Reli Terbebani Produksi Amerika, Minyak Turun dari Level Tertinggi 2015

Reli Terbebani Produksi Amerika, Minyak Turun dari Level Tertinggi 2015

Posted by Written on 05 January 2018


Ipotnews - Harga minyak melemah, Jumat, turun dari level tertinggi yang terakhir terlihat pada 2015, karena melonjaknya produksi Amerika meruntuhkan reli 10 persen dari level terendah di Desember, yang didorong oleh pengetatan pasokan dan ketegangan politik di anggota OPEC , Iran.

Patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka light sweet atau West Texas Intermediate (WTI), berada di posisi USD61,95 per barel pada pukul 06.19 GMT, enam sen di bawah penutupan terakhir, namun masih mendekati USD62,21 per barel, yang dicapai pada hari sebelumnya, level terkuat sejak Mei 2015, demikian laporan Reuters, di Singapura, Jumat (5/1).

Sementara itu, harga minyak mentah Brent--patokan Eropa dan internasional--menyusut delapan sen menjadi USD67,99 per barel, namun masih tidak jauh dari USD68,27 di hari sebelumnya, juga tertinggi sejak Mei 2015.

Para trader mengatakan ketegangan politik di Iran, produsen terbesar ketiga di tubuh Organisasi Negara Eksportir Minyak ( OPEC ), mendorong kenaikan harga.

"Aksi unjuk rasa di Iran menambah amunisi pada mood pasar minyak yang sudah bullish," kata Norbert Ruecker, Kepala Riset Komoditas Julius Baer, Swiss.

Harga minyak mendapat dukungan dari penurunan produksi yang dipimpin oleh OPEC dan Rusia, dimulai Januari tahun lalu dan diperkirakan berlangsung hingga 2018, serta dari pertumbuhan ekonomi dan pasar keuangan yang relatif kuat.

Hal itu telah membantu mengencangkan pasar. Persediaan minyak mentah Amerika turun 7,4 juta barel pada pekan hingga 29 Desember menjadi 424,46 juta barel, menurut data Badan Informasi Energi (EIA).

Angka itu turun 20 persen dari level tertinggi sepanjang sejarah mereka pada Maret lalu, dan mendekati rata-rata lima tahun yakni 420 juta barel.

Namun, mengingat produksi minyak Iran belum terpengaruh oleh demonstrasi tersebut, dan output Amerika kemungkinan menembus 10 juta barel per hari (bph) dalam waktu dekat--yang sejauh ini hanya dicapai oleh Arab Saudi dan Rusia--keraguan mengemuka reli bisa bertahan.

Ruecker mengatakan harga minyak mentah di atas USD60 per barel merupakan "gambaran yang terlalu mengambang (karena) gangguan produksi minyak (di Iran) tetap merupakan ancaman yang sangat jauh...gangguan di Laut Utara sudah berakhir...(dan) produksi minyak Amerika melampaui level tertinggi 2015 pada Oktober dan akan melesat ke puncak tertinggi tahun ini."

Lukman Otunuga, analis broker berjangka FXTM , menunjukkan nada kehati-hatian yang sama.
"Minyak memulai Tahun Baru dengan catatan yang sangat bullish...sebagian karena ketegangan yang sedang berlangsung di Iran...(dan) mengenai pemotongan pasokan OPEC yang menyeimbangkan pasar," katanya.

"Kendati momentum saat ini menunjukkan bahwa kenaikan lebih lanjut masih memungkinkan, harus diingat bahwa shale-oil Amerika tetap menjadi ancaman terhadap kenaikan harga minyak."

(ef)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author