Bursa Pagi: Pasar Asia Ikuti Jejak Kenaikan Wall Street, IHSG Variatif Cenderung Naik

Bursa Pagi: Pasar Asia Ikuti Jejak Kenaikan Wall Street, IHSG Variatif Cenderung Naik

Posted by Written on 18 January 2018


Ipotnews - Indeks saham di Asia pada pagi hari ini, Kamis (18/1), bangkit kembali dari penurunan pada sesi terakhir, mengikuti kenaikan besar di Wall Street dinihari tadi. Investor juga menunggu data China, serta keputusan tingkat suku bunga dari bank sentral Korea Selatan dan Indonesia pada sore nanti.

Indeks acuan Tokyo Nikkei 225 naik 0,73 persen pada awal perdagangan, dengan kenaikan pada sebagian besar saham terkait energi dan perbankan. Dari catatan, SoftBank Group turun 0,2 persen meski sebagian besar teknologi unggul.

Nikkei 225 menyentuh titik tertinggi 26 tahun awal pekan ini dan mengalami kenaikan lebih dari 3 persen sejak pergantian tahun ke 2018.

Di Seoul, indeks Kospi bergerak naik 0,48 persen terutama dipacu lambungan saham Samsung Electronics sebesar 1,57 persen, sehingga membalikkan penurunan pada sesi terakhir. Adapun produsen chip SK Hynix naik 3,37 persen. Saham teknologi lainnya diperdagangkan jauh lebih tinggi, namun pelemahan terlihat pada saham sektor ritel, dengan Lotte Shopping turun 1,7 persen.

Sedangkan indeks S&P/ASX 200 di Sydney diperdagangkan naik 0,11 persen, dengan didorong oleh sektor keuangan. Bank "Big Four" Australia semua diperdagangkan lebih tinggi pada hari ini: Westpac naik 1,37 persen dan ANZ naik 0,71 persen. Adapun saham yang berhubungan dengan energi dan pertambangan yunior sebagian besar berada di wilayah negatif.

Indeks Hang Seng Hong Kong (HSI) menguat 165,04 poin (0,52%) ke 32.148,45

Indeks Shanghai Composite China naik tipis 5,21 poin (0,15%) menjadi 3.449,88

Selanjutnya, setelah naik 0,2% ke level tertinggi baru 6.444,52, kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) hari ini masih diliputi sentimen positif dan tren penguatan.

Sebagian besar analis yang catatannya diterima Ipotnews pagi ini optimistis IHSG akan terus menuju kenaikan, ditopang fundamental ekonomi domestik yang baik dan berlanjutnya aliran modal asing (capital inflows).

Tim Riset Indo Premier Securities berkeyakinan penguatan indeks bursa global dan regional akan menjadi sentimen positif terhadap pergerakan IHSG hari ini. Sebaliknya, harga komoditas CPO dan nikel yang melemah akan menjadi katalis negatif. IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung menguat dengan support di level 6.410 dan resistance di 6.470. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain: INTP (Spec Buy, Support: Rp22.625, Resist: Rp23.375) ASRI (Spec Buy, Support: Rp374, Resist: Rp382) ERAA (Spec Buy, Support: Rp715, Resist: Rp745) SILO (Spec Buy, Support: Rp8.900, Resist: Rp9.250).


Amerika Serikat dan Eropa

Bursa Wall Street mengalami kenaikan pada penutupan perdagangan Rabu (Kamis dinihari, 18/1 WIB) berkat rilis kinerja kuartalan sejumlah perusahaan besar yang ternyata lebih meyakinkan dari yang diperkirakan.

Indeks Dow Jones industrial average ( DJIA ) menanjak 322,79 poin (1,25%), ditutup di atas level 26.000 untuk pertama kalinya, setelah pada Selasa indeks sempat hanya menyentuh level rekor tersebut. Lalu, indeks S&P 500 naik 0,94 persen dengan berakhir pada angka 2.802,56, yang juga merupakan level penutupan rekor, setelah saham teknologi mendapat topangan kuat dari kenaikan saham Apple sebesar 1,7 persen. Sedangkan indeks Nasdaq Composite menguat 74,59 poin (1,03%) menjadi 7.298,28.

Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange naik 0,36 poin (1,23%) menjadi USD29,68 dari penutupan sebelumnya di USD29,32

Tadi malam, bursa utama Eropa berfluktuasi di sekitar garis flat saat investor memperhatikan saksama pasar di luar kawasan sembari mencerna kabar korporat. Pada penutupan, sejumlah bursa utama berakhir di area merah.

Indeks FTSE London anjlok 33,41 poin (-0,43%) ke 7.723,56

DAX 30 Frankfurt ditutup melemah 75,83 poin (-0,57%) menjadi 13.170,50

Sedangkan CAC 40 Paris turun -17,03 poin (-0,31%) ke posisi 5.496,79


Nilai Tukar Dolar AS

Penurunan euro setelah para pejabat Bank Sentral Eropa (ECB) menyuarakan keraguan atas kekuatan mata uang tersebut yang sempat menyentuh level tertinggi tiga tahun - di atas USD1,23 - membantu menstabilkan dolar AS, yang tengah menahan kerugian moderat terhadap sekeranjang mata uang, Rabu. Merosotnya dolar AS bahkan terjadi saat The Federal Reserve merilis data aktivitas bisnis negara itu berkembang dengan inflasi yang tumbuh di tingkat moderat hingga akhir 2017.

Alhasil, prospek dolar AS mereda karena bank sentral lain di luar The Fed menjauh dari tingkat suku bunga ultra rendah dan instrumen tak konvensional yang mereka adopsi setelah krisis kredit global tahun 2008.

"Masih banyak sentimen bearish terhadap dolar," kata Minh Trang, trader mata uang asing di Silicon Valley Bank di Santa Clara, California.

Namun, greenback mampu mengakhiri penurunan empat sesi beruntun.

Indeks dolar AS yang mengukur nilai greenback versus euro, yen, poundsterling dan tiga mata uang negara maju lainnya berakhir turun 0,06 persen pada level 90,35.

Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange%ChangeTime(ET)
Euro (EUR-USD)1.2186-0.0074-0.60%4:59 PM
Poundsterling (GBP-USD)1.3829-0.0002-0.01%5:00 PM
Yen (USD-JPY)111.290.000.00%5:00 PM
Yuan (USD-CNY)6.4343-0.0097-0.15%10:29 AM
Rupiah (USD-IDR)13,359.0021.500.16%3:59 AM

Sumber : Bloomberg.com, 18/1/2018 (ET)


Komoditas

Harga minyak ditutup naik pada Rabu menjelang rilis data minyak AS yang diperkirakan akan menunjukkan pelemahan mingguan berturut-turut dalam persediaan minyak mentah.

Harga berjangka Brent naik 23 sen menjadi USD69,38 per barel sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS naik 24 sen menjadi USD63,97 per barel. Pada pekan ini, harga kontrak tersebut sempat naik ke tingkat tertinggi sejak Desember 2014, dengan Brent mencapai USD70,37 pada hari Senin dan WTI sampai menyentuh USD64,89 pada hari berikutnya.

Cadangan minyak mentah AS diperkirakan akan anjlok 3,5 barel pada pekan yang berakhir 12 Januari, menurut jajak pendapat Reuters.

Pasar yang lebih ketat telah mengangkat kedua tolak ukur harga minyak mentah tersebut sekitar 13 persen di atas tingkat pada awal Desember, terdorong oleh hambatan produksi oleh OPEC dan Rusia, dan juga oleh pertumbuhan permintaan. Beberapa analis minggu ini menaikkan perkiraan mereka terhadap harga minyak 2018, yang ikut mendorong reli harga minyak.

Dalam sebuah catatan pada hari Selasa, Morgan Stanley mengatakan bahwa mereka melihat Brent akan menyentuh harga USD75 per barel pada kuartal ketiga 2018, sementara minyak mentah AS bisa mencapai USD70 per barel.

Harga emas tertahan untuk mendekati tingkat tertinggi empat bulan kemarin, bahkan saat dolar yang lebih kuat membuat logam mulia lebih mahal bagi pengguna mata uang lain.

Emas telah mengalami kenaikan harga sekitar 8 persen sejak pertengahan Desember, dibantu oleh melemahnya dolar ke level terendah tiga tahun terhadap sekeranjang mata uang utama.

Namun euro memberikan kenaikan tertinggi tiga tahun terhadap dolar pada hari Rabu setelah komentar dari pejabat Bank Sentral Eropa mengungkapkan kekhawatiran atas kekuatan mata uang tunggal Eropa tersebut.
"Euro turun sedikit terhadap dolar hari ini, yang telah menyebabkan emas turun dari titik tertinggi," kata analis Mitsubishi Jonathan Butler.

Harga spot emas turun 0,18 menjadi USD1.336,09 per ounce, mendekati harga puncak yang dicapai pada Senin lalu USD1.344,44 per ounce, tertinggi sejak 8 September. Harga berjangka untuk pengiriman Februari turun 0,07 persen menjadi USD1.336,20.

Menurut Butler, emas agaknya tetap di kisaran harga USD1.300-USD1.340 dalam jangka pendek, seiring dolar yang tetap di tren melemah. Tetapi, risiko kejatuhan harga saham global dari level tertinggi dan penguatan pertumbuhan ekonomi global yang akan memicu inflasi akan mendukung harga emas dalam jangka panjang.

( CNBC , Bloomberg, Reuters)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author