Bursa Siang: Indeks Harga Konsumen Deflasi, Sedangkan IHSG Dalam Tekanan

Bursa Siang: Indeks Harga Konsumen Deflasi, Sedangkan IHSG Dalam Tekanan

Posted by Written on 01 October 2018


Ipotnews - Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) berakhir ke zona merah pada perdagangan sesi pagi, hari Senin (10/1). IHSG melorot -0,40 persen (-25 poin) ke level 5.952.

Indeks LQ45 -0,20% ke level 944 poin. IDX30 -0,17% ke level 517 poin. Indeks JII -0,23% ke level 663. Indeks Kompas100 -0,26% ke level 1.213. Indeks Sri Kehati -0,02% ke posisi 355. Indeks Sinfra18 -0,43% ke level 317.

Saham-saham teraktif yang diperdagangkan adalah BBRITLKM

CPINBBTNUNVRJPFA dan SMGR

Saham-saham top gainer LQ45 di antaranya AKRAMEDCINDYELSAPTBAWSKT dan INDF

Saham-saham top loser LQ45: GGRMINKPJSMRBBCABRPTSSMS dan PGAS

Nilai transaksi yang terjadi mencapai Rp2,84 triliun dengan volume trading sebanyak 54,10 juta lot saham. Pemodal asing aksi beli bersih (net buy) senilai Rp111,58 miliar

Sektor agri dan industri dasar menjadi penekan utama laju IHSG . Kedua sektor tersebut melemah masing-masing -1,4 persen dan -1,34 persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pada September 2018 terjadi deflasi 0,18 persen. Deflasi ini adalah yang tertinggi sepanjang tahun 2018 kecuali pada April 2016 dimana saat itu angka deflasi menyentuh level 0,45 persen.

Nilai tukar rupiah -0,01 persen ke level Rp14.908 (pukul 12:00 pm)

Bursa Asia

Market saham Asia bergerak mixed pada sesi pagi perdagangan hari Senin (01/10) seiring USA dan Kanada mengumumkan pencapaian kesepakatan menggantikan pakta perjanjian perdagangan bebas Amerika Utara (North American Free Trade Agremeent/NAFTA).

Di bursa Jepang, Indeks Nikkei 225 melanjutkan pergerakan ke zona hijau. Indeks Topix bergerak pulih ke arah flat sejalan dengan pelemahan sebagian besar saham otomotif seperti Toyota dan Nissan. Pergerakan yang terjadi di bursa Tokyo dilatarbelakangi survei oleh Bank of Japan yang memperlihatkan indeks kepercayaan bisnis industri manufaktur papan atas Jepang melemah secara beruntun di kuartal III tahun ini.

Sementara itu di bursa Korsel, Indeks Kospi melemah 0,31 persen walaupun survei aktivitas pabrikan swasta menguat di periode September untuk pertama kali sejak Maret 2018.

Indeks ASX200 (Australia) tumbang 0,71 persen disertai pelemahan sebagian besar sektor saham. Financial Sector dengan bobot terhadap indeks besar bergerak turun 1,5 persen. Saham di sektor tersebut seperti Commonwealth Bank of Australia turun 1,55 persen. AMP turun 1,88 persen. Tekanan yang terjadi pada sektor keuangan tersebut muncul terkait laporan sementara Komisi Kerajaan Australia sehubungan pelanggaran dalam sektor perbankan, supperannuition dan industri jasa keuangan dengan memaparkan contoh suap, penipuan, penipuan biaya dan penipuan di level pengurus sektor tersebut.

Hari Minggu kemarin, seorang pejabat senior pemerintah USA mengatakan bahwa USA dan Kanada telah menyepakati kesepakatan dagang baru menggantikan NAFTA. Kesepakatan baru ini disebut USMCA (United States-Mexico-Canada Agreement). USMCA muncul setelah negosiator USA dan Kanada bertemu secara marathon di USA mengejar tenggat waktu 30 September.

Sementara data yang dirilis pemerintah China memperlihatkan indeks manufaktur China melambat di periode September, turun ke level 50,0 dibanding level bulan Agustus di posisi 50,6. Sedangkan berdasarkan konsensus para analis diperkirakan pada posisi 50,5. Pelemahan tersebut dikaitkan dengan eskalasi perang dagang USA dan China yang semakin meningkat disertai penerapan tarif impor baru antar kedua negara pada 24 September lalu. Bahkan USA mengancam untuk penerapan tarif bagi semua produk China yang masuk ke USA.

Indeks dolar AS berada di posisi 95,190 (11:51 am) atau turun dari level tertingginya. Sedangkan nilai tukar USD terhadap yen menguat ke posisi 113,88 (11:52 am). Dolar Ausie melemah ke $0,7218.

Indeks Nikkei 225 (Jepang) +0,43% ke level 24.224. (11:46 am).

Indeks Hang Seng (Hong libur.

Indeks Shanghai (China) libur.

Indeks Straits Times (Singapura) +0,28% ke level 3.266. (12:00 pm).


Oil

Harga minyak Bent melaju ke level tertinggi jika dihitung sejak November 2014. Posisi tersebut ditorehkan pada perdagangan hari Senin (01/10) pagi di pasar Asia. Lonjakan harga ini terjadi menjelang pemberlakuan sanksi USA terhadap Iran yang dimulai bulan depan. Iran adalah negara produsen minyak ketiga terbesar dalam OPEC .
Minyak Brent naik 48 sen ke harga USD83,21 per barel (pukul 10:39 WIB). Harga minyak WTI melaju 32 sen ke harga USD73,57 per barel.


(cnbc/awsj/reuters/mk)

Sumber : admin


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author