Bursa Pagi: Asia Dibuka Tak Bergairah, Laju IHSG Rentan Terkoreksi

Bursa Pagi: Asia Dibuka Tak Bergairah, Laju IHSG Rentan Terkoreksi

Posted by Written on 24 September 2018


Ipotnews - Awali pekan ini, di pekan terakhir September, Senin (24/9), bursa saham Asia dibuka tidak bergairah, dengan mencatatkan indeks ASX 200, Australia di zona merah, turun 0,17%, terbebani penurunan harga saham sektor keuangan sebesar 0,13%. Penurunan indeks berlanjut 0,26% (-16,10 poin) menjadi 6.178,50 pada pukul 8:15 WIB.

Bursa saham Jepang, Korea Selatan dan China hari ini libur.Indeks Hang Seng, Hongkong dibuka anjlok 0,61% (-169,73 poin) pada pukul 8:35 WIB.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pagi ini dihadapkan pada tren pergerakan indeks di bursa saham global dan regional yang cenderung menurun, setelah mengakhiri sesi perdagangan pekan lalu dengan menguat 0,45% ke level 5.957. Sejumlah analis memperkirakan, pergerakan IHSG hari ini masih bergerak dalam fase konsolidasi berupaya melanjutkan kenaikan jangka pendek menuju 6.000, meski berpotensi terkoreksi wajar. Secara teknikal, beberapa indikator memperlihatkan adanya potensi koreksi wajar pada pergerakan IHSG , mendekati area jenuh beli.

Tim Riset Indo Premier berpendapat, meredanya kekhawatiran akan perang dagang AS-China diprediksi masih akan menajdi sentimen positif di pasar. Menguatnya harga babubara dan realisasi penerimaan APBN yang cukup bagus akan menjadi tambahan sentimen positif di pasar. IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung menguat dengan rentang support di level 5.925 dan resistance di 5.990.

Beberapa ekuitas yang direkomendasikan, antara lain:

  • Saham : ANTM (Buy, Support: Rp800, Resist: Rp840), LSIP (Buy, Support: Rp1.295, Resist: Rp1.335), BBNI (Buy, Support: Rp7.425, Resist: Rp7.875), BDMN (Buy, Support: Rp7.175, Resist: Rp7.375).

  • ETF : XPLC (Buy, Support: Rp490, Resist: Rp496), XBLQ (Buy, Support: Rp472, Resist: Rp478), XPDV (Buy, Support: Rp472, Resist: Rp478).

Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursaWall Street akhir pekan lalu ditutup cenderung melemah setelah menjalani sesi perdagangan yang dinamis diwarnai rilis beberapa data terbaru ekonomi AS. Dow Jones menguat didukung reli saham McDonald dan Boeing masing-masing melompat 2,80% dan 1,30%. Indeks Dow Jones melejit 2,2% sepanjang pekan lalu, sedangkan S&P 500 dan Nasdag naik sekitar 1%. Sektor telekomunikasi memimpin kenaikan dari 11 sektor utama indeks S&P 500, sementara sektor keuangan memimpin penurunan sebesar 0,36%.

Beberapa saham teknologi AS jatuh, membebani Nasdaq. Saham Facebook dan Alphabet melemah menjelang perpindahan dari sektor teknologi ke sektor jasa komunikasi, Senin ini. Indeks Pembelian Manajer (PMI) IHS Markit Flash AS periode September yang disesuaikan secara musiman tercatat di 55,6 , naik dari 54,7 pada Agustus. Sementara itu, Indeks Aktivitas Bisnis PMI Markit Flash AS turun ke 52,9 dari 54,8 pada Agustus, sinyal ekspansi terlemah dari output sektor jasa sejak Maret 2017.

Dow Jones Industrial Average naik 0,32% (86,52 poin) menjadi 26.743,50.

Standard&Poor's 500 melemah 0,04% (-1,08 poin) di posisi 2.929,67.

Nasdaq Composite melorot 0,51% (-41,28 poin) ke level 7.986,96.

Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange turun 0,30% menjadi USD23,23.
Bursa saham utama Eropa akhir pekan lalu ditutup menguat signifikan, seiring meredanya kekhawatiran akan perang dagang. Investor memburu saham-saham yang sudah murah valuasinya, setelah terimbas sentimen perang dagang. Indeks Stoxx 600 naik 0,43% menjadi 384,29, ditopang kenaikan harga saham sektor pertambangan sebesar 1,71% yang dipimpin lompatan harga saham Kaz Minerals hingga 10%. Saham Antofagasta, Glencore, Anglo American dan BHP Billiton melesat lebih dari 3.5%.

Harga saham sektor otomotif sempat melesat 1,9%, namun hanya menyisakan kenaikan 0,4% pada penutupan karena profit taking.Namun secara keseluruhan indeks Stoxx melonjak 1,70% sepanjang pekan lalu. Rilis data pertumbuhan bisnis zona Eropa periode September memperlihatkan pelemahan. Momentum sentimen nilai tukar yang telah melewati titik puncaknya, dinilai berdampak minim terhadap perdagangan. Rilis indeks PMI flash zona Eropa periode September sebesar 54,2 lebih rendah dari ekspektasi sebesar 54,4.

FTSE 100 London melonjak 1,67% (122,91 poin) ke level 7.490.

DAX 30 Frankfurt melaju 0,85% (104,40 poin) ke posisi 12.430.

CAC 40 Paris naik 0,78% (42,58 poin) menjadi 5.494.


Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York akhir pekan lali ditutup menguat, setelah Perdana Menteri Inggris Theresa May mengatakan Uni Eropa harus menyediakan proposal alternatif Brexit, setelah pembicaraan menemui jalan buntu karena para pemimpin blok itu menolak rencananya. 

Poundsterling turun 1,5% terhadap dolar, penurunan harian terbesar sejak Juni 2017. Indeks dolar AS naik 0,33% menjadi 94,220. Namun secara mingguan indeks dolar melemah lebih dari 1%, karena investor mengkonsolidasikan posisi sebelum akhir pekan.


Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% Change
Euro (EUR-USD)1.1749-0.0028-0.24%
Poundsterling (GBP-USD)1.3072-0.0193-1.45%
Yen (USD-JPY)112.590.100+0.09%
Yuan (USD-CNY)6.85710.0103+0.15%
Rupiah (USD-IDR)14,816.50-32.50-0.22%

Sumber : Bloomberg.com, 21/9/2018 (ET)


Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges akhir pekan lalu ditutup sedikit menguat, setelah sempat mencatatkan kenaikan tajam. Harga minyak Brent sempat mencapai USD80,12 per barel, dan WTI mencapai USD71,80 per barel. Reli harga minyak perlahan-lahan berbalik arah, setelah Reuters memberitakan bahwa 15 negara anggota OPEC dan beberapa negara produsen minyak non OPEC mendiskusikan potensi kenaikan produksi sebesar 500 ribu barel per hari, menjelang pertemuan OPEC di Aljazair pada akhir pekan. Analis mengataknan kenaikan produksi 500 ribu barel adalah cara Arab Saudi menenangkan Gedung Putih yang selalu menuding OPEC selalu berupaya menaikkan harga minyak.

Harga minyak mentah berjangka Brent naik 11 sen menjadi USD78,81 per barel.

Harga minyak mentah berjangak WTI naik 46 sen menjadi USD70,78 per barel.

Harga emasdi bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange mengakhiri pekan lalu dengan ditutup melemah tertekan penguatan nilai tukar dolar AS. Para pemodal menunggu hasil rapat kebijakan The Fed pada 25-26 September nanti yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan. Para hedge fund memangkas posisi jangka pendek pada investasi emas di bursa komoditas COMEX. Goldman Sachs memangkas proyeksi harga emas di tenor 3,6 dan 12 bulan tetapi menyatakan terdapat sinyal bahwa secara fundamental pasar emas sedang berubah terpengaruh pelemahan dolar AS akhir-akhir ini, serta rebound aksi beli emas di China dan India.

Harga emas di pasar spot turun 0,7% menjadi USD1.199,17 per ounce.

Harga emas untuk pengiriman Desember turun 0,6% menjadi USD1.204,30 per ounce.



(AFP, CNBC , Reuters)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author