Bursa Pagi: Asia Dibuka Turun, IHSG Bullish Rawan Profit Taking

Bursa Pagi: Asia Dibuka Turun, IHSG Bullish Rawan Profit Taking

Posted by Written on 05 November 2018


Ipotnews - Awali pekan ini, Senin (5/10), bursa saham Asia dibuka berguguran, investor mengkhawatirkan prospek pertumbuhan global yang diwarnai penurunan indeks PMI di sebagian besar Asia. Bank sentral AS, Australia dan Selandia Baru akan menggelar rapat kebijakan pada pekan ini.

Perdagangan saham hari ini dibuka dengan mencatatkan penurunan indeks ASX 200, Australia sebesar 0,28% dengan menempatkan sebagian besar sektor di zona merah, dipimpin kejatuhan harga saham energi sebear 0,86%. Pelemahan indeks berlanjut 0,25% (-14,60 poin) menjadi 5.834,60 pada pukul 8:15 WIB.

Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, Jepang meluncur turun 1,31% (-291,94 poin) ke level 21.951,72, setelah dibuka anjlok 1,23% diwarnai pelemahan dolar AS pada pembukaan pasar Asia. Indeks Kospi, Korea Selatan dibuka juga dibuka melorot 0,82%, dan berlanjut rontok 1,61% ke posisi 2.062,16.

Melanjutkan tekanan penurunan Asia, indeks Hang Seng, Hongkong dibuka terperosok 1,38% (-365,93 poin) ke level 26.120,42 pada sesi awal pembukaan bursa, pukul 8:40 WIB. Indeks Shanghai Composite, China turun 0,53% ke posisi 2.662,36.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pagi ini dihadapkan pada tren penurunan indeks di bursa Wall Street dan Asia, setelah mengakhiri pekan lalu dengan membukukan kenaikan 1,2% ke level 5.906 pada akhir perdagangan, melonjak 2,1% dibanding akhir pekan sebelumnya. Sejumlah analis memperkirakan pergerakan IHSG hari ini masih berpeluang melanjutkan kenaikan dengan adanya sejumlah sentimen positif, namun rawan aksi profit taking. Secara teknikal, beberapa indikator pergerakan indeks memperlihatkan adanya potensi bullish continuation di area jenuh beli.

Tim Riset Indo Premier berpendapat, terkoreksinya indeks bursa global dan regional diprediksi akan menjadi sentimen negatif di pasar. Sementara itu penguatan rupiah di bawah level Rp15.000 dan naiknya harga komoditas CPO serta batu bara akan menjadi sentimen positif bagi indeks. Investor juga akan mencermati data pertumbuhan ekonomi di kuartal tiga yang menurut konsensus akan tumbuh di level 5,15% yoy. IHSG diprediksi akan bervariasi cenderung menguat dengan rentang support di level 5.870 dan resistance di 5.940.

Beberapa ekuitas yang dorekomendasikan antara lain:

  • Saham: SMCB (Buy, Support: Rp1.730, Resist: Rp1.940), HMSP (Buy, Support: Rp3.720, Resist: Rp3.880), CTRA (Buy, Support: Rp810, Resist: Rp880), GGRM (Buy, Support: Rp74.350, Resist: Rp79.000).

  • ETF : R-LQ45X (Buy, Support: Rp975, Resist: Rp1.005), XISC (Buy, Support: Rp649, Resist: Rp669), 

    XPFT (Buy, Support: Rp502, Resist: Rp516).



Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursaWall Street akhir pekan lalu berakhir melemah, terseret kejatuhan harga saham Apple, diwarnai rilis data pekerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan. Saham Apple rontok 6,63%, karena pengiriman iPhone yang meleset dari perkiraan. Sembilan dari 11 sektor S&P 500 melemah, dipimpin kejatuhan harga saham sektor teknologi dan real estat masing-masing 1,89% dan 0,93%. Optimisme akan segera tercapainya kesepakatan dagnagn AS-China langsung memudar, setelah pensehat ekonomi Presiden AS, Larry Kudlow menyatakan tidak ada perubahan masif menuju kesepakatan dengan China.

Total data penggajian (payroll) sektor non pertanian AS periode Otober, naik 250.000, mengalahkan perkiraan. Jumlah uang yang diperoleh pekerja rata-rata naik 0,18% menjadi 27,30 dolar AS per jam, juga melampaui ekspektasi. Sedangkan tingkat pengangguran AS tetap 3,7% pada Oktober, sesuai konsensus pasar. Laporan ketenagakerjaan yang solid menimbulkan kekhawatiran bahwa kenaikan upah dan meningkatnya tekanan inflasi akan mendorong Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga pada laju yang lebih cepat.

Dow Jones Industrial Average turun 0,43% (-109,91 poin) menjadi 25.270,83.

Standard&Poor's 500 melorot 0,63% (-17,31 poin) ke posisi 2.723,06.

Nasdaq Composite anjlok 1,04% (-77,06 poin) ke level 7.356,99.

Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange naik 0,18% menjadi USD22,87.

Bursa saham utamaEropaakhir pekan lalu ditutup menguat, setelah Presiden AS Donald Trump memicu harapan akan mengakhiri sengketa berkepanjangan perang dagang dengan China. Indeks Stoxx 600 ditutup naik 0,28% menjadi 364,08, dipimpin kenaikan Indeks otomotif bursa Eropa sebesar 1,7% seiring sinyal kemajuan negosiasi perang dagang AS dan China. Saham-saham eksportir Jerman menguat, Volkswagen melesat 4%. Saham barang mewah seperti Kering (Gucci) melesat 5,4%., LVMH dan Moncler juga naik masing-masing 3,3% dan 5,5%.

Sektor perbankan naik 1,4% setelah menjalani stress test yang tidak menemukan bukti adanya kekhawatiran terhadap sistem perbankan Eropa. Secara keseluruhan rilis kinerja keuangan emiten Eropa memperlihatkan pelemahan. Rilis data pabrikan zona euro memperlihatkan pertumbuhan yang terlemah lebih dari 2 tahun lalu, karena pesanan ekspor.

DAX 30 Frakfurt naik 0,44% (50,45 poin) menjadi 11.518.

FTSE 100 London melorot 0,29% (-20,54 poin) di posisi 7.094.

CAC 40 Paris menguat 0,32% (16,35 poin) di leve 5.102.


Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York akhir pekan lalu ditutup menguat ditopang oleh rilis data lapangan kerja AS pperiode Oktober yang naik melebihi estimasi. Tingkat upah yang mencatatkan kenaikan tertinggi dalam sembilan setengah tahun, mendukung kenaikan suku bunga cauan The Fed. Namun kenaikan dolar dibatasi oleh prospek membaiknya hubungan dagang AS-China, karena dalam sengketa tersebut investor menilai posisi AS lebih baik dibanding China. Indeks dolarAS sebagai ukuran kurs greenback terhadap terhadap enam mata uang negara maju naik 0,28% menjadi 96,542.


Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% Change
Euro (EUR-USD)1.1388-0.002-0.18%
Poundsterling (GBP-USD)1.297-0.0042-0.32%
Yen (USD-JPY)113.200.48+0.43%
Yuan (USD-CNY)6.8907-0.0326-0.47%
Rupiah (USD-IDR)14,955.00-172.50-1.14%

Sumber : Bloomberg.com, 1/11/2018 (ET)


Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges mengakhiri pekan lalu dengan membukukan penurunan. Jelang penerapan larangan impor Iran awal pekan ini, Washington mengizinkan 8 negara untuk tetap mengimpor minyak dari Iran, sehingga menimbulkan kehawatiran pasar akan terjadinya kelebihan pasokan minyak global. 

Negara yang mendapat izin tersebut adalah Korsel, Jepang, India, China, Turki, Italia, Uni Emirat Arab dan Taiwan.

Pelemahan harga minyak juga terjadi seiring negara produsen meningkatkan produksi dalam 2 bulan terakhir. 

Produksi minyak Rusia mencapai 11,41 juta barel per hari di bulan Oktober, tertinggi dalam 30 tahun. Negara-negara OPEC memproduksi sebanyak 33,31 juta bph atau naik 390 ribu barel per hari, tertinggi sejak 2016. AS memproduksi produksi 11 juta bph. Secara mingguan harga minyak WTI merosot 6,6%, dan Brent melorot 6%.

Harga minyak berjangka WTI turun 55 sen menjadi USD63,14 per barel.

Harga minyak berjangka Brent naik 2 sen menjadi USD72,91 per barel.

Harga emasdi bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange akhir pekan lalu juga ditutup melemah tertekan penguatan dolar AS, setelah rilis data lapangan kerja AS periode Oktober yang naik melampaui estimasi. Secara mingguan harga emas di pasar spot turun 0,1%, setelah sempat menguat 1,5% pada sesi perdagangan sebelumnya yang terdongkrak oleh kejatuhan dolar ASdari posisi tertinggi dalam 16 bulan terakhir. 

Kamis pekan lalu, kepemilikan SPDR Gold Trust, ETF emas terbesar dunia, mencapai level tertinggi sejak akhir Agustus lalu. Namun demikian permintaan emas fisik di India jelang pekan perayaan tradisional masih tetap rendah, dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir para dealer menawarkan diskon.

Harga emas di pasar spot turun 0,03% menjadi USD1.232,40 per ounce.

Harga emas berjangka turun USD5,3 (-0,43%) menjadi USD1.233,30 per ounce.



(AFP, CNBC , Reuters)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author