Sentimen Terbebani Lonjakan Produksi, Harga Minyak Tertekan Lagi

Sentimen Terbebani Lonjakan Produksi, Harga Minyak Tertekan Lagi

Posted by Written on 03 January 2018


Ipotnews - Harga minyak menjauh dari level tertinggi sejak pertengahan 2015, Rabu, karena lonjakan output di Amerika dan Rusia merongrong upaya berkelanjutan yang dipimpin OPEC untuk mengetatkan pasar.

Patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka light sweet atau West Texas Intermediate (WTI), berada di posisi USD60,34 per barel pada pukul 07.39 GMT, turun tiga sen dari penutupan terakhir, meski masih belum jauh dari USD60,74 per barel yang dicapai sehari sebelumnya, level tertinggi sejak Juni 2015, demikian laporan Reuters, di Singapura, Rabu (3/1).

Sementara itu, harga minyak mentah Brent--patokan internasional--berada di posisi USD66,49 per barel, menyusut delapan sen namun masih tidak terlalu jauh dari harga tertinggi pada sesi Selasa, yakni USD67,29 per barel, merupakan level tertinggu sejak Mei 2015.

Para trader mengatakan penurunan tersebut mengikuti indikasi bahwa pasar baru-baru ini mengalami overshot karena produksi Amerika diperkirakan meningkat dan munculnya keraguan mengenai apakah pertumbuhan permintaan dapat berlanjut pada level saat ini.

Ole Hansen, Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, Denmark, memperingatkan "sejumlah gangguan pasokan, tetapi hanya sementara", seperti penutupan jaringan pipa Forties di North Sea dan Libya, (dan) aksi demonstrasi di Iran...membantu menciptakan rekor taruhan panjang yang spekulatif."

Dengan penutupan jaringan pipa terpecahkan dan demonstrasi di Iran tidak menunjukkan tanda-tanda berdampak terhadap produksi minyaknya, Hansen mengatakan ada potensi penurunan harga di awal 2018, terutama karena meningkatnya output Amerika.

"Hanya soal waktu sebelum target produksi (Amerika) sebesar 10 juta barel per hari (bph) tercapai," ungkap Hansen.

Produksi minyak Amerika melonjak hampir 16 persen sejak pertengahan 2016, mencapai 9,75 juta bph, akhir tahun lalu.

Ada pula kekhawatiran bahwa produksi minyak Rusia pada dasarnya tidak turun. Negara itu merupakan produsen minyak terbesar di dunia dan salah satu pendukung utama, bersama Organisasi Negara Eksportir Minyak ( OPEC ), dalam kesepakatan pemotongan pasokan.

Sebagai bagian dari kesepakatan pemotongan pasokan, Rusia berjanji untuk mengurangi output-nya sebesar 300.000 bph dari level tertinggi 30 tahun di posisi 11,247 juta bph yang dicapai Oktober 2016, menurut data Kementerian Energi Rusia.

Untuk keseluruhan tahun 2017, output Rusia naik menjadi rata-rata 10,98 juta bph, dibandingkan 10,96 juta bph pada 2016 dan 10,72 juta bph di 2015.

"Meski mereka telah mengurangi jumlahnya (dari Oktober 2016), mereka masih memproduksi lebih banyak (pada 2017 daripada 2016)," tutur Matt Stanley, broker bahan bakar di Freight Investor Services (FIS), Dubai.
Hansen mengatakan bahwa dia juga "mengkhawatirkan ekonomi China pada 2018 yang pada akhirnya dapat menyebabkan pertumbuhan permintaan yang lebih rendah dari perkiraan."

Akibatnya, dia mengatakan pihaknya memperkirakan harga minyak mentah lebih rendah pada akhir tahun, dengan Brent di level USD60 per barel dan WTI USD57 per barel.

(ef)


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author