Bursa Pagi: Global-Regional di Zona Merah, IHSG Berkutat di Rentang Konsolidasi

Bursa Pagi: Global-Regional di Zona Merah, IHSG Berkutat di Rentang Konsolidasi

Posted by Written on 12 November 2018


Ipotnews - Awali pekan ini, Senin (12/11) bursa saham Asia dibuka melemah melanjutkan tren penurunan indeks acuan di bursa saham utama Eropa dan Wall Street akhir pekan lalu. Investor mengkhawatirkan risiko global di tengah perang dagang AS-China, proyeksi pertumbuhan dan harga minyak yang melemah.

Perdagangan saham hari ini dibuka dengan mencatatkan penurunan indeks ASX 200, Australia, sebesar 0,23% terbebani kejatuhan harga saham sektor keuangan sebesar 0,75%. Indeks berlanjut melemah 0,09% (-5,40 poin) di posisi 5.916,40 pada pukul 8:15 WIB.

Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, Jepang menyusut 0,17% (-37,61 poin) menjadi 22.212,64, setelah dibuka anjlok 0,75% diwarnai pelemahan yen terhadap dolar AS. Indeks Kospi, Korea Selatan dibuka melorot 0,63% dan berlanjut turun 0,32% menjadi 2.079,49.

Melanjutkan tren pelemahan Asia, indeks Hang Seng, Hongkong dibuka turun 0,10% (-25,64 poin) di posisi 25.576,28 pada pukul 8:35 WIB. Indeks Shanghai Composite, China juga dibuka turun 0,22% menjadi 2.593,20.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) dihadapkan pada tren penurunan indeks saham acuan di burs global dan regional, setelah terjerembab di zona merah pada akhir pekan lalu dengan membukukan penurunan tajam 1,72% ke level 5.874. Sejumlah analis memperkirakan pergerakan IHSG hari ini masih berada dalam rentang konsolidasi di tengah minimnya sentimen positif, berusaha menguat dengan dukungan capital inflow. Secara teknikal, beberapa indikator indeks memperlihatkan adanya potensi pelemahan lanjutan di area jenuh beli.

Tim Riset Indo Premier berpendapat, melemahnya indeks bursa global dan regional seiring dengan kekhawatiran akan melambatnya perekonomian dunia diprediksi akan menjadi sentimen negatif di pasar. 

Terkoreksinya hampir semua komoditas kecuali batu bara, dan melebarnya defisit tranksaksi berjalan menjadi 3,37% dari sebelumnya 3,02%, juga akan menjadi sentimen negatif bagi indeks harga saham gabungan. IHSG diprediksi akan melanjutkan pelemahannya dengan rentang support di level 5.835 dan resistance di 5.920.

Beberapa ekuitas yang direkomendasikan, antara lain;

  • Saham : BBCA (Buy on Weakness, Support: Rp23.775, Resist: Rp24.150), PGAS
     (Buy, Support: Rp2.070, Resist: Rp2.150), CPIN (Buy on Weakness, Support: Rp5.225, Resist: Rp5.525), 

    INCO(Sell on Strength, Support: Rp3.210, Resist: Rp3.360).

  • ETF : XPDV ( SELL , Support: Rp467, Resist: Rp477), XPID ( SELL , Support: Rp501, Resist: Rp518), 

    XISR ( SELL , Support: Rp359, Resist: Rp371).


Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursa Wall Street akhir pekan lalu ditutup turun, investor kecewa terhadap proyeksi kinerja Apple dan sejumlah emiten, di tengah pelemahan harga minyak. Harga minyak WTI sempat turun ke bawah USD60 per barel, terendah sejak Maret. Melemahnya data ekonomi China ikut mempengaruhi sentimen investor. Asosiasi industri mobil mengatakan penjualan ke China bulan lalu anjlok 11,7%, turun selama 4 bulan berturut-turut.

Secara mingguan, indeks S&P 500 dan Dow Jones masing-masing naik 2,4%, dan Nasdaq melonjak 2,7%. 

Saham Apple rontok 6,6% menyeret kejatuhan harga saham teknologi sebesar 1,9%. Saham Kraft Heinz Co longsor 9,7% karena melaporkan laba yang meleset dari target. Sebaliknya, saham Chevron Corp naik 3,2%, dan Starbuck Corp melompat 9,7%. Saham Caterpillar anjlok melorot 3,4% dan General Motor's turun 2,4%.

Dow Jones Industrial Average merosot 0,77% (-201,92 poin) ke posisi 25.989,30.

Stadard&Poor's 500 anjlok 0,92% (-25,82 poin) menjadi 2.781,01.

Nasdaq Composite terpangkas 1,65% (-123,98 poin) ke level 7.406,90.

Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange anjlok 2,71% menjadi USD22,98.

Bursa saham utama Eropa akhir pekan lalu juga ditutup di zona merah, terseret aksi jual saham pertambangan dan terkait minyak, seiring kejatuhan harga komoditas global. Indeks Stoxx 600, turun 0,37% menjadi 365,74, menguat tipis dibanding akhir pekan sebelumnya. Kekecewaan pada laba keuangan emiten di Eropa ikut membebani pasar. Indeks saham sektor perbankan turun tajam, terseret kejatuhan harga saham perbankan Spanyol.

Saham Thyssenkrupp, Jerman anjlok 9,2% karena memangkas proyeksi laba untuk kedua kalinya tahun ini, menyeret aksi jual emiten logam. Indeks saham berbasis sumber daya alam melorot 3,4% di tengah kekhawatiran kenaikan suku bunga AS dan perlambatan ekonomi China. Sektor saham energi turun 1,4%, tertekan penurunan harga minyak sebesar 20% secara akumulatif sejak awal Oktober lalu. Harga saham produsen barang mewah berguguran terpukul upaya Beijing untuk memerangi pasar gelap dan mencegah warganya berbelanja di luar negeri.

DAX 30 Frankfurt naik tipis 0,02% (1.84 poin) di posisi 11.529.

FTSE 100 London, merosot 0,49% (-35,34 poin) ke level 7.105.

CAC 40 Paris turun 0,48% (-24,70 poin) menjadi 5.106.


Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York mengakhiri pekan lalu denga menguat. Bertengger di level tertinggi dalam 16 bulan terakhir terhadap euro, setelah the Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan serta menegaskan kembali pengetatan kebijakan moneternya. Yen Jepang melorot, karena Bank of Japan diperkirakan akan mempertahankan kebijakan suku bunga rendah. 

Investor kembali mewaspadai kembalinya divergensi kebijakan moneter AS dan beberapa bank sentral utama dunia. Indeks dolar menguat 0,19% menjadi 96,905, mendekati posisi tertinggi 16 bulan pada akhir oktober lalu, di angka 97,2.


Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% Change
Euro (EUR-USD)1.1336-0.0027-0.24%
Poundsterling (GBP-USD)1.2972-0.009-0.69%
Yen (USD-JPY)113.83-0.24-0.21%
Yuan (USD-CNY)6.95670.0222+0.32%
Rupiah (USD-IDR)14,677.50138.50+0.95%

Sumber : Bloomberg.com, 11/9/2018 (ET)


Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges akhir pekan lalu ditutup melemah. Minyak WTI melanjutkan penurunan selama 10 sesi beruntun, terlama sejak 1984. Brent turun sebanyak 9 sesi dari 10 sesi terakhir. 

Harga minyak WTI pada Jumat lalu, sempat menyentuh USD59,26 per barel, terendah dalam 9 bulan terakhir. 

Sehari sebelumnya WTI sudah turun 20% dari harga tertinggi dalam 4 tahun terakhir di posisi USD76,90 per barel. Harga Brent sempat mencapai USD69,13 per barel, terendah dalam 7 bulan terakhir. Namun sepanjang tahun ini, Brent masih menguat 4,5%.

Secara mingguan harga minyak berjangka turun selama 5 pekan berturut-turut, tertekan kenaikan produksi negara-negara produsen minyak, serta prospek permintaan yang memburuk. Baker Hughes menyebutkan jumlah rig eksplorasi AS naik 12 unit, kenaikan tertinggi sejak akhir bulan Mei lalu, menjadi 886 rig.

Harga minyak berjangka WTI turun 48 sen menjadi USD60,19 per barel. Kontrak harga tersebut turun 0,5 persen tahun ini.

Harga minyak berjangka Brent turun 39 sen menjadi USD70,26 per barel.

Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange menutup pekan lalu dengan membukukan penurunan, dihantam kenaikan indeks dolar AS setelah the Fed menegaskan kebijakan pengetatan moneternya meski tidak menaikkan suku bunga pada Kamis lalu. Harga emas sempat turun ke harga terendah sejak 11 Oktober lalu, di level USD1.206,72 per ounce. Secara mingguan emas spot sudah turun 2%, terburuk sejak 17 Agustus lalu.

Harga emas di pasar spot turun 1,19% menjadi USD1,208,91 per ounce.

Harga emas berjangka turun 1,65% menjadi USD1.208,6 per ounce.



(AFP, CNBC , Reuters)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author