdagangan saham global hari ini, indeks ASX 200, Australia turun 0,37% pada sesi awal perdagangan, tertekan kejatuhan harga saham energi, lebih dari 2%, dan pelemahan saham sektor keuangan 0,3%. Penurunan indeks berlanjut 0,44% (-25,90 poin) menjadi 5.808,30 pada pukul 8:10 WIB.

Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, Jepang menguat 0,27% (58,72 poin) ke posisi 21.869,24, setelah dibuka naik 0,51% meski diwarnai penguatan yen terhadap dolar AS. Indeks Kospi, Korea Selatan dibuka turun 0,3%, dan berlanjut berkurang 0,20% menjadi 2.067,12.

Indeks Hang Seng, Hongkong dibuka naik 0,32% (81,49 poin) ke level 25.874,36 pada pukul 8:40 WIB. Sebaliknya, indeks Shanghai Composite, China turun 0,25% menjadi 2.648,31.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) dihadapkan pada tren pergerakan indeks acuan global dan regional yang bervariasi, setelah berhasil mengalahkan tekanan pelemahan global pada sesi perdagangan kemarin dan ditutup melaju 1,01% ke level 5.835. Sejumlah analis memperkirakan, pergerakan IHSG hari ini masih mempunyai kekuatan untuk menguat di tengah tekanan global meski cenderung terbatas. Secara teknikal, beberapa indikator memperlihatkan adanya potensi penguatan lanjutan, setelah kemarin mengalami technical rebound dan reversal di area jenuh jual.

Tim Riset Indo Premier berpendapat, adanya pembicaraan baru antara Amerika dan China terkait hubungan perdagangan, dan mulai meredanya dampak dari rencana BEI menerapkan aturan baru terkait perhitungan indeks LQ45 dan IDX30, diprediksi akan menjadi katalis positif untuk indeks. Sementara itu terkoreksinya harga komoditas akan menjadi sentimen negatif bagi indeks.IHSG diprediksi akan bergerak bervarisi cenderung menguat dengan rentang support di level 5.775 dan resistance di 5.895.

Beberapa ekuitas yang direkomendasikan, antara lain:

  • Saham : ICBP (Buy, Support: Rp8.400, Resist: Rp8.675), ASII (Buy, Support: Rp7.825, Resist: Rp8.150), 

    BBRI (Buy, Support: Rp3.280, Resist: Rp3.420), PWON (Buy, Support: Rp525, Resist: Rp565).

  • ETF : XPLC (Buy, Support: Rp477, Resist: Rp495), XPSG (Buy, Support: Rp412, Resist: Rp428), 

    XBNI (Buy, Support: Rp1.007, Resist: Rp1.039).


Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursaWall Street tadi malam gagal menguat, pasar kehilangan momentum tertekan oleh berlanjutnya kejatuhan harga minyak dan melemahnya saham Boeing. Harga minyak terperosok 7% menuju bear market, turun 12 hari berturut-turut, paling tajam sejak 2015. Presiden AS dan dan Presiden China dikabarkan akan membahas hubungan perdagangan yang memburuk di sela-sela KTT G20, akhir bulan ini.

Harga saham energi rontok lebih dari 2%. Saham Halliburton and Marathon Oil masing-masing terpangkas lebih dari 4,5%. Exxon Mobil anjlok 2,3%, dan Chevron, merosot 1,7%. Boeing melorot 2,1%, karena dugaan menahan informasi terkait fitur kontrol penerbangan kasus kecelakaan fatal. Apple menyusut 1%, karena ekspektasi penjualan yang lebih rendah. Amazon melemah 0,4%. General Electricmelonjak 7,8% setelah menyatakan akan menjual saham Baker Hughes.

  • Dow Jones Industrial Average turun 0,40% (-100,69 poin) menjadi 25.286,49.

  • Standard&Poor's 500 berkurang 0,15% (-4,04 poin) di posisi 2.722,18.

  • Nasdaq Composite naik tipis 0,01 poin di level 7.200.87.
Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange naik 2,37% menjadi USD22,91.

Bursa saham utamaEropatadi malam ditutup di zona hijau, terpengaruh oleh kenaikan harga saham pada sesi awal perdagangan Wall Street karena munculnya harapan kesepakatan perdagangan AS-China. Indeks Stoxx 600 naik 0,67% menjadi 364,44, dipimpin kenaikan harga saham telekomunikasi. Menteri Keuangan AS dan Wakil Perdana Menteri China diberitakan tetap melanjutkan perundingan perdagangan, sebelum pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.

Vodafone menjadi top gainer setelah merilis laporan keuangannya. CEO Telecom Italia, Amos Genish, dilucuti kekuatan eksekutifnya menyusul pertentangan dua pemegang saham utamanya, Vivendi dan Elliott Management. Saham perusahaan health care BTG melambung 9,9% setelah melaporkan peningkatan laba. 

Saham pemasok Apple berguguran, setelah Lumentum Holdings mengatakan telah diminta untuk mengurangi pengiriman produknya.

  • FTSE 100 London naik tipis 0,01% (0,68 poin) di posisi 7.053,76.

  • DAX 30 Frankfurt melonjak 1,30% (146,78 poin) ke level 11.472,22.

  • CAC 40 Paris melaju 0,85% (42,76 poin) menjadi 5.101,85.

Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York pagi tadi berakhir melemah, di tengah penguatan euro dan poundsterling, karena Inggris dan Uni Eropa menyepakati konsep awal Brexit dalam upaya menghindari perpisahan yang dapat mengganggu ekonomi di kawasan itu. Investor mengambil untung dengan menjual dolar yang mencapai level tertinggi 16 bulan.

RAPBN Italia tetap menjadi hambatan bagi euro, Selasa adalah batas waktu bagi Italia untuk mengirimkan perbaikan RAPBN 2019 ke Uni Eropa. IMF memperingatkan rencana stimulus pemerintah akan membuat Italia rentan terhadap kenaikan suku bunga. Indeks dolar, yang mengukur kurs greenback enam mata uang negara maju melemah 0,25% menjadi 97,303.


Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% ChangeTime (ET)
Euro (EUR-USD)1.13170.0027+0.24%6:29 PM
Poundsterling (GBP-USD)1.30240.0047+0.36%6:29 PM
Yen (USD-JPY)113.80-0.01-0.01%6:29 PM
Yuan (USD-CNY)6.956-0.0076-0.11%10:29 AM
Rupiah (USD-IDR)14,805.00-15.00-0.10%3:54 AM

Sumber : Bloomberg.com, 13/11/2018 (ET)


Komoditas

Harga minyakmentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges hingga pagi tadi bergerak turun, karena kekhawatiran melemahnya permintaan dan kelebihan pasokan global. Harga minyak berjangka WTI tumbang 7,1%, penurunan harian terbesar sejak September 2015, sekaligus mencatatkan rekor penurunan ke-12 beruntun dan terendah sejak November 2017. Lebih dari 980.000 kontrak berpindah tangan. Brent terjungkal 6,6%, penurunan harian terbesar sejak Juli, ke level yang belum pernah terlihat sejak Maret.

Kejatuhan WTI, dipicu oleh celotehan Donald Trump di Twitter yang menekan Organisasi Negara Eksportir Minyak agar tidak mengurangi pasokan demi menopang harga. Pekan lalu, Arab Saudi dikabarkan sedang mempertimbangkan untuk mengurangi produksi pada pertemuan OPEC Desember. Laporan bulanan OPEC menyebutkan permintaan minyak dunia tahun depan akan naik 1,29 juta barel per hari (bph), 70.000 bph di bawah prediksi bulan lalu. Namun, output naik 127.000 bph menjadi 32,9 juta bph.

  • Harga minyak mentah berjangka WTI turun USD4,24 (-7,1%) menjadi USD55,69 per barel.

  • Harga minyak mentah berjangka Brent turun USD4,65 (-6,6%) menjadi USD65,47 per barel.
Harga emasdi bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange pagi tadi ditutup menguat tipis, penguatan pertama dalam delapan sesi perdagangan terakhir, terangkat oleh pelemahan dolar AS. Sehari sebelumnya harga emas turun menjadi USD1.195,90, terendah sejak sebulan lalu. Emas diperdagangkan antara USD1.211 dan USD1.243 per ounce pada bulan lalu sebelum tergelincir tajam selama dua sesi terakhir. 

Pekan lalu, emas membukukan penurunan mingguan terbesar sejak Agustus, setelah Federal Reserve menegaskan kembali komitmennya untuk mengetatkan kebijakan moneter. Kepemilikan SPDR Gold Trust, ETF emas terbesar di dunia naik 0,90% menjadi 762,00 ton pada Senin lalu.

  • Harga emas di pasar spot naik tipis menjadi USD1.200,30 per ounce.

  • Harga emas berjangka ditutup di posisi USD1.202,40 per ounce.

(AFP, CNBC , Reuters)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author