Bursa Pagi: Asia Dibuka Mixed, IHSG Berpotensi Menguat Terbatas

Bursa Pagi: Asia Dibuka Mixed, IHSG Berpotensi Menguat Terbatas

Posted by Written on 10 September 2018


Ipotnews - Awali pekan ini, Senin (10/9), bursa saham Asia dibuka bervariasicenderung melemah, melanjutkan tren penurunan indeks di bursa Wall Street akhir pekan lalu, yang terpengaruh oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump untuk segera menerapkan tarif impor tambahan sebesar USD267 miliar terhadap produk China.
Perdagangan saham hari ini dibuka dengan mencatatkan penurunan indeks ASX 200, Australia sebesar 0,26% yang terbebani oleh penurunan harga saham sektor keuangan sebesar 0,47%. Penurunan indeks berlanjut 0,19% (-11,60 poin) menjadi 6.132,20 pada pukul 8:10 WIB.

Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, Jepang bergerak naik 0,18% (39,07 poin) di level 22.346,13, setelah dibuka menguat tipis 0,02%. Indeks Kospi, Korea Selatan juga dibuka cenderung mendatar di kisaran level 2280,86, dan berlanjut melemah 0,06% di posisi 2.280,11.

Indeks Hang Seng, Hongkong dibuka di zona merah, anjlok 0,56% (-149,82 poin) ke level 26.823,65 pada pukul 8:40 WIB. Indeks Shanghai Composite, China juga melorot 0,39% ke posisi 2.691,80.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pagi ini dihadapkan pada tren pergerakan indeks acuan di bursa saham global dan regional yang cenderung melemah, setelah berhasil mengakhiri sesi perdagangan pekan lalu dengan melaju 1,3% ke level 5.851. Sejumlah analis berpendapat, pergerakan IHSG hari ini berpeluang melanjutkan penguatan didukung apresiasi rupiah dan capital inflow. Secara teknikal, beberapa indikator pergerakan indeks memperlihatkan adanya potesi penguatan lanjutan di area netral positif cenderung mendekati area jenuh jual.

Tim Riset Indo Premier berpendapat, terkoreksinya indeks bursa global seiring dengan meningkatnya tensi perang dagang antara Amerika dan China serta terkoreksinya harga komoditas diprediksi akan menjadi sentimen negatif di pasar. Sementara itu berbagai upaya dan kebijakan pemerintah untuk menahan laju pelemahan rupiah diprediksi masih akan menjadi katalis positif untuk indeks harga saham gabungan. IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung menguat dengan rentang support di level 5.780 dan resistance di 5.925.

Beberap ekuitas yang layak diperhatikan, antara lain;

  • Saham : ASII (Buy, Support: Rp7.025, Resist: Rp7.300), GGRM (Buy, Support: Rp72.150, Resist: Rp74.500), EXCL (Buy, Support: Rp2.830, Resist: Rp3.070), LSIP (Buy, Support: Rp1.310, Resist: Rp1.370).

  • ETF : XPES (Buy, Support: Rp422, Resist: Rp444), XIIC (Buy, Support: Rp1.010, Resist: Rp1.055), 

    XISR (Buy, Support: Rp344, Resist: Rp358).


Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursa Wall Street akhir pekan lalu ditutup melemah, setelah berada di zona merah pada hampir sebagian besar sesi dan melorot lebih jauh setengah jam sebelum penutupan pasar. Pasar tertekan oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengatakan siap menerapkan tarif impor tambahan senilai USD267 miliar pada produk impor dari China, lebih tinggi dari rencana awal senilai USD200 miliar. Rilis data ketenagakerjaan AS periode Agustus menunjukkan tingkat upah per jam naik 2,9%, kenaikan tertinggi sejak 2009, dan lapangan kerja naik 201.000, lebih tinggi dari perkiraan sebesar 191.000, mendukung kenaikan suku bunga The Fed. Aksi jual saham sektor teknologi ikut menekan indeks saham, turun hampir 3% sepanjang pekan lalu. Secara mingguan Indeks Dow Jones melemah 0,19%, S&P 500 turun 1,03% dan Nasdaq anjlok 2,55 %.

Dow Jones Industrial Average turun 0,31% (-12,34 poin) ke posisi 25.916.

Standard&Poor's 500 melemah 0,22% (-6,37 poin) ke posisi 2.871.

Nasdaq Composite berkurang 0,25% (-20,18 poin) menjadi 7.902.

Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange naik 1,14% menjadi USD22,21.

Bursa saham utamaEropa akhir pekan lalu beakhir mixed cenderung stabil meskipun mencatat posisi terburuk secara mingguan sejak Maret lalu, tertekan oleh ketidakpastian perdagangan global. Indeks Europaan-Stoxx 600 naik tipis 0,08% menjadi 373,77, namun anjlok 2,2% secara mingguan. Animo pemodal melemah karena kekhawatiran terhadap perang dagang AS-China dan penurunan di pasar emerging market. Investor menghindari saham-saham sektor siklikal seperti finansial, energi dan pertambangan.

Saham sektor perbankan dan industri dasar anjlok sekitar 1%, saham otomotif sempat anjlok ke level terendah dalam 33 bulan terakhir, sebelum naik 0,2% di akhir sesi. Sektor perjalananan dan wisata turun 0,3%. Zona euro kuartal kedua tumbuh 0,4% dibanding kuartal sebelumnya, dan secara tahunan tumbuh 1,5%, sedikit lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya sebesar 1,6%.

FTSE 100 London turun 0,56% (-41,26 poin) ke level 7.277.

DAX 30 Frankfurt menguat 0,04% (4,38 poin) di posisi 11.959.

CAC 40 Paris naik 0,16% (8,38 poin) menjadi 5.252.



Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York akhir pekan lalu ditutup menguat didukung rilis data ketenagakerjaan AS periode Agustus yang naik sebesar 201.000 pekerjaan, rata-rata upah per jam juga naik 0,4 %. Secara tahunan upah naik sebesar 2,9%, tertinggi sejak Juni 2009, sehingga mendukung kemungkinan kenaikan suku bunga dalam rapat The Fed akhir September nanti. Yield obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam sebulan terakhir, dan indeks dolar AS naik 0,36% ke level 95,365.


Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% Change
Euro (EUR-USD)1.1553-0.007-0.60%
Poundsterling (GBP-USD)1.292-0.001-0.08%
Yen (USD-JPY)110.990.2400+0.22%
Yuan (USD-CNY)6.84380.0083+0.12%
Rupiah (USD-IDR)14,820.00-73.00-0.49%

Sumber : Bloomberg.com, 7/9/2018 (ET)


Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges akhir pekan lalu ditutup cenderung mendatar, meski terbebani oleh penguatan dolar AS, serta badai tropis Gordon yang dampaknya lebih rendah dari perkiraan. Secara mingguan harga minyak WTIdan Brent masing-masing turun 3,5%, dan 1,6%. Data Badan Informasi Energi AS memperlihatkan, persediaan minyak AS akhir pekan sebelumnya turun 4,3 juta barel menjadi 401,49 juta barel, terendah sejak Februari 2015. Namun stok BBM naik 1,8 juta barel, sementara stok minyak hasil penyulingan naik 3,1 juta barel. Membaiknya data ketenagakerjaan AS meningkatkan kekhawatiran kemungkinan kenaikan suku bunga the Fed yang lebih cepat, sehingga menekan harga minyak.

Harga minyak mentah berjangka WTI naik 0,133% menjadi USD67,86 per barel.

Harga minyak mentah berjangka Brent cenderung mendatar di level USD76,83 per barel.

Harga emasdi bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange akhir pekan lalu juga diutup turun tergilas reli dolar AS setelah rilis data ketenagakerjaan AS periode Agustus yang menguat melebihi perkiraan sehingga meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed pada September ini. Harga emas sempat menyentuh harga tertinggi dalam sepekan di level USD1.206,98 pada Kamis lalu, namun scara keseluruhan masih melorot 12% dibanding harga tertinggi USD1.365,23 pada April lalu.

Harga emas di pasar spot turun 0,4% ke harga USD1.195,48 per ounce.

Harga emas di bursa berjangka turun USD3,90 ke level USD1.200,40 per ounce.



(AFP, CNBC , Reuters)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author