Bursa Pagi: Asia Dibuka Melemah, Ganjal Peluang Laju IHSG

Bursa Pagi: Asia Dibuka Melemah, Ganjal Peluang Laju IHSG

Posted by Written on 03 September 2018


Ipotnews - Awali pekan ini, membuka September, Senin (3/9), bursa saham Asia dibuka cenderung melemah setelah AS dan Kanada gagal mencapai kesepakatan perdagangan pada akhir pekan lalu, yang diwarnai keinginan Presiden AS Donald Trump untuk segera menerapkan tambahan tarif impor terhadap China senilai USD200 miliar, serta penolakan proposal tarif otomotif Uni Eropa.

Perdagangan saham hari dibuka dengan mencatatkan penguatan indeks ASX 200, Australia sebesar 0,12%, di tengah pergerakan sektor keuangan yang cenderung mendatar. Pergerakan indeks berlanjut menguat 0,14% (9,10 poin) menjadi 6.328,60 pada pukul 8:05 WIB.

Pada jam yang sama indek Nikkei 225, Jepang bergerak melorot 0,45% (-103,34) ke level 22.761,81, setelah dibuka menyusut 0,39% tertekan penurunan indeks hampir di semua sektor. Indeks Kospi, Korea Selatan juga dibuka melemah0,23% dan berlanjut merosot 0,39% ke posisi 2.313,91.

Melanjutkan tren pelemahan global, indeks Hang Seng, Hongkong dibuka turun 0,28% (-79,10 poin) menjadi 27.809,45. Indeks Shanghai Composite, China tergelincir 0,33% ke posisi 2.716,31.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pagi ini dihadapkan pada kecenderungan pelemahan indeks di bursa saham global dan rregional seiring meningkatnya kekhawatiran perang dagang global, setelah menutup sesi perdagangan akhir pekan lalu dengan melemah tipis 0,01% di level 6.018. Sejumlah analis memperkirakan, pergerakan IHSG hari ini berpeluang berbalik menguat, didukung sentimen positif rilis data BPS, namun masih terkendala oleh tekanan pelemahan rupiah. Secara teknikal, beberapa indikator memperlihatkan adanya potensi penguatan indeks yang berada di area netaral,namun masih dibayangi adanya indikasi bearish di area jenuh beli.

Tim Riset Indo Premier berpendapat, bervariasinya indeks bursa global dan regional seiring dengan belum tercapainya kesepakatan dagang antara Amerika dan Kanada, serta terkoreksinya harga minyak mentah, batu bara, nikel dan timah diprediksi akan menjadi sentimen negatif di pasar. Sementara itu pertumbuhan kredit perbankan di bulan Juli yang tumbuh 11.34% dan naiknya harga CPO akan menjadi katalis positif untuk indeks harga saham gabungan. IHSG diprediksi akan bergerak bervarisi cenderung melemah dengan rentang support di level 5.975 dan resistance di 6.060.

  • Saham : AALI (Buy, Support: Rp13.225, Resist: Rp13.800), CPIN (Buy, Support: Rp4.870, Resist: Rp5.100), SSIA (Buy, Support: Rp470, Resist: Rp500), BBRI (Buy, Support: Rp3.110, Resist: Rp3.250)

  • ETF : XPES ( SELL , Support: Rp442, Resist: Rp450), XIIC (Buy on Weakness, Support: Rp1.045, Resist: Rp1.065), XISR (Buy on Weakness, Support: Rp356, Resist: Rp364)

Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursa Wall Street akhir pekan lalu ditutup variatif, di tengah berlanjutnya kekhawatiran perang dagang masih membebani sentimen konsumen seiring penundaan penyelesaian perundingan kesepakatan dagang Kanada-AS, dan penolakan Trump terhadap proposal Uni Eropa. Gedung Putih diberitakan tetap merencanakan penerapan tambahan tarif impor barang China senilai USD200, pekan ini, dan mengancam bahwa AS akan keluar dari WTO

Saham Boeing dan Caterpillar melorot 0,9% dan 2%. Sebaliknya saham Amazon dan Apple reli 5,6% dan 5,3% sepanjang pekan lalu. Indeks Dow Jones dan S&P 500 masing-masing naik 2,1% dan 3% secara bulanan, sedangkan Nasdaq melejit 5,7% ke posisi terbaik sejak tahun 2000. Survei sentimen konsumen AS Universitas Michigan periode Agustus mencapai 96,2, melebihi ekspektasi para ekonom sebesar 95.5. Meskipun mencatatkan kenaikan namun sentimen konsumen tetap di level terendah sejak Januari.

Dow Jones Industrial Average melemah 0,09% (-22,10 poin) di posisi 25.964,82 poin.

Standard&Poor's 500 naik tipis 0,01% (0,39 poin) di level 2.901,52 poin.

Nasdaq Composite naik 0,26% (21,17 poin) menjadi 8.109,54 poin.

Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange naik 0,13% menjadi USD23,37.
Bursa saham utamaEropaakhir pekan lalu ditutup turun tajam, terpengaruh oleh kabar bahwa Presiden AS Donald Trump telah merancang rencana tambahan tarif impor lebih besar terhadap China. Trump juga dikabarkan menolak proposal Uni Eropa untuk menghilangkan tarif impor otomotif. Presiden Komisi Uni Eropa, Jean Claude Juncker mengancam akan merespon dengan langkah serupa jika AS menerapkan tambahan tarif impor terhadap Uni Eropa. Indeks Europan-Stoxx 600 turun 0,8% menjadi 382,26, atau turun 0,34% dibanding pekan sebelumnya.

Penurunan indeks dipimpin oleh kejatuhan harga saham otomotif sebesar 1,55%, yang sekaligus mencatatkan penurunan terburuk pada pekan lalu. Saham-saham otomotif Eropa seperti Daimler, Volkswagen, BWM berguguran. Rilis data inflasi 19 negara zona euro periode Agustus turun menjadi 2% dari 2,1%, mendukung perkiraan Bank Sentral Eropa bahwa peningkatan laju inflasi tak akan bertahan lama.

FTSE 100 London anjlok 1,11% (-83,61 poin) persen ke level 7.432,42.

DAX 30 Frankfurt merosot 1,04% (-130,18 poin) menjadi12.364,06.

CAC 40 Paris rontok 1,30% (-71,21 poin) ke posisi 5.406,85.



Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York menutup pekan lalu dengan menguat di tengah memanasnya konflik dagang AS-Uni Eropa, selain AS-China. Greenback mencetak reli pada Kamis petang setelah Bloomberg memberitakan bahwa Trump ingin segera bertindak menerapkan tambahan tarif impor barang China senilia USD200 miliar. Trump juga mengatakan usulan Uni Eropa untuk menghilangkan tarif impor otomatis tidak cukup baik dan mengancam akan memberlakukan tarif impor mobil Eropa. Mata uang emerging market jatuh dipimpin kemeroosotan peso Argentina sebesar 1% terhadap dolar AS. Pada pekan ini, indeks dolar AS yang mengukur kurs greenback terhadap enam mata uang negara maju naik 0,44% menjadi USD95.140, namun turun 1,3% dalam dua pekan terakhir.


Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% Change
Euro (EUR-USD)1.1602-0.0069-0.59%
Poundsterling (GBP-USD)1.2960-0.0049-0.38%
Yen (USD-JPY)111.030.05+0.05%
Yuan (USD-CNY)6.8315-0.0130-0.19%
Rupiah (USD-IDR)14,710.0030.00+0.20%

Sumber : Bloomberg.com, 31/8/2018 (ET)


Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges akhir pekan lalu ditutup melemah, namun masih dekat kisaran USD70 per barel. Embargi minyak Iran oleh AS November mendatang dan penurunan produksi minyak Venezuela mengimbangi kekhawatiran terhadap dampak perang dagang. Namun secara mingguan, harga minyak WTI dan Brent masing-massing naik 2% dibanding pekan sebelumnya, dan secara bulanan naik 4,3% dan 1,5%.

Lembaga investasi, Jefferies memperkirakan minyak Brent akan melebih harga USD80 per barel sebelum akhir tahun ini. Survei Reuters terhadap 45 ekonom dan analis memperkirakan, harga rta-rata minyak Brent akan mencapai USD72,71 per barel selama tahun 2018, 16 sen di bawah proyeksi Juli lalu, namun masih di atas rata-rata sepnjang tahun ini sebesar USD71,96. Rata-rata 2019 diperkirakan mencapa USD72,58.

Harga minyak Brent berjangka turun 35 sen menjadi USD77,42 per barel.

Harga minyak WTI berjangka turun 45 sen menjadi USD69,80 per barel.

Harga emasdi bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange akhir pekan lalu ditutup cenderung mendatar di tengah kenaikan indeks dolar, didorong oleh kekhawatiran akan memanasnya perang dagang global. Namun secara bulanan harga minyak turun 1,6% dibadnig bulan sebelumnya, dan membukukan total enurunan lebih dari 7% sepanjang tahun ini. Prosepk kenaikan suku bunga pada rapat Federal Reserve pada 25-26 September, dan November Desember, menekan minta untuk membeli emas. Kepemilikan SPDR Gold Trust, produk ETF emas terbesar dunia sudah turun 13% sejak Apri lalu menjadi 24,36 juta ounce.

Harga emas di pasar spot berakhir flat di level USD1.199,48 per ounce.

Harga emas berjangka naik tipis menjaddi USD 1.205,30 per ounce.



(AFP, CNBC , Reuters)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author