Bursa Pagi: Asia Relatif Flat, Pergerakan IHSG Bervariasi Cenderung Melemah

Bursa Pagi: Asia Relatif Flat, Pergerakan IHSG Bervariasi Cenderung Melemah

Posted by Written on 21 February 2018


Ipotnews - Bursa saham Asia pada pagi hari ini, Rabu (21/2), relatif tenang dengan sebagian besar indeks regional melayang di sekitar garis datar, meski ada gejolak di Wall Street akibat kejatuhan tajam indeks Dow Jones.

Indeks acuan Jepang Nikkei 225 diperdagangkan lebih tinggi 0,06 persen setelah turun lebih dari 1 persen pada sesi terakhir, Selasa. Saham manufaktur diperdagangkan sedikit lebih tinggi sejak awal, dengan Fanuc Manufacturing merayap naik sebesar 0,09 persen.

Saham produden mobil dan teknologi beragam, sementara saham perbankan dalam tekanan, seperti Toyota yang menguat 0,3 persen, Honda naik 1,37 persen, dan Softbank Group melemah 0,87 persen.

Di Seoul, indeks Kospi sempat melemah di awal perdagangan namun berbalik menanjak 0,1 persen. Saham produsen baja diperdagangkan melemah setelah pemerintah Korsel menyerahkan komplain ke WTO akibat pajak impor oleh AS. Posco anjlok 1,51 persen dan Hyundai Steel turun 1,33 persen.

Sedangkan di Sydney, indeks S&P/ASX 200 bertengger di garis flat di saat investor menanti rilis data keuangan perusahaan, walaupun saham perusahaan tambang besar melorot dalam, seperti BHP yang anjlok 5 persen.

Sejumlah analis yang mengirimkan perkiraan kepada Ipotnews, sebagian besar menyatakan pergerakan IHSG hari ini akan melemah, baik oleh karena potensi aksi profit taking, minimnya sentimen positif, maupun secara tehnikal.

Pasca kembali menyentuh rekor tertinggi di awal pekan ini, IHSG akan mengalami tren koreksi wajar. Namun, sentimen positif domestik maupun global bisa membawa IHSG ke penguatan jangka menengah dan panjang.

Tim Analis Indo Premier Securities menilai, terkoreksinya bursa global seiring dengan kembali munculnya kekhawatiran akan kenaikan yield obligasi di Amerika serta kompak melemahnya harga komoditas utama selain minyak, diprediksi akan menjadi sentimen negatif untuk IHSG hari ini.

Sementara itu menguatnya nilai tukar rupiah yang dipicu oleh pencapaian APBN di bulan Januari yang cukup bagus diprediksi akan menjadi sentimen positif di pasar. IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung melemah dengan rentang support di level 6.620 dan resistance di 6.705. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain:AKRA ( SELL , Support: Rp5.800, Resist: Rp6.175) BWPT (Spec Buy, Support: Rp220, Resist:Rp228) TINS ( SELL , Support: Rp1.075, Resist: Rp1.105) BJTM ( SELL , Support: Rp765, Resist:Rp800).


Dow Terjun Eropa Hijau

Di Wal Street, Selasa (Rabu dinihari WIB), indeks Dow Jones turun tajam akibat terpuruknya saham Walmart dan kenaikan suku bungabank sentral AS.

Indeks dari kelompok 30 saham utama itu ditutup 254,63 poin lebih rendah menjadi 24.964,75 - menghentikan kenaikan beruntun enam hari - setelah saham Walmart turun 10,2 persen. Saham raksasa ritel itu membukukan penurunan terbesar sejak Januari 1988.

Sementara indeks S&P 500 tertarik 0,6 persen menjadi 2.716,26, dengan staples konsumen menurun lebih dari 2 persen. Indeks keseluruhan juga ditutup melemah untuk pertama kalinya dalam tujuh sesi. Walmart adalah kontributor penurunan terbesar di S&P 500. Kroger dan Kraft Heinz, yang juga berada di sektor staples, merupakan salah satu saham dengan kinerja terburuk dalam indeks tersebut.

Dow dan S&P 500 turun di bawah rata-rata pergerakan 50 hari mereka, dua level teknis kunci. Sedangkan Nasdaq Composite turun 0,1 persen menjadi 7.234,31 karena reli saham teknologi menguap pada perdagangan sore harinya.

Kenaikan suku bunga menuju level tertinggi bertahun-tahun juga menekan saham.

Imbal hasil obligasi 10 tahun AS naik menjadi 2,886 persen, setelah mencapai level tertingginya sejak 2014 pekan lalu. Imbal hasil jangka pendek dua tahun, diperdagangkan di level tertinggi sekitar sembilan tahun terakhir.

Tingkat suku bunga yang lebih tinggi membuat Wall Street tetap berada di tepi akhir-akhir ini karena investor takut inflasi yang lebih tinggi dapat menyebabkan The Federal Reserve memperketat kebijakan moneter lebih cepat dari perkiraan.

Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange turun 0,14 poin (0,46%) menjadi USD29,97 dari penutupan sebelumnya di USD30,11.

Sebelumnya, tadi malam WIB, pasar saham Eropa sebagian besar ditutup dengan di zona hijau seiring sikap investor yang mengabaikan kekhawatiran gejolak dan memilih fokus pada laporan keuangan korporasi yang lebih baik dari perkiraan.

Indeks acuan Eropa The pan-European Stoxx 600 berakhir 0,60 persen lebih tinggi dari penutupan sebelumnya, dengan mayoritas sektor ditutup di teritori positif.

Di London, Indeks FTSE turun tipis 0,89 poin (-0,01 persen) menjadi 7.246,77.

DAX 30 di Frankfurt menanjak 102,30 poin (0,83 persen) ke posisi 12.487,90.

Sedangkan di Paris, Indeks CAC 40 naik 33,68 poin (0,64 persen) ke level 5.289,86.



Dolar AS Perpanjang "Rebound"

Dolar AS naik ke level tertinggi enam hari terhadap sekeranjang mata uang utama pada hari Selasa, memperpanjang rebound dari level terendah tiga tahun pekan lalu, terdorong oleh kenaikan imbal hasil US Treasury dan pada saat yang sama sebagian trader memangkas taruhan yang berlebihan terhadap mata uang tersebut.

Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, naik 0,71 persen pada level 89,73, dengan akselerasi kenaikan satu hari terbaik dalam hampir dua pekan terakhir.

Dolar telah mengalami aksi jual dalam beberapa bulan terakhir karena kekhawatiran bahwa pemotongan pajak Trump baru-baru dan rencana pengeluaran pemerintah yang lebih besar akan menggelembungkan defisit.
Setiap dorongan positif dari kenaikan suku bunga AS telah diimbangi oleh rentetan faktor bearish, termasuk kekhawatiran bahwa pemerintah AS sedang mengejar strategi dolar yang lemah.

"S aat ini yang kami lihat hanyalah sedikit keuntungan (dalam mata uang di luar dolar AS), sedikit berburu barang murah," kata Omer Esiner, kepala strategi pasar di Commonwealth Foreign Exchange di Washington. "Saya ragu mengatakan sentimen berarti berubah pada saat ini. Ada beberapa tren yang benar-benar bagus yang terus bekerja melawan dolar AS."

Pedagang di pasar mata uang juga memperhatikan lelang besar utang pemerintah AS pekan ini, sebagai indikasi selera investor internasional untuk aset AS.

Biaya pinjaman beberapa obligasi jangka pendek pemerintah AS naik ke tingkat tertinggi dalam lebih dari sembilan tahun pada hari Selasa, seiring target Departemen Keuangan AS mengumpulkan USD179 miliar di pasar obligasi untuk mendanai pengeluaran dan melakukan pembayaran utang.

Lelang Treasury hari Selasa menghasilkan lebih dari setengah obligasi senilai USD258 miliar yang dijadwalkan untuk dijual pekan ini.

"Jelas satu atau dua lelang tidak harus membuat tren, tapi jika kita mulai melihat lebih banyak kecenderungan penurunan permintaan investor asing untuk aset AS, itulah yang menjadi inti dari beberapa pelemahan dolar," ujar Esiner.



Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange%ChangeTime(ET)
Euro (EUR-USD)1.23370.00000.00%5.40 PM
Poundsterling (GBP-USD)1.39960.00000.00%5:40 PM
Yen (USD-JPY)107.29-0.040.04%5:43 PM
Yuan (USD-CNY)6.34150.00050,01%2/14/18
Rupiah (USD-IDR)13,614,5054.500.40%3:59 AM

Sumber : Bloomberg.com, 21/021/2018 (ET)



Komoditas

Harga minyak mentah AS pada Selasa naik ke titik tertinggi dua pekan, setelah terbuka data dari Genscope (perusahaan intelijen pasar) bahwa terjadi penurunan cadangan di Cushing, Oklahoma, yang merupakan salah satu tangki penghubung utama akibat pemangkasan suplai dari Kanada ke Amerika Serikat oleh sebab masalah kebocoran pipa sejak November silam.

Harga berjangka minyak mentah US West Texas Intermediate (WTI) kemarin ditutup lebih tinggi 22 sen dolar di posisi USD61,90 per barel, menjelang berakhirnya kontrak Maret. Pada awal sesi, harga sempat reli ke USD62,74 per barel, tertinggi sejak 7 Februari.

Kontrak berjangka minyak AS yang teraktif untuk pengiriman April naik 17 sen dolar menjadi USD61,72 per bare.
Di tambah penguatan dolar AS, yang menyentuh titik tertinggi enam hari, memperkuat harga minyak AS.
Sementara harga berjangka minyak mentah Brent turun 45 sen dolar dari penutupan pada Senin di level USD65,22 per barel pada pukul 2:25 ET.

Hari libur nasional, Presidents Day, oada Senin kemarin juga memperkuat kinerja WTI jika dibandingkan dengan Brent.

Di pasar emas, harga logam mulia terbebani oleh penguatan dolar AS pada Selasa, sehingga turun untuk sesi ketiga berturut-turut, meski tertolong oleh kekhawatiran geopolitik dan ketidakpastian terhadap lelang besar obligasi AS pekan ini.

Harga spot emas anjlok 1,23 persen menjadi USD1.329,76 per ounce pada pukul 12.54 PM EST. Harga berjangka emas AS untuk pengiriman April melorot 1,8 persen ke USD1.331,80 per ounce, persentase penurunan harian terbesar sejak November 2017.

Menurut analis teknikal Reuters, Wang Tao, harga spot emas bisa turun ke level support berikut di USD1.326 per ounce.

Logam mulia bisa jadi mendapat dukungan penguatan saat pemerintah AS melelang deretan obligasi senilai USD258 miliar dalam pekan ini. "Jika permintaan terhadap tumpukan utang itu lebih rendah dari yang diharapkan, itu akan melemahkan dolar dan memperkuat harga emas," ujar Ole Hansen, Kepala Strategi Komoditas pada Saxo Bank di Kopenhagen.

Tambahan lagi, kata Hansen, ketidakpastian geopolitik mulai dari perpecahan di konferensi keamanan di Munich hingga ancaman sanksi perdagangan AS bisa jadi akan meningkatkan permintaan terhadap safe haven seperti emas.

Investor emas juga akan mengamati rilis risalah pertemuan kebijakan The Federal Reserve pada 30-31 Januari yang dijadwalkan pada Rabu hari ini. "Kuncinya adalah kenaikan suku bunga, seberapa cepat dan seberapa sering suku bunga akan dinaikkan," kata analis pada Argonaut Securities di Hong Kong, Helen Lau.

( CNBC , Bloomberg, Reuters)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author