Bursa Siang: USA-China Jeda Perang Dagang, IHSG Kembali Menguat

Bursa Siang: USA-China Jeda Perang Dagang, IHSG Kembali Menguat

Posted by Written on 13 September 2018


Ipotnews - Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) berada di zona hijau pada akhir perdagangan sesi pagi, hari Kamis (13/9). IHSG melompat +0,95 persen (+55 poin) ke level 5.853.

Indeks LQ45 +1,09% ke leavel 920 poin. IDX30 +1,21% ke level 504 poin. Indeks JII +1,00% ke level 640. Indeks Kompas100 +1,17% ke level 1.187. Indeks Sri Kehati +1,61% ke posisi 345. Indeks Sinfra 18 +1,96% ke level 304.

Saham-saham teraktif yang diperdagangkan adalah TLKMBBRIFRENBBCAPGASASII dan SMGR

Saham-saham top gainer LQ45 di antaranya MEDCTLKMBKSLBMRIBBTNBSDE dan BBNI

Saham-saham top loser: ICBPADROBJBRPGASSCMAINDF dan TPIA.

Nilai transaksi yang terjadi mencapai Rp3,41 triliun dengan volume trading sebanyak 56,19 juta lot saham. Pemodal asing aksi jual bersih (net sell) senilai -Rp149,92 miliar.

Sektor infrastruktur dan keuangan menjadi penopang utama laju IHSG . Kedua sektor tersebut menguat masing-masing +2,23 persen dan +1,58 persen.

Nilai tukar rupiah -0,18 persen ke level Rp14.834 (pukul 12:00 pm)


Bursa Asia

Market saham Asia menguat seiring pemerintah USA mengajak China maju ke meja perundingan baru membahas sengketa dagang. Hal tersebut meningkatkan harapan bahwa kesepakatan dapat dicapai dalam masalah sengketa tarif impor antar kedua negara.

Pada perdagangan sesi pagi hari Kamis (13/9), Indeks MSCI Asia Pasifik meningkat 0,6 persen, sehari setelah menyentuh level terendah dalam 14 bulan terakhir.

Pasar saham China bergerak menguat di tengah harapan redanya sengketa dagang tetapi eforia tersebut tak berlangsung lama karena perlahan penguatan tersebut terpangkas sehingga hanya naik tipis di sesi pagi akhir. 

Indeks Nikkei 225 di bursa Tokyo juga bergerak menguat.

Di bursa Korsel, Indeks Kospi naik 0,14 persen. Indeks Shenzhen (China) menguat 0,624 persen. Sementara Indeks ASX200 (Australia) melemah 0,53 persen.

Perkembangan muncul seiring lebih dari 85 asosiasi industri di USA merilis koalisasi pada hari Rabu kemarin. Koalisasi ini memprotes kebijakan tarif impor yang dilakukan Presiden Donald Trump.

Kebijakan tarif impor Trump telah meningkat jauh melampaui apa yang dibayangkan oleh pelaku asosiasi industri saat pemerintah USA bersiap mengaktifkan tarif impor terhadap barang asal China senilai USD200 miliar. Hal tersebut telah memukul berbagai macam produk IT serta barang konsumsi.

"Dukungan publik terhadap Trump melemah pada pekan-pekan belakangan ini disertai Partai Demokrat tampak cenderung untuk mendekat ke House of Representatives. Dia (Trump) mungkin butuh semacam prestasi dalam sektor perdagangan menjelang pemilu sela mendatang," ujar Mutsumi Kagawa, Chief Global Strategist pada Rakuten Securities yang berbasis di Tokyo.

Kagawa menambahkan, bisa saja terjadi perubahan kebijakan Trump di sektor perdagangan. Menurut Kagawa, Trump pasti akan tetap mempertahankan gaya retorika garis kerasnya tetapi pemerintahannya mungkin berusaha untuk membuat beberapa kesepakatan dibalik layar.

Sementara itu Analis pada JP Morgan Asset Mangement (Hong Kong),Tai Hui menilai setuju dengan langkah tersebut akan membantu dalam jangka pendek walaupun jalan menuju ke arah tersebut masih rumit. Hui menilai konsesi yang diberikan China yang ditawarkan pada awal tahun ini tidak memuaskan Trump. "China tidak dapat menawarkan lebih banyak lagi, khususnya jika ini melibatkan penyesuaian kebijakan China 2025 yang telah dibuat.

Indeks Nikkei 225 (Jepang) +0,98% ke posisi 22.827. (11:46 am)

Indeks Hang Seng (Hong Kong) +1,46% ke level 26.729.

Indeks Shanghai (China) +0,14% ke posisi 2.659.

Indeks Straits Times (Singapura) +0,15% ke level 3.129. (12:00 pm)


Oil

Harga minyak melorot pada perdagangan hari Kamis (13/9) pagi waktu perdagangan Asia. Pelemahan harga ini seiring kekhawatiran perekonomian meningkatkan keraguan atas keberlangsungan pertumbuhan demand terhadap energi.

Minyak WTI drop 46 sen ke harga USD69,91 per barel (pukul 09:20 WIB). Harga minyak Brent turun 38 sen ke harga USD79,36 per barel.


(cnbc/awsj/reuters/mk)

Sumber : admin


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author