Bursa Pagi: Asia Dibuka Menguat, IHSG Mixed Berpeluang Naik

Bursa Pagi: Asia Dibuka Menguat, IHSG Mixed Berpeluang Naik

Posted by Written on 09 July 2018


Ipotnews - Awali pekan ini, Senin (9/7), bursa saham Asia dibuka menguat, melanjutkan tren kenaikan indeks di bursa saham utama Eropa dan Wall Street, meskipun investor mewaspadai dampak ancaman AS untuk mengenakan tarif tambahan sebesar USD500 miliar, setelah Beijing membalas penerapan tarif baru impor oleh Washington akhir pekan lalu.

Perdagangan saham hari ini dibuka dengan mencatatkan kenaikan indeks saham ASX 200, Australia sebesar 0,34% yang didukung penguatan harga saham keuangan dan pertambangan. Kenaikan indeks berlanjut 0,37% (23,50 poin) menjadi 6.295,80 pada pukul 8:15 WIB.

Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, Jepang bergerak naik 0,82% (179,53 poin) ke level 21.967,67, setelah dibuka melaju 1,01% yang ditopang oleh kenaikan harga saham sekttor konstruksi, pertambangan, dan farmasi. Indeks Kospi, Korea Selatan dibuka menguat 0,16% di warnai penurunan harga saham sektor manufaktur.

Lanjutkan tren kenaikan Asia, indeks Hang Seng, Hongkong dibuka melaju 1,03% (290,54 poin) ke level 28.606,16 pada pukul 8:35 WIB. Indeks Shanghai Composite, China menguat 0,19% di posisi 2.752,45.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pagi ini dihadapkan pada tren kenaikan indeks di bursa saham global dan regional, setelah mengakhiri sesi perdagangan pekan lalu dengan merosot 0,77% ke level 5.694. Sejumlah analis memperkirakan, pergerakan IHSG hari ini berpeluang mixed, pasca rilis data cadangan devisa Indonesia yang tetap kuat namun mengalami penurunan. Secara teknikal, beberapa indikator memperlihatkan posisi indeks yang sudah jenuh jual, sehingga berpotensi mengalami penguatan.

Tim Riset Indo Premier berpendapat, menguatnya indeks bursa global yang dipicu oleh solidnya data tenaga kerja di Amerika dan naiknya harga minyak di prediksi akan menjadi sentimen positif untuk indek harga saham gabungan. Di sisi lain mulai efektifnya pemberlakuan tarif dagang antara Amerika dan ChIna serta terkoreksinya beberapa komoditas seperti CPO, timah, nikel dan batubara berpotensi menjadi sentimen negatif di pasar. IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung melemah dengan rentang support di level 5.650 dan resistance di 5.740.

Beberapa ekuitas yang direkomendasikan:

  • Saham : INDY (Buy, Support: Rp3.430, Resist: Rp3.600), MAIN (Spec Buy, Support: Rp660, Resist: Rp700), PWON (Spec Buy, Support: Rp540, Resist: Rp580), EXCL (Spec Buy, Support: Rp2.420, Resist: Rp2.480).

  • ETF : XIIC (Buy on Weakness, Support: Rp970, Resist: Rp1002), XISR (Buy on Weakness, Support: Rp332, Resist: Rp338), XPLC (Buy on Weakness, Support: Rp463, Resist: Rp473).

Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursaWall Street akhir pekan lalu ditutup menguat, investor menyambut rilis data pekerjaan yang lebih baik dari perkiraan. Data penggajian d sektor non-pertanian AS periode Juni naik 213.000 pada Juni, sementara tingkat pengangguran naik menjadi 4,0% dan tingkat upah naik 2,7%. Pertumbuhan lapangan pekerjaan terjadi pada sektor jasa profesional dan bisnis, manufaktur, serta perawatan kesehatan. 

Sementara sektor perdagangan ritel kehilangan lapangan pekerjaan. Analis menilai pertumbuhan upah masih belum cukup bagus dan sentimen perang dagangakan memberikan alasan the Fed untuk berhenti menaikkan suku bunga.

Penguatan indeks Dow Jones dipimpin saham Apple dan Microsoft. Facebook mencetak all time high, mendongkrak Indeks Nasdaq. Saham sektor kesehatan dan teknologi naik lebih dari 1%. Wall Street juga terus mencermati dampak penerapan tarif baru impor produk China oleh AS senilai USD34 miliar, mulai Jumat (6/7). China menggambil langkah balasan dengan skala yang sama.

Dow Jones Industrial Average naik 0,41% (99,74 poin) menjadi 24.456,48.

Standard&Poor's 500 melompat 0,85% (23,21 poin) ke level 2.759,82.

Nasdaq Composite melonjak 1,34% (101,96 poin) ke posisi 7.688,39.

Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange naik 1,69% menjadi USD22,91.
Bursa saham utamaEropaakhir pekan lalu juga ditutup menguat, para trader menilai harga saham sudah menyesuaikan sentimen perang dagang AS-China. Indeks European-Stoxx 600 naik 0,2% menjadi 382,36, dipimpin kenaikan harga saham utilitas sebesar 0,9%, diikuti saham sektor telekomunikasi dan media. Kuatnya harapan terhadap laporan laba emiten yang dimulai kurang dari 2 pekan, membuat para trader enggan mengambil posisi jual. Data Thomson Reuters menunjukkan, laba di kuartal kedua emiten indeks Stoxx 600 diperkirakan naik 8,7% dibanding periode yang sama tahun lalu. Namun sejumlah sektor terpukul oleh eskalasi perang dagang seperti saham otomotif dan saham terkait komoditas.

DAX 30 Frankfurt naik 0,26% (31,88 poin) menjadi 12.496,17.

FTSE 100 London menguat 0,19% (14,48 poin) ke posisi 7.617,70.

CAC 40 Paris bertambah 0.18% (9,45 poin) di level 5.375,77.


Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York akhir pekan lalu, ditutup melemah, setelah rilis data lapangan kerja AS periode Juni yang lebih rendah dari ekspektasi. Data penggajian sektor non pertanian naik 213.000, dan data April dam Mei direvisi dengan tambahan 37.000 penciptaan lapangan kerja baru. Rata-rata upah per jam naik 5 sen atau 0,2% , setelah meningkat 0,3 % pada Mei lalu. 

Sebelumnya, dolar sudah melemah terpengaruh oleh penerapan tarif impor terhadap produk China. Indeks dolar yang mengukur jurs greenbackterhadap enam mata uang negara maju turun 0,46% menjadi 93,963.

Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% Change
Euro (EUR-USD)1.17460.0055+0.47%
Poundsterling (GBP-USD)1.32830.0061+0.46%
Yen (USD-JPY)110.47-0.17-0.15%
Yuan (USD-CNY)6.64270.0057+0.09%
Rupiah (USD-IDR)14,375.00-19.00-0.13%

Sumber : Bloomberg.com, 6/7/2018 (ET)

Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges akhir pekan lalu ditutup mixed. Minyak WTI bergerak menguat, sementara Brent terkoreksi turun di tengah sentimen tensi perdagangan global dan kenaikan produksi minyak Arab Saudi. Namun secara mingguan, harga minyak WTI turun 0,5%, dan Brent turun 3%. Minyak WTI bergerak melemah setelah data memperlihatkan secara tak terduga persediaan minyak USA naik mencapai 1,3 juta barel.Sedangkan Brent tertekan oleh peningkatan ketersediaan minyak Arab Saudi dengan penambahan produksi hampir 500 ribu barel per hari pada bulan lalu. China mengisyaratkan tarif impor sebesar 25% terhadap minyak AS, dan berencana beralih ke pemasok lain.

Harga minyak berjangka WTI naik 86 sen (1,2%) menjadi 73,80 USD per barel.

Harga minyak berjangka Brent turun 23 sen menjadi 77,16 USD per barel.

Harga emasdi bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange akhir pekan lalu ditutup melemah, tapi berhasil rebound dari posisi terendah seiring pelemahan dolar AS, mengarah ke penguatan mingguan pertamanya dalam 4 pekan terakhir. Harga emas batangan naik tipis secara mingguan di tengah eskalasi tensi dagang antara China dan USA. Nilai tukar dolar AS turun setelah data menunjukkan angka pengangguran periode bulan Juni naik dan tingkat upah tumbuh sedikit lebih kecil dari estimasi, mendekati sinyal potensi inflasi yang dapat mendorong the Fed menaikkan suku bunga lebih sering. Kebijakan tarif bea impor pemerintah USA terhadap barang-barang China senilai USD34 miliar berlaku pada Jumat akhir pekan ini. Beijing membalas tindakan tersebut dengan menerapkan tarif impor 25 persen kepada barang impor asal AS senilai USD34 miliar.

Harga emas di pasar spot turun 0,29% menjadi USD1.253,66 per ounce.

Harga emas untuk pengiriman Agustus turun USD3 menjadi USD1.255,80.



(AFP, CNBC , Reuters)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author