Minyak Mentah Dunia Relatif Stabil Jelang Rilis Data Stok Amerika

Minyak Mentah Dunia Relatif Stabil Jelang Rilis Data Stok Amerika

Posted by Written on 22 February 2018


Ipotnews - Harga minyak sedikit berubah, Rabu, menjelang data yang diperkirakan menunjukkan kenaikan persediaan minyak mentah di Amerika Serikat dan karena dolar AS bangkit dari posisi terendah tiga tahun, pekan lalu.

Harga minyak mentah berjangka Brent--patokan internasional--menguat 17 sen atau sekitar 0,3 persen, menjadi USD65,42 per barel, setelah diperdagangkan antara USD64,40 dan USD65,53, demikian laporan Reuters, di New York, Rabu (21/2) atau Kamis (22/2) dini hari WIB.

Sementara itu, patokan Amerika, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), turun sebelas sen atau 0,2 persen, berakhir di posisi USD61,68 per barel, setelah diperdagangkan antara USD61,86 dan USD60,92.

Persediaan minyak mentah Amerika diperkirakan meningkat untuk minggu keempat berturut-turut, melonjak 1,8 juta barel pada pekan lalu, menurut jajak pendapat Reuters.

Data persediaan Amerika dari American Petroleum Institute akan dirilis pukul 21.30 dan data resmi pemerintah diumumkan Kamis pukul 11.00 waktu setempat. Kedua laporan tersebut tertunda satu hari karena libur di Amerika, Senin.

Harga minyak yang lebih tinggi dan kenaikan output mendorong peningkatan investasi pada pengeboran dan produksi, yang pada gilirannya mendongkrak produksi shale-oil lebih banyak, kata Stewart Glickman, analis energi CFRA Research, New York.

Produksi minyak mentah Amerika melampaui 10 juta barel per hari (bph), November, untuk kali pertama sejak 1970. Peningkatan produksi shale-oil Amerika menghambat upaya Organisasi Negara Eksportir Minyak ( OPEC ) dan produsen lainnya, yang dipimpin oleh Rusia, untuk mengurangi persediaan global dan menopang harga minyak dengan memotong output.

Indeks Dolar AS--ukuran greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya--mencapai level tertinggi satu pekan setelah rilis risalah pertemuan kebijakan Januari Federal Reserve.

Dolar AS yang lebih kuat membuat minyak dan komoditas lain yang berdenominasi greenbackmenjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Minyak mendapatkan beberapa dukungan dari kenaikan di pasar Wall Street.

"Harga minyak dan S&P sangat berkorelasi, akhir-akhir ini, dengan penguatan ekonomi yang diterjemahkan ke dalam kinerja perusahaan yang lebih baik dan permintaan energi yang lebih tinggi," tutur John Kilduff, partner di manajer investasi Again Capital, New York. 

(ef)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author