Bursa Pagi: Wall Street-Asia Menguat, IHSG Melaju di Rentang Konsolidasi

Bursa Pagi: Wall Street-Asia Menguat, IHSG Melaju di Rentang Konsolidasi

Posted by Written on 17 April 2018


Ipotnews - Bursa saham Asia pagi ini, Selasa (17/4), dibukacendrung menguat melanjutkan tren kenaikan indeks di bursa saham Wall Street, seiring meredanya ketegangan geopolitik pasca serangan AS dan sekutunya ke Suriah akhir pekan lalu, jelang rilis data ekonomi China hari ini.

Perdagangan saham hari ini dibuka dengan mencatatkan kenaikan indeks ASX 200, Australia sebesar 0,21%, yang diwarnai oleh menghijaunya semua indeks sektoral, kecuali telekomunikasi. Penguatan indeks berlanjut, naik 0,35% (20,20 poin) menjadi 5.861,50 pada pukul 8:15 WIB.

Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, Jepang bergerak menguat 0,13% (28,37 poin) menjadi 21.863,90, setelah dibuka dengan kenaikan tipis 0,1% terbebani oleh penurunan harga saham sektor keuangan. Indeks Kospi, Korea Selatan juga dibuka menguat 0,1% dan berlanjut dengan laju yang sama di posisi 2.459,87.

Lanjutkan tren penguatan Asia, indeks Hang Seng, Hongkong dibuka menguat 0,13% di posisi 30.354,89 pada pukul 8:35 WIB. Indeks Shanghai Composite, China juga dibuka sedikit menguat 0,07% di level3.112,97.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pagi ini dihadapkan pada tren penguatan indeks di bursa saham AS dan Asia, setelah berhasil bermanuver di zona hijau sepanjang sesi perdagangan kemarin, dan ditutup menguat 0,26% di level 6.286. Sejumlah analis memprediksi, pergerakan IHSG hari ini berpotensi melanjutkan penguatan berusaha keluar dari rentang konsolidasi. Secara teknikal, beberapa indikator memperlihatkan adanya potensi bullish continuation meskipun masih memberikan indikasi bearish dengan momentum yang rendah.

Tim Riset Indo Premier berpendapat menguatnya indeks bursa global dan regional serta data ekspor impor di bulan Maret yang lebih baik dari ekspektasi, diprediksi akan mejadi sentimen positif di pasar. IHSG diprediksi akan bergerak menguat dengan rentang support di level 6.250 dan resistance di 6.315.

Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain: HMSP (Spec Buy, Support: Rp4.010, Resist: Rp4.150), ASII (Spec Buy, Support: Rp7.425, Resist: Rp7.725), BBCA (Buy on Weakness, Support: Rp22.600, Resist: Rp22.900), EXCL (Spec Buy, Support: Rp2.620, Resist: Rp2.680).



Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursaWall Street pagi tadi berakhir menguat ditopang oleh optimisme pasar mengenai laba kuartal pertama, yang mengalihkan fokus investor dari kekhawatiran terhadap kebijakan perdagangan AS, suku bunga dan gejolak geopolitik. Saham-saham dalam komponen S&P 500 diperkirakan akan melaporkan kenaikan laba rata-rata 17,3% dibandingkan kuartal pertama tahun lalu. Saham Bank of America naik 0,5% setelah melaporkan lonjakan laba kuartal pertama sekitar 34,2% menjadi USD6,5 miliar. Merck, melesat 2,6% setelah melaporkan hasil uji klinis yang sukses untuk pengobatan Keytruda bagi kanker paru-paru. Rilis data penjualan ritel AS periode Maret naik 0,6%, didukung oleh kenaikan penjualan kendaraan sebesar 2%.

Dow Jones Industrial Average melonjak 0,87 persen (212,90 poin) menjadi 24.573,04.

Standard&Poor's 500 memelompat 0,81% (21,54 poin) ke level 2.677,84.

Nasdaq Composite melaju 0,7% (49,63 poin) ke posisi 7.158,28.

Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange naik 0,66% menjadi USD27,50.

Bursa saham utama Eropa tadi malam berakhir di teritori negatif, terpengaruh perkembangan politik terkini, termasuk sentimen dari ketegangan Timur Tengah yang meningkat. Indeks European-Stoxx 600 turun 0,39% menjadi 377,74, dipimpin penurunan harga saham sektor makanan dan minuman. Sebaliknya, saham perjalanaan dan wisata berhasil mempertahankan kenaikan pada saat penutupan. Pasar mengabaikan sinyal penguatan yaang mucul di bursa Wall Street, di tengah penurunan harga minyak dunia.

FTSE 100 London terperosok 0,91% (-66,36 poin) ke level 7.198,20.

DAX 30 Frankfurt turun 0,41% (-50,99 poin) ke posisi 12.391,41.

CAC 40 Paris berkurang 0,04% (-2,06 poin) menjadi 5.312,96.



Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York pagi tadi berakhir melemah, Investor berharap serangan AS ke Suriah tidak akan menyebabkan eskalasi berkepanjangan, di tengah kenaikan harga indeks saham Wall Street. Indeks MSCI world equity yang melacak harga saham di 45 negara naik 0,18% menjadi 511,45. Rilis data penjualan ritel AS periode Maret yang mencapai USD494,6 miliar, naik 0,6% dari bulan sebelumnya dan mengalahkan konsensus pasar, gagal mengangkat dolar AS. Indeks Dolar AS, yang melacak kurs greenback terhadap enam mata uang negara maju turun 0,42% menjadi 89,425.



Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% ChangeTime (ET)
Euro (EUR-USD)1.2380.0000.00%7:12 PM
Poundsterling (GBP-USD)1.4335-0.0004-0.03%7:12 PM
Yen (USD-JPY)107.140.020+0.02%7:12 PM
Yuan (USD-CNY)6.27650.0015+0.02%11:29 AM
Rupiah (USD-IDR)13,780.3025.80+0.19%4:59 AM

Sumber : Bloomberg.com, 16/4/2018 (ET)



Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges hingga pagi tadi bergerak turun, setelah kekhawatiran terhadap ketegangan di Timur Tengah pasca serangan udara di Suriah mereda. Pasar mengabaikan sejumlah faktor yang bisa mendongkrak harga minyak: dolar yang lemah, konflik Suriah, potensi sanksi terhadap Rusia dan Iran, dan sentimen perdagangan China.

Harga minyak mentah berjangka Brent turun USD1,13 (-1,6%) menjadi USD71,42 per barel.

Harga minyak mentah berjangka WTI turun USD1,17 (-1,7%) menjadi USD66,22 per barel.

Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange pagi tadi ditutup menguat, tetapi sedikit tertahan karena pasar keuangan memperkirakan serangan udara di Suriah tidak akan meningkat menjadi konflik yang lebih luas. Ekspektasi kenaikan suku bunga AS juga membatasi laju harga emas, meskipun indeks dolar melemah.

Harga emas di pasar spot naik 0,21% menjadi USD1.347,79 per ounce.

Harga emas untuk pengiriman Juni naik 0,21% menjadi USD1.350,60 per ounce.



(AFP, CNBC , Reuters)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author