Minyak Melambung ke Level Tertinggi Dua Setengah Tahun, Ini Pemicunya...

Minyak Melambung ke Level Tertinggi Dua Setengah Tahun, Ini Pemicunya...

Posted by Written on 04 January 2018


Ipotnews - Harga minyak naik sekitar dua persen pada perdagangan Rabu ke level tertinggi dalam dua setengah tahun, dengan hari keenam kerusuhan di Iran--anggota utama OPEC --dan data ekonomi yang kuat dari Amerika Serikat dan Jerman memacu pembelian.

Pengawal Revolusi elite Iran telah mengerahkan pasukan ke tiga provinsi untuk menghentikan demonstrasi anti-pemerintah, kata komandan mereka, Rabu. Selama enam hari unjuk rasa besar-besaran itu telah menewaskan 21 orang.

Patokan Amerika, minyak mentah berjangka light sweet atau West Texas Intermediate (WTI), mengakhiri sesi dengan kenaikan USD1,26 atau sekitar 2,1 persen, menjadi USD61,63 per barel, mencatatkan harga penutupan terbaik sejak Desember 2014, demikian laporan Reuters dan CNBC , di New York, Rabu (3/1) atau Kamis (4/1) pagi WIB.

Sementara itu, minyak mentah berjangka Brent--patokan internasional--naik USD1,27 atau sekitar 1,9 persen menjadi USD67,84 per barel, juga penutupan terbaik sejak Desember 2014.

"Kendati ketegangan Iran, tentu saja, merupakan salah satu faktor, data ekonomi yang sangat kuat hari ini juga memicu reli," kata John Kilduff, mitra di Again Capital LLC, New York.

Harga minyak pemanas Amerika mendapatkan dorongan dari cuaca dingin di Pantai Timur, yang menarik sejumlah kapal tanker yang membawa minyak solar dan pemanas dari Eropa, membalikkan rute perdagangan tradisional.

Tingkat pengangguran Jerman mencapai rekor terendah di Desember, yang merupakan dasar dari penguatan ekonomi berbasis lebih luas. Aktivitas pabrik Amerika meningkat lebih dari perkiraan sepanjang Desember, tanda lebih lanjut dari momentum ekonomi yang kuat.

Laporan manufaktur dan konstruksi juga memicu ekspektasi ekonomi Amerika yang kuat di 2018. Dow Jones Industrial Average mencapai rekor tertinggi.

Kekhawatiran terhadap demonstrasi di Iran--salah satu produsen minyak terbesar OPEC --telah mendongkrak harga minyak mentah pekan ini, meski para analis mengatakan pasokan negara tersebut tidak menghadapi risiko dalam waktu dekat.

"Produksi minyak Iran tidak mungkin terganggu dalam waktu dekat kecuali pekerja minyak melakukan aksi mogok, dan belum ada yang mengindikasikan bahwa hal itu akan terjadi," ungkap Helima Croft, Kepala Strategi Komoditas Global di RBC Capital Markets.

Ole Hansen, Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, Denmark, memperingatkan "sejumlah gangguan pasokan, tetapi hanya sementara", seperti penutupan jaringan pipa Forties di North Sea dan Libya, (dan) aksi demonstrasi di Iran...membantu menciptakan rekor taruhan jangka panjang yang spekulatif."

Dengan penutupan jaringan pipa terpecahkan dan demonstrasi di Iran tidak menunjukkan tanda-tanda berdampak terhadap produksi minyaknya, Hansen mengatakan ada potensi penurunan harga di awal 2018, terutama karena meningkatnya output Amerika.

"Hanya soal waktu sebelum target produksi (Amerika) sebesar 10 juta barel per hari (bph) tercapai," ucap Hansen.

Produksi minyak Amerika melonjak hampir 16 persen sejak pertengahan 2016, mencapai 9,75 juta bph, akhir tahun lalu. 

(ef)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author