Bursa Siang: IHSG Naik, Sentimen Perang Tarif Impor Dekati Tenggat Waktu

Bursa Siang: IHSG Naik, Sentimen Perang Tarif Impor Dekati Tenggat Waktu

Posted by Written on 04 July 2018


Ipotnews - Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) bergerak variatif, ke zona hijau pada jeda perdagangan hari Rabu (4/7). IHSG menguat +0,18 persen (+10 poin) ke level 5.643.

Indeks LQ45 +0,64% ke level 888 poin. IDX30 +0,81% ke level 483 poin. Indeks JII +0,38% ke level 632. Indeks Kompas100 +0,40% ke level 1.142. Indeks Sri Kehati +0,81% ke posisi 326. Indeks Sinfra 18 -0,11% ke level 288.

Saham-saham teraktif yang diperdagangkan adalah WOODMABABBNIZINCSSIABEST, dan GGRM.

Saham Top Gainer LQ45 antara lain ASIILPKRSMGRBBCAINDYADRO dan JSMR.

Saham Top Loser LQ45 antara lain BSDESSMSUNTRPGASBJBRSCMA dan BUMI.

Nilai transaksi yang terjadi mencapai Rp3,84 triliun dengan volume trading sebanyak 52,72 juta lot saham. Pemodal asing aksi jual bersih (net Sell) senilai Rp22,05 miliar.

Sektor aneka industri dan finance paling menopang laju IHSG . Kedua sektor tersebut melaju positif masing-masing +2,31 persen dan +0,85 persen.

Nilai tukar rupiah -0,10% ke level Rp14.358 (pukul 12.00 pm)


Bursa Asia

Market saham Asia melemah pada sesi pagi perdagangan hari Rabu (4/7). Bursa saham China gagal melanjutkan penguatan yang terjadi di sesi kemarin seiring kegelisahan atas potensi perang dagang yang terus berlanjut menjelang tenggat waktu penerapan perang tarif bea impor.

Emiten bidang elektronik terapan menjadi lokomotif pelemahan di bursa Jepang setelah turun paling buruk. Saham di sektor tersebut seperti Tokyo Electron turun 4,28 persen sementara saham utiliti dan mining menguat.

Tekanan juga terjadi pada pasar saham Korsel. Indeks Kospi turun 0,38 persen setelah gagal melanjutkan penguatan di sesi awal. Hal yang sama juga terjadi pada Indeks S&P/ASX200 di bursa Australia yang melemah 0,57 persen.

Indeks Hang Seng memperpanjang pelemahan yang terjadi pada sesi kemarin. Tekanan pada Hang Seng oleh saham-saham energi, real estat dan material. Sementara Indeks Shanghai terus melanjutkan pelemahan.

Para pemodal khawatir atas potensi perang dagang yang intensif pada pekan ini karena wait and see batas waktu tarif impor yang ditetapkan USA kepada barang asal China senilai 34 miliar USD. Penerapan tersebut berlaku pada JUmat mendatang. Sebaliknya pemerintah China juga mengumumkan rencana penerapan tarif impor terhadap barang-barang asal USA.

USA juga terlihat polemik dengan mitra dagang lain di antaranya Kanada, Mexico dan Uni Eropa. Negara-negara tersebut mulai menerapkan atau menjadwalkan untuk memulai pelaksanaan pajak impor bagi barang asal USA. 

Akibat hal tersebut pasar saham China mengarah ke bearish karena telah melemah setidaknya 20 persen dari titik tertinggi dalam 52 pekan terakhir.

Chief Global Market Strategis pada lembaga Invesco, Kristina Hooper menilai kondisi pasar saham China lebih merefleksikan perlambatan ekonomi dibanding ketakutan kepada perang dagang. Dia menambahkan, pasar saham China dapat tertekan lebih dalam jika polemik perang dagang makin memburuk.

Mata uang yuan di posisi 6,6292 terhadap dolar AS (pukul 11.48 am) atau menguat 0,1 persen dibanding sesi kemarin. Gubernur Bank Sentral China Yi Gang menyatakan pihaknya akan menjaga nilai tukar yuan pada level yang rasional. Sedangkan dolar AS terhadap yen di posisi 110,43 (11.56 am).

Indeks Nikkei 225 (Jepang) -0,37% ke posisi 21.704,16. (11.55 am)

Indeks Hang Seng (Hong Kong) -1,07% ke level 28.239,11.

Indeks Shanghai (China) -0,68% ke posisi 2.767,91.

Indeks Straits Times (Singapura) -0,13% ke level 3.231,77. (12.00 pm)


Oil

Harga minyak naik tipis pada perdagangan hari Rabu (4/7). Hal tersebut terjadi menyusul kabar yang berkembang ketatnya persediaan BBM di Amerika Serikat di tengah kebakaran yang terjadi pada fasilitas tambang minyak gurun pasar Kanada yang biasa mengirim pasokan ke USA.

Harga minyak Brent naik 34 sen ke posisi USD78,10 per barel. Sementara minyak WTI naik 46 sen ke level USD74,60 per barel. (03.43 GMT).



(cnbc/awsj/reuters/mk)

Sumber : admin


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author