Bursa Siang: Bursa Regional Redup, IHSG Rebound

Bursa Siang: Bursa Regional Redup, IHSG Rebound

Posted by Written on 12 September 2018


Ipotnews - Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) berada di zona hijau pada akhir perdagangan sesi pagi, hari Rabu (12/9). IHSG melompat +0,37 persen (+21 poin) ke level 5.852.

Indeks LQ45 +0,23% ke leavel 923 poin. IDX30 +0,29% ke level 505 poin. Indeks JII +0,30% ke level 639. Indeks Kompas100 +0,31% ke level 1.187. Indeks Sri Kehati +0,17% ke posisi 346. Indeks Sinfra 18 +0,28% ke level 302.

Saham-saham teraktif yang diperdagangkan adalah ABBAERAABBRITLKMTRAMADRO dan MITI.

Saham-saham top gainer LQ45 di antaranya AKRAPTBAEXCLITMGMEDCBJBR dan UNVR.


Nilai transaksi yang terjadi mencapai Rp3,12 triliun dengan volume trading sebanyak 48,72 juta lot saham. Pemodal asing aksi jual bersih (net sell) senilai -Rp120,37 miliar.

Sektor konsumsi dan pertambangan menjadi penopang utama laju IHSG . Kedua sektor tersebut menguat masing-masing +1,11 persen dan +1,08 persen.

Nilai tukar rupiah -0,37 persen ke level Rp14.885 (pukul 12:00 pm)


Bursa Asia

Market saham Asia melemah ke posisi terendah dalam 14 bulan terakhir pada perdagangan sesi pagi hari Rabu (12/9). Kepercayaan para investor redup oleh ancaman verbal dalam sengketa dagang antara USA dan China.

Indeks MSCI Asia Pasifik melemah 0,3 persen, merupakan penurunan ke posisi terendah sejak Juli 2017. Pasar saham Hong Kong dalam tekanan dan begitu pula dengan bursa saham China serta Jepang.

Di bursa Australia, Indeks ASX 200 turun tipis 0,1 persen dan Indeks Kospi (Korsel) turun 0,2 persen.

Sentimen pasar diredupkan oleh perang retorika antara USA dan China seiring eskalasi tensi perang dagang yang berlangsung berbulan-bulan antara kedua negara raksasa ekonomi global tersebut. Perang verbal tersebut mengantarkan investor menghindari aset lebih berisiko.

Pemerintah China kepada World Trade Organization (WTO) pada hari Selasa kemarin mengatakan akan menerapkan tarif impor terhadap barang asal USA senilai USD7 miliar sebagai pembalasan atas ketidakpatuhan terhadap putusan dalam sengketa bea dumping USA.

Market saham Asia dan secara lebih luas emerging market menghadapi tekanan jual terus-menerus dalam bulan belakangan ini seiring bangkitnya tensi perang dagang dan kekhawatiran tentang krisis di Turki dan Argentina.

Sementara market kawasan lain masih memperlihatkan ketangguhan. Bursa saham Wall Street menguat pada trading hari Selasa kemarin dimotori saham Apple Inc yang menjadi lokomotif penguatan saham tekno.

Mohamed El Erian, Chief Economic Advisor pada Allianz SE memperkirakan USA tujuan akhirnya mengamankan konsesi perdagangan. Dia melihat kemungkinan 60 persen dari perdagangan yang lebih adil dan masih bebas.

Indeks dolar melemah 0,15 persen ke posisi 95,128. Nilai tukar euro turun 0,1 persen ke $1,1591. Dolar Australia turun 0,3 persen ke level $1,7100. Poundsterling melemah 0,2 persen ke posisi $1,3008. Sedangkan yuan pada posisi 6,88 per dolar AS atau melemah di level terendah dalam 2,5 pekan terakhir.

"Pasar belum memberikan penilaian positif terhadap upaya kebijakan fiskal dan moneter Argentina yang sedang menuju arah yang benar. Turki telah mengisyaratkan ke arah kenaikan suku bunga," ujar Soichiro Monji, ekonom Senior pada Daiwa SB Investment yang berbasis di Tokyo. Menurutnya hal itu adalah perkembangan positif mata uang peso Argentina dan Lira Turki yang telah menjadi lokomotif pelemahan mata uang emerging market akhir-akhir ini.

Indeks Nikkei 225 (Jepang) -0,47% ke posisi 22.559. (11:41 am)

Indeks Hang Seng (Hong Kong) -0,40% ke level 26.317.

Indeks Shanghai (China) -0,33% ke posisi 2.655.

Indeks Straits Times (Singapura) -0,11% ke level 3.106. (12:00 pm)


Oil

Harga minyak menguat pada perdagangan hari Rabu (12/9) pagi waktu perdagangan Asia. Penguatan tersebut terjadi menyusul sebuah laporan bahwa persediaan minyak Amerika Serikat turun dan sanksi USA terhadap Iran meningkatkan ekspektasi pengetatan suplai.

Minyak WTI naik 56 sen ke harga USD69,81 per barel (pukul 07:47 WIB). Harga minyak Brent naik 24 sen ke harga USD79,30 per barel.


(cnbc/awsj/reuters/mk)

Sumber : admin


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author