Bursa Pagi: Asia Dibuka Mixed, IHSG Berpeluang Lanjutkan Kenaikan

Bursa Pagi: Asia Dibuka Mixed, IHSG Berpeluang Lanjutkan Kenaikan

Posted by Written on 01 October 2018


Ipotnews - Awali pekan ini, memasuki kuartal IV-2018, Senin (1/10), bursa saham Asia dibuka mixedcenderung menguat, terpengaruh oleh rilis data pelambatan pertumbuhan sektor manufaktur China.

Perdagangan saham hari ini dibuka dengan mencatatkan penurunan indeks ASX 200, Australia sebesar 0,52%, terbebani penurunan harga saham pada sebagian besar sektor, dipimpin kejatuhan harga saham perbankan sebesar 1,08%. Penurunan indeks berlanjut 0,55% (-34,30 poin) menjadi 6.173,30 pada pukul 8:20 WIB.

Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, Jepang mencatatkan kenaikan 0,42% (100,66 poin) ke level 24.220,70, setelah dibuka di level yang sama diwarnai rilis data hasil survei kepercayaan bisnis perusahaaan manufaktur besar yang turun selama 3 kuartal berturut-turut. Indeks Kospi, Korea Selatan dibuka menguat 0,1% dan berlanjut melemah 0,23% di posisi 2.337,59.

Bursa saham Hongkong dan China, hari ini libur.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) hari ini dihadapkan pada tren pergerakan indeks Asia yang bervariasi, setalh berhasil menutup pekan lalu dengan melaju 0,79% ke level 5.976. Sejumlah analis memperkirakan pergerakan IHSG hari ini masih berpotensi melanjutkan proses kenaikan jangka pendek terkatrol sentimen positif dari data perekonomian domestik. Secara teknikal, beberapa indikator memperlihatkan ada potensi penguatan lanjutan diwarnai sinyal jenuh beli.

Tim Riset Indopremier berpendapat, bervariasinya indeks bursa global dan regional serta naiknya beberapa komoditas seperti minyak mentah, minyak sawit, nikel, timah diprediksi akan menjadi sentimen positif untuk indeks harga saham gabungan. Sementara itu investor juga akan mencermati data inflasi di bulan September yang di perkirakan akan berada di level 3,05% yoy atau lebih rendaa dari bulan lalu di level 3,2%. IHSG diprediksi akan melanjutkan penguatannya dengan rentang support di level 5.925 dan resistance di 6.020.

Beberapa ekuitas yang direkomendasikan, antara lain;

  • Saham : ADRO (Buy, Support: Rp1.810, Resist: Rp1.860), BMRI (Buy, Support: Rp6.600, Resist: Rp6.850), CPIN (Buy, Support: Rp5.000, Resist: Rp5.150), UNTR (Buy, Support: Rp32.500, Resist: Rp33.500).

  • ETF : XPLC (Buy, Support: Rp489, Resist: Rp495), XBLQ (Buy, Support: Rp471, Resist: Rp481), XPDV (Buy, Support: Rp471, Resist: Rp479).

Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursaWall Street akhir pekan lalu berakhir cenderung mendatar. Namun para investor membukukan keuntungan kuartalan karena sepanjang kuartal ketiga 2018 semua indeks acuan membukukan kenaikan signifikan. Indeks S&P 500 naik 7,2%, kenaikan terbaik kuartalan sejak 2013. Indeks Nasdaq naik 7,1%, kenaikan kuartalan terbaik pertama kali sejak 2017, dan Dow Jones naik 9,3%. Sektor perawatan kesehatan membukukan kinerja terbaik di kuartal III, sebesar 14,1%, sementara sektor industri dan teknologi masing-masing naik 9,7% dan 8,5% pada kuartal III-2018.

Namun di kuartal IV, investor diperkirakan akan menghadapi ketidakpastian karena pelaksanaan pemilu sela AS yang berpotensi memanas di bulan November mendatang. AS dan Kanada belum menyepakati hubungan dagang dengan tenggat waktu 30 September. Data belanja konsumen AS periode Agustus naik 0,3%, sedangkan indeks pengeluaran pribadi (inflasi) di luar pangan dan energi tidak berubah.

Dow Jones Industrial Average naik 0,07% (18,38 poin) di posisi 26.458.

Standard&Poor's 500 turun tipis 0,02% (-0,02 poin) di level 2.913.

Nasdaq Composite menguat 0,05% (4,39 poin) menjadi 8.046.

Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange naik 0,57% menjadi USD22,97.

Bursa saham utama Eropa akhir pekan alu ditutup melemah, tertekan oleh keputusan koalisi pemerintahan Italia yang menyepakati target defisit anggaran 2,4% dalam 3 tahun ke depan, lebih tinggi dari perkiraan. Saham perbankan Italia rontok hingga 7,3% karena aksi jual obligasi pemerintah, dan investor mencemaskan rating perbankan Italia.

Indeks Stoxx 600 melorot 0,83% menjadi 383,18, terseret kejatuhan indeks sektor perbankan Eropa sebesar 3,9%, terburuk dalam 4 tahun. Namun Stoxx 600 masih berhadil menyelamatkan kenaikan sepanjang kuartal III-2018 sebesar 1%. Di bursa Italia, indeks FTSE MIB, FTMIB melorot 3,7%. Rilis data inflasi zona euro periode September memperlihatkan kenaikan 2,1%, namun inflasi inti melempem 0,9%.

FTSE 100 London turun 0,47% (-35,24 poin) menjadi 7.510.

DAX 30 Frankfurt anjlok 1,52% (-188,86 poin) ke level 12.246.

CAC 40 Paris merosot 0,85% (-46,92 poin) ke posisi 5.493.


Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York akhir pekan lalu ditutup menguat di posisi tertinggi dalam 2 pekan. Penguatan dolar didukung prospek kenaikan suku bunga the Fed hingga tahun 2020. Sementara itu, kekhawatiran atas beban defisit anggaran Italia menekan euro, dan yen melemah terhadap dolar ke level terendah dalam 9 bulan. Apresiasi dolar juga ditopang rilis data belanja konsumen AS yang naik 0,3% selama Agustus, mendukung target inflasi The Fed sebesar 2%.

Indeks Manufaktur periode September di posisi 60,4, sedikit lebih rendah dari perkiraan. Indeks sentimen konsumer di level 100,1, juga di bawah ekspektasi, tapi masih tertinggi sejak Maret. Indeks dolar AS yang mengukur kurs greenback terhadap enam mata uang negara majunaik 0,25% ke posisi 95,13. Selama kuartal III tahun ini, indeks dolar AS naik 0,5%, membukukan kenaikan kuartalan secara berturut-turut, atau naik 6% dalam 6 bulan terakhir.


Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% Change
Euro (EUR-USD)1.1604-0.0037-0.32%
Poundsterling (GBP-USD)1.3031-0.0048-0.37%
Yen (USD-JPY)113.700.32+0.28%
Yuan (USD-CNY)6.8689-0.0214-0.31%
Rupiah (USD-IDR)14,902.50-20.00-0.13%

Sumber : Bloomberg.com, 28/9/2018 (ET)



Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges mengakhiri pekan lalu dengan membukukan kenaikan signifikan. 

Harga Brent melambung ke posisi tertinggi dalam 4 tahun, menyentuh USD82,87 per barel terangkat oleh sanksi ekspor minyak Iran. AS meminta pembeli minyak Iran menghentikan impor untuk memaksa Iran negosiasi kesepakatan baru program nuklir serta menahan pengaruhnya di Timur Tengah. Arab Saudi dan beberapa negara OPEC mempertimbangkan tambahan produksi minyak 500.000 barel per hari.

Riset ANZ dalam risetnya menyatakan negara pemasok minyak tidak mungkin mengimbangi kekurangan suplai akibat sanksi Iran yang diperkirakan 1,5 juta barel per hari. Pada Mei 2018 lalu, ekspor minyak Iran mencapai 2,71 juta barel per hari, mendekati 3 persen konsumsi minyak global. Selama kuartal ketiga tahun ini, harga minyak Brent naik 4%. Harga WTI sempat mencapai USD73,73 per barel, naik 1,2% secara kuartalan.

Harga minyak mentah berjangka Brent naik 1,2% menjadi USD82,72 per barel.

Harga minyak mentah berjangka WTI naik 1,6% menjadi USD73,25 per barel.

Harga emasdi bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange menutup pekan lalu dengan melorot ke level terendah dalam 6 pekan, seiring penguatan dolar AS setelah optimisme pada data perekonomian USA mendukung the Fed untuk menaikkan suku bunga. Data pesanan barang tahan lama AS periode Agustus naik 4,5%, rebound dari periode sebelumnya sebesar 1,2%.Emas memasuki masa penurunan harga terpanjang secara bulanan sejak Januari 1997. Harga emas merosot 1,6% sepanjang September lalu, sempat menyentuh level terendah sejak 17 Agustus di level USD1.180,34 per once.

Harga emas spot naik 0,9% menjadi USD1.192,53 per ounce.

Harga emas berjangka naik 0,7% menjadi USD1.196,10 per ounce.

(AFP, CNBC , Reuters)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author