Kenaikan Harga BBM dan Pangan, Ancaman Terhadap Target Inflasi 2018

Kenaikan Harga BBM dan Pangan, Ancaman Terhadap Target Inflasi 2018

Posted by Written on 25 January 2018


Ipotnews - Target pemerintah untuk menekan angka inflasi di level 3,5 persen plus minus 1 persen secara tahunan menghadapi banyak tantangan, antara lain da paling mengancam dari adalah potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan juga kenaikan harga pangan.

Hal itu disampaikan oleh Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Berly Martawardaja, usai mengadakan konferensi pers di kantornya, Jakarta, terkait dampak kenaikan harga minyak mentah dunia. Menurut dia, bobot pangan dan BBM dalam penghitungan inflasi yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sangat besar kontribusinya. Sehingga setiap kenaikan harga dari kedua komoditas ini akan sangat berpengaruh pada inflasi.

"Paska kenaikan BBM tahun 2014 lalu sebesar Rp2.000 untuk solar dan premium itu dalam dua bulan saja inflasinya 3,91 persen, ini udah melebihi inflasi setahun 2017, jadi memang berat tantangannya" kata Berly di Jakarta, Kamis (25/1).

Walaupun potensi kenaikan harga BBM setelah Maret 2018 bakal terjadi, namun Berly menilai angka kenaikan tidak akan melebihi Rp2.000 per liter. Artinya potensi kenaikan inflasi akan terjadi namun dalam rentang yang kecil asalkan di saat yang sama harga pangan bisa ditekan.

Untuk memastikan harga pangan tidak bergejolak, pihaknya mengandalkan Tim Pengendali Inflasi Daerah ( TPID ) agar dapat bekerja ekstra keras. Sebab tanpa diimbangi langkah-langkah strategis dari TPID , target inflasi tahun 2018 akan sulit dicapai.

"Jadi TPID -nya harus sigap terutama mencegah kenaikan harga pangan. Kalau BBM naik (harganya) biasanya transport naik sehingga harga pangan jadi naik juga," ulasnya. 

(Marjudin)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author