Bursa Siang: IHSG Tertekan, AS Resmi Berlakukan Pajak Impor Produk China

Bursa Siang: IHSG Tertekan, AS Resmi Berlakukan Pajak Impor Produk China

Posted by Written on 18 September 2018


Ipotnews - Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) takluk di zona merah pada akhir perdagangan sesi pagi, hari Selasa (18/9). IHSG melemah -0,50 persen (-29 poin) ke level 5.795.

Indeks LQ45 -0,69% ke leavel 907 poin. IDX30 -0,64% ke level 496 poin. Indeks JII -0,49% ke level 632. Indeks Kompas100 -0,55% ke level 1.172. Indeks Sri Kehati -0,48% ke posisi 341. Indeks Sinfra 18 -0,80% ke level 297.

Saham-saham teraktif yang diperdagangkan adalah ABBAPTBABMRIINDFUNTRCPIN dan TKIM

Saham-saham top gainer LQ45 di antaranya PTBAASIIBKSLSRILTLKMINTP dan BBNI

Saham-saham top loser: BBCAINKPBRPTINDYADHIBBTN dan KLBF

Nilai transaksi yang terjadi mencapai Rp3,19 triliun dengan volume trading sebanyak 55,55 juta lot saham. Pemodal asing aksi beli bersih (net buy) senilai Rp19,48 miliar.

Sektor konsumer dan properti menjadi penekan utama laju IHSG . Kedua sektor tersebut melambat masing-masing -1,53 persen dan -0,87 persen.

Nilai tukar rupiah -0,03 persen ke level Rp14.925 (pukul 12:00 pm)


Bursa Asia

Pasar saham Asia bergerak mixed pada sesi pagi perdagangan hari Selasa (18/9) menyusul eskalasi terkini konflik dagang antara USA dan China.

Indeks ASX200 melemah 0,48 persen seiring pelemahan pada sektor energi sebesar 1,62 persen. Pada sesi pagi risalah bank sentral Australia telah menyoroti ketegangan global dari kebijakan perdagangan yang telah menghasilkan prospek risiko yang bersifat materi.

Namun market saham Jepang mengarah ke zona hijau. Indeks Topix naik 1,66 persen dan begitu pula Indeks Nikkei 225 yang ke area hijau.

Sementara di bursa Korsel, Indeks Kospi naik 0,12 persen seiring pergerakan mixed saham-saham blue chips. 

Di pasar saham Hong Kong, Indeks Hang Seng di zona merah tertekan saham unggulan tekno, Tencent yang turun 2,13 persen. Sedangkan pasar saham China juga melemah. Indeks Shenzhen turun 0,345 persen.

Pada pernyataan hari Senin kemarin, Presiden AS Donald Trump akan menerapkan tarif impor sebesar 10 persen terhadap barang asal China senilai USD200 miliar dan pajak impor tersebut akan naik menjadi 25 persen pada akhir tahun. Gedung Putih menghapus 300 item barang dari daftar usulan sebelumnya, di antaranya smart watches, produk kimia serta produk lain seperti helm sepeda dan kursi. China menyatakan akan membalas kebijakan AS tersebut.

Para analis mengatakan fokus market sekarang akan beralih menuju respon China terhadap kebijakan resmi AS tersebut.

"China mungkin terbatas kemampuannya untuk menerapkan tarif yang sama dalam hal volume tetapi ini masih dapat berakibat menganggu sistem mata rantai AS dengan ekspor produk tekno sebagai target yang jelas serta pembatalan negosiasi dagang juga adalah kemungkinan untuk meredam suasana," ujar Rodrigo Catril, Analis National Australia Bank.

Kurs Yen melemah terhadap dolar AS ke level 111,95. Sedangkan dolar Australia menguat ke posisi $0,7190 (pukul 12.24 pm). Indeks dolar AS ke posisi 94,481 atau melemah dibandign level pada sesi sebelumnya di 94,800.

Kalangan analis pasar uang dari Commonwealth Bank of Australia menilai jika China menarik dari dari negosisasi dagang dengan AS sebagai respon kebijakan tarif impor,dolar AS kemungkinan pulih dari pelemahannya pada belakangan ini.

Indeks Nikkei 225 (Jepang) +1,36% ke posisi 23.408. (11:40 am)

Indeks Hang Seng (Hong Kong) -0,74% ke level 26.732


Indeks Shanghai (China) -0,12% ke posisi 2.648

Indeks Straits Times (Singapura) -0,58% ke level 3.123. (12:00 pm)


Oil

Harga minyak melemah pada perdagangan hari Selasa (18/9) pagi waktu perdagangan Asia. Laju harga minyak seiring kekhawatiran eskalasi terkini perang dagang AS-China membuat muram prospek demand energi pada kedua negara yang merupakan penyerap energi terbesar di dunia.

Minyak Brent drop 44 sen ke harga USD77,61 per barel (pukul 11:24 WIB). Harga minyak WTI melemah 28 sen ke harga USD68,62 per barel.


(cnbc/awsj/reuters/mk)

Sumber : admin


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author