Bursa Sore: Efek Perang Dagang Melonggar, IHSG Teruskan Penguatan

Bursa Sore: Efek Perang Dagang Melonggar, IHSG Teruskan Penguatan

Posted by Written on 20 September 2018


Ipotnews - Laju Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) berlanjut pada akhir perdagangan hari Kamis (20/9). IHSG melaju +0,98 persen (+57 poin) ke level 5.931.

Indeks LQ45 +1,63% ke leavel 938 poin. IDX30 +1,61% ke level 513 poin. Indeks JII +1,42% ke level 655. Indeks Kompas100 +1,39% ke level 1.208. Indeks Sri Kehati +1,35% ke posisi 351. Indeks Sinfra 18 +1,59% ke level 308.

Saham-saham teraktif yang diperdagangkan adalah PNLFBMTRKPIGBBRIDYANBHIT dan INKP

Saham-saham top gainer LQ45 di antaranya BRPTINCOBMRISSMSADROMNCN dan MEDC

Saham-saham top loser: BBCAJSMRBSDE dan EXCL

Nilai transaksi yang terjadi mencapai Rp7,42 triliun dengan volume trading sebanyak 93,70 juta lot saham. Pemodal asing aksi beli bersih (net buy) senilai Rp221,44 miliar.

Sektor industri dasar dan aneka industri menjadi penopang utama laju IHSG . Kedua sektor tersebut menguat masing-masing +1,82 persen dan +1,21 persen.

Nilai tukar rupiah +0,04 persen ke level Rp14.844 (pukul 04:00 pm)


Bursa Asia

Market saham Asia menguat pada perdagangan hari Kamis (20/9) seiring spekulasi para pemodal bahwa pertumbuhan ekonomi USA yang kuat akan mengimbangi pelemahan yang ditimbulkan dari perang dagang USA dan China.

Para investor menempatkan pandangan dalam jangka lebih lama, memperhitungkan pelemahan butuh waktu untuk muncul dalam kinerja laba emiten dan tidak menimbulkan gejolak pasar saham yang tajam.

Indeks MSCI Asia Pasifik menguat 0,1 persen.

Di bursa Jepang Indeks Nikkei 225 flat dan Indeks Topix menguat 0,11 persen. Sedangkan Indeks Kospi (Korsel) menguat 0,65 persen dengan dukungan penguatan saham-saham unggulan.

Indeks Shenzhen di bursa China drop 0,23 persen diikuti pelemahan pada Indeks Shanghai yang mampir di zona merah. Penguata terjadi pada Indeks Hang Seng di bursa Hong Kong. Indeks ASX200 (Australia) melemah 0,33 persen.

Pasar saham USA menguat pada Rabu terkait ekspektasi bahwa dampak perang dagang USA-China lebih minim dibanding ketakutan yang ada. Kebijakan fiskal dan tax USA berpotensi mengatasi apapun dampak negatif tersebut.

Rally bursa global tersebut disertai jatuhnya pasar obligasi USA dan Jepang. Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun pada trading Rabu kemarin menyentuh level tertinggi sejak 18 Mei. Yield tersebut di 3,0626 persen pada hari Kamis ini dibandingkan dengan closing sesi sebelumnya di level 3,083 persen.

Rob Carnell, Ekonom dan Kepala Riset Asia Pasifik pada lembaga ING, menilai bahwa dia melihat banyak alasan terkait aksi jual di emering market. "Saya kerap mencari hal-hal buruk dan ada banyak sentimen buruk di sana dan market tampak tidak benar-benar merespon semua itu," ujarnya.

Lonjakan yield tersebut terjadi menjelang ekspektasi Hawkish pada meeting the Fed pada pekan depan. Survei Reuters memperkirakan the Fed akan menaikkan suku bunga acuan pada meeting 25-26 September pekan depan. Ekspektasi tersebut menyusul perkiraan kenaikan suku bunga lebih dari sekali sebelum akhir tahun ini, menempatkan fed fund rate pada kisaran 2,25 persen-2,50 persen.

Nilai tukar dolar AS turun 0,1 persen terhadap yen ke posisi 112,13 yen. Euro menguat 0,1 persen terhadap USD ke $1,1683. Indeks dolar AS melemah 0,1 persen ke posisi 94,478.

Indeks Nikkei 225 (Jepang) +0,01% ke posisi 23.674.

Indeks Hang Seng (Hong Kong) +0,26% ke level 27.477.

Indeks Shanghai (China) -0,06% ke posisi 2.729.

Indeks Straits Times (Singapura) +0,12% ke level 3.180.


Bursa Eropa

Pasar saham Eropa menguat di menit-menit awal perdagangan hari Kamis (20/9) pagi waktu setempat. Market saham Eropa mengekor jejak penguatan Wall Street karena para pemodal tampak mengendurkan kekhawatiran terhadap perang dagang antara USA dan China. Indeks acuan bursa Eropa, the Stoxx 600 menguat 0,1 persen.

Indeks FTSE (Inggris) +0.14% ke posisi 7.341.

Indeks DAX (Jerman) +0.21% ke level 12.244.

Indeks CAC (Perancis) +0.40% di posisi 5.415.


Oil

Harga minyak menguat pada perdagangan hari Kamis (20/9) sore setelah beredar kabar penurunan persediaan di USA dan sinyal OPEC yang mungkin tidak menaikkan produksi cukup untuk mengatasi penyusutan ekspor Iran yang terkena sanksi USA.

Minyak Brent naik 20 sen ke harga USD79,60 per barel (pukul 14:40 WIB). Harga minyak WTI melaju 40 sen ke harga USD71,52 per barel.

(cnbc/awsj/reuters/mk)

Sumber : admin


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author