Bursa Sore: Aksi Profit Taking Jelang Meeting The Fed Tekan Pergerakan IHSG

Bursa Sore: Aksi Profit Taking Jelang Meeting The Fed Tekan Pergerakan IHSG

Posted by Written on 24 September 2018


Ipotnews - Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) melemah ke zona negatif pada akhir perdagangan hari Senin (24/9). IHSG terpangkas -1,27 persen (-76 poin) ke level 5.882.

Indeks LQ45 -1,64% ke leavel 927 poin. IDX30 -1,66% ke level 507 poin. Indeks JII -1,37% ke level 648. Indeks Kompas100 -1,58% ke level 1.195. Indeks Sri Kehati -1,31% ke posisi 348. Indeks Sinfra 18 -1,52% ke level 305.

Saham-saham teraktif yang diperdagangkan adalah TRAMBMTRBHITKPIGLANDBBRI dan IMAS

Saham-saham top gainer LQ45 di antaranya SRILBBCATPIABJBR dan JSMR

Saham-saham top loser: WSKTWSBPLPKRMEDCBKSLPTBA dan BRPT

Nilai transaksi yang terjadi mencapai Rp6,67 triliun dengan volume trading sebanyak 99,33 juta lot saham. Pemodal asing aksi beli bersih (net buy) senilai Rp587,30 miliar.

Sektor konsumer dan tambang menjadi penekan utama laju IHSG . Kedua sektor tersebut melemah masing-masing -1,59 persen dan -1,56 persen.

Tim Riset Indo Premier Sekuritas memaparkan aksi profit taking investor jelang meeting the Fed serta melemahnya nilai tukar rupiah menjadi sentimen negatif yang mendorong pelemahan indeks.

Nilai tukar rupiah -0,33 persen ke level Rp14.868 (pukul 04:00 pm)


Bursa Asia

Ipotnews - Pasar saham Asia oleng pada jeda perdagangan hari Senin (24/9) dalam aktivitas perdagangan yang tipis. Keputusan China membatalkan negosiasi tarif impor dengan USA memicu kekhawatiran proteksi perdagangan. Sementara harga minyak rally seiring Arab Saudi mengabaikan kenaikan pasokan untuk meredam harga .

Indeks MSCI Asia Pasifik (tidak termasuk bursa saham Jepang) melemah 1 persen. Market saham Hong Kong memperlihatkan pelemahan terburuk.

Sebagian besar aktivitas pasar saham dan finansial bursa utama Asia seperti Jepang (Nikkei 225), China (Shanghai) dan Korsel (Indeks Kospi) libur nasional.

Para pemodal kembali fokus kepada perang dagang antara USA dan China seiring China menerapkan tarif impor terhadap barang USA senilai USD60 miliar, membalas tarif impor yang diterapkan USA kepada barang asal China senilai USD200 miliar. Kebijakan USA tersebut efektif berlaku pada Senin awal pekan ini.

Pemerintah China juga membatalkan negosiasi perang dagang tingkat pejabat menengah dengan USA serta mengusulkan kunjungan Wakil PM Liu He ke USA yang dijadwalkan pada pekan ini, demikian menurut laporan Wall Street Journal. Sementara di sisi lain, pemerintah USA tidak menentukan jadwal untuk proses negosiasi selanjutnya.

"Ini memperlihatkan China tidak akan mempertahankan negosiasi perang dagang di bawah ancaman tarif impor," kata Frances Cheung, Head of Asia Macro Strategy pada lembaga Westpac.

Menurutnya jika USA memakai ancaman sebagai taktik, hal itu tidak akan bekerja. Cheung menambahkan pasar punya ekspektasi rendah bahwa kesepakatan dapat dicapai sebelum pemilu sela di USA.

Sengketa yang kian intensif antara dua raksasa ekonomi global tersebut telah memicu kekhawatiran pelaku pasar finansial terhadap kemungkinan pertumbuhan ekonomi global yang akan terganggu.

Nilai tukar yen menguat ke level 112,6 terhadap dolar AS, bangkit dari pelemahan terendah dalam 2 bulan terakhir. Sedangkan dolar Australia tumbang ke posisi $0,7263 dari posisi terkuat dalam 3,5 pekan terakhir.

"Baik China maupun USA sedang menggali dan sedang meningkatkan wacana perang ideologi perdagangan karena ini tentang penerapan kembali tarif perdagangan," kata John Bilton, Head of Global multi-asset strategy pada lembaga JP Morgan Asset Management.

Menurut dia, sebagai akibatnya baik secara luas maupun dalam dampaknya terhadap perekonomian sedang dipertimbangkan ulang. Bilton menambahkan, pihaknya terus mengkonstruksi perekonomian global melewati kuartal demi kuartal mendatang. "Ini sulit melihat lonjakan aktivitas (ekonomi) USA dari periode ke periode lain dalam koordinasi pertumbuhan ekonomi global," ujarnya.

Indeks dolar AS ke posisi 94,315 sedikit di atas posisi terendah jika dihitung sejak awal bulan Juli tahun ini. Euro melemah ke posisi $1,1733, turun dari posisi terkuat dalam 3 bulan terakhir.

Dolar As terpukul per perdagangan pekan lalu seiring spekulasi investor yang meningkat bahwa the Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebagaimana ekspektasi pada pekan ini. The Fed akan mengakhiri meeting dalam 2 hari di pekan ini pada hari Rabu mendatang (waktu USA).

Indeks Nikkei 225 (Jepang) libur

Indeks Hang Seng (Hong Kong) -1,62% ke level 27.499.

Indeks Shanghai (China) libur

Indeks Straits Times (Singapura) +0,05% ke level 3.219.


Bursa Eropa

Pasar saham Eropa melemah di menit-menit awal perdagangan hari Senin (24/9) pagi waktu setempat. Para investor bersiap menghadapi kebimbangan lain sehubungan putaran negosiasi dagang USA dan China.

Indeks FTSE (Inggris) -0.29% ke posisi 7.468.

Indeks DAX (Jerman) -0.49% di level 12.369.

Indeks CAC (Perancis) -0.23% pada posisi 5.481.


Oil

Harga minyak menguat pada perdagangan hari Senin (24/9) seiring sanksi USA melarang ekspor minyak Iran sehingga membuat ketat pasokan global. Para trader memperkirakan harga minyak dapat mengarah ke harga USD100 per barel.

Minyak Brent ke harga tertinggi di USD80,47 per barel bila dihitung sejak bulan Mei, naik USD1,63 (2 persen) sebelum akhirnya turun ke harga USD80,40 per barel (14:30 WIB). Sedangkan harga minyak WTI melaju USD1,18 ke harga USD71,96 per barel.



(cnbc/awsj/reuters/mk)

Sumber : admin


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author