Pengalaman Jujur Seorang Ex-Trader Saham

Pengalaman Jujur Seorang Ex-Trader Saham

Posted by Written on 14 November 2017


Dalam berinvestasi di pasar saham, kita mengenal bahwa ada beberapa pendekatan yang dapat dipakai dalam menganalisis sebuah saham. Kita mengenai ada istilah Fundamental Analysis dan ada istilah Technical Analysis. Dalam keseharian nya (meskipun tidak selalu), fundamental analysis lebih banyak dipakai oleh value investor dan technical analysis lebih banyak dipakai oleh trader.

Termasuk yang mana kah saya? Well, sebelum saya menjawab, semoga apa yang akan saya tuliskan dalam artikel ini tidak menjadi debat kusir yang tidak berkesudahan. Karena sudah sering sekali terjadi debat kusir bahwa tipe trader lebih cepat kaya daripada tipe investor, atau tipe investor lebih baik daripada tipe trader, dst. Buat saya, baik investor maupun trader adalah PILIHAN. Tidak ada yang lebih baik atau buruk, yang ada hanyalah manakah tipe investasi yang lebih cocok dengan Anda? Apabila Anda memiliki waktu full time untuk nongkrong di depan laptop atau smartphone Anda mengecek pergerakan harga saham, mungkin Anda lebih cocok menjadi trader. Namun bagi Anda yang memiliki kesibukan lain (dan saya yakin banyak dari Anda yang menjadikan investasi di saham sebagai second source of income), mungkin Anda lebih cocok menjadi investor.

Saya sendiri awal nya ketika tahun 2009 – 2012 lebih banyak menjadi seorang Trader. Namun, sejak 2013 dan sampai saat ini, saya lebih memilih menjadi seorang Value Investor. Why? Nah inilah yang akan saya coba jelaskan dalam artikel ini. Sekali lagi, semoga apa yang akan saya tuliskan ini tidak menjadi bahan perdebatan, namun alangkah indahnya jika Anda bisa melihat nya dengan perspektif setengah gelas kosong dan bukan setengah gelas isi.

Ketika saya menjadi seorang trader di tahun 2009 – 2012, memang berasa sekali bahwa jika mestakung (semesta mendukung), profit yang dihasilkan dengan menjadi seorang trader bisa lebih cepat. Misalkan jika MA20 memotong MA50 ke atas (Golden Cross), maka itu adalah sinyal untuk membeli saham tersebut. Sebaliknya jika MA50 memotong MA20 ke bawah (Dead Cross), maka itu adalah sinyal untuk menjual saham tersebut. Namun secara tidak sadar, ketika menjadi seorang trader, saya seperti “dipaksa” untuk selalu berada di depan laptop memperhatikan pergerakan harga saham. Ketika market dibuka pukul 09.00, saya sudah standby di depan laptop. Saya bisa melepaskan mata saat pukul 12.00 – 13.30 (market break) dan setelah 16.15 (market closing). Di kantor pun, saya selalu mencuri waktu untuk melihat harga saham. Bahkan ketika lagi meeting, saya juga selalu pegang smartphone dan membuka layar online trading. Intinya adalah saya menjadi addicted untuk selalu melihat pergerakan harga saham. Hal ini dimaklumi karena untuk seorang trader, every second is momentum.

Namun, ketika Semesta Tidak Mendukung, psikologis sebagai seorang trader biasanya akan mulai terganggu. Seorang trader terbiasa untuk “berperang” setiap hari, sehingga ketika ia harus melakukan cut loss, yang ada dibenak nya adalah bagaimana membalikkan cut loss tadi supaya menjadi profit. Masalahnya di sini adalah, seorang trader biasanya memiliki jiwa harus menang. Jika saya cut loss 2%, maka saya harus profit 3% di transaksi berikut nya. Namun jika di transaksi berikutnya saya cut loss lagi 3% (sehingga kasar nya sudah cut loss 5%), saya harus profit 6% di transaksi berikutnya, dan begitu seterusnya. Dan inilah pelajaran terbesar yang saya pelajari ketika menjadi seorang trader : Ketika Anda berusaha “membalikkan” kerugian Anda menjadi profit, maka sebenar nya FEAR dan GREED Anda sudah menguasai diri Anda. Dan ketika Fear dan Greed itu sudah menguasai diri Anda, maka keputusan trading Anda biasanya akan SALAH. Anda tidak lagi berpikir bahwa tujuan awal Anda berinvestasi di pasar saham adalah untuk melindungi nilai asset anda, namun tanpa disadari Anda sedang menuju arah menjadikan pasar saham sebagai arena judi. Singkat katanya, Anda tidak lagi bisa berpikir jernih. Akibatnya? Anda menjadi stress dan depresi, dan bukan hal yang asing ketika kita mendengar ada trader saham yang bunuh diri karena menderita kerugian di pasar saham. Ini yang sempat saya alami di tahun 2012 (meskipun Puji Tuhan tidak sampai bunuh diri), namun saya merasakan stress dan depresi akibat kerugian yang saya alami di pasar saham. Keuntungan yang saya raih dari tahun 2009 – 2011 hilang disapu bersih saat tahun 2012. Sejak saat itu, saya menepi dari pasar saham selama kurang lebih 1 tahun.

Dengan sisa kepercayaan diri yang ada saat itu (lebih tepat nya penasaran), saya mulai membaca lebih banyak lagi literasi tentang pasar saham. Salah satu buku yang “menampar” saya adalah buku “How to Lose Money in Investment” karya Jere Jefferson. Di buku itu 100% menampar karena semua “kebodohan” saya ada semua di buku itu hahaha (tertawa miris mengingat masa lalu).

Cover Buku How to Lose Monet in Investment – Jere Jefferson.

Lalu kemudian, saya juga lebih banyak membaca buku-buku yang membahas investasi ala Warren Buffett ataupun buku yang membahas tentang Analisa Fundamental (kalau sebelumnya saya lebih banyak baca buku tentang membaca candle stick, membaca garis support dan resisten, dan technical analysis lainnya). Di dalam negeri pun saya banyak belajar dari pakar Value Investing, yaitu Teguh Hidayat. Dari mix and match itu semua, saya mulai mengumpulkan lagi keberanian (dan tentu saja modal) untuk memulai lagi investasi saya di pasar saham dari pertengahan tahun 2013.

Menjadi seorang value investor sangatlah indah bagi saya. Saya melihat pasar saham dari sisi yang berbeda 180 derajat. Tidak hanya skill Analisa fundamental nya, namun yang lebih saya soroti adalah sisi psikologis nya. Berikut adalah beberapa perbedaan sudut pandang mendasar yang saya alami antara menjadi seorang value investor dan menjadi seorang trader.

Pertama, Seorang Value Investor justru senang jika harga saham turun. Loh koq bisa? Katakan Anda membeli saham A di harga 1000, jika harga saham tersebut kemudian turun ke 900 (turun 10%), seorang trader akan melihat itu sebagai sebuah KESALAHAN dan harus segera melakukan cut loss. Sementara seorang Value Investor akan melihat itu sebagai sebuah KESEMPATAN dan justru melakukan pembelian lebih banyak dengan catatan tidak ada masalah dengan fundamental perusahaannya. Bahasa kerennya, Saham Turun? Be Happy!

Kedua, seorang value investor tidak harus selalu berada di depan laptop. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, every second is momentum bagi seorang trader. Namun, bagi seorang value investor, harga saham akan naik dengan sendirinya selama kinerja perusahaan juga meningkat. Dan Value Investor sadar betul bahwa itu membutuhkan waktu. Menunggu di depan laptop tidak akan membuat harga saham naik, namun Analisa yang baik dan benar, akan memperbesar peluang kita mendapat profit dari pasar saham.

Ketiga, Seorang value investor membeli perusahaan, sedangkan seorang trader membeli harga saham. Dengan menjadi seorang value investor, saya tidak khawatir jika harga saham turun. Tapi saya akan khawatir jika perusahaan yang saya pegang sahamnya mengalami penurunan kinerja. Bukan nya bertanya kenapa harga sahamnya turun, tapi value investor akan menganalisa kenapa laba bersih nya turun? Mengapa arus kas nya negative? Mengapa hutang perusahaan meningkat? Dsb. Buat saya, mengetahui hal-hal seperti itu jauh lebih memberikan ilmu ketimbang mencari tahu kenapa harga saham naik atau turun.

Keempat dan yang paling penting buat saya, menjadi seorang Value Investor jauh lebih santai dan jauh dari kata stress. Tahukah Anda bahwa rata-rata Value Investor berusia panjang? Hal ini karena Value Investor jarang stress dan menikmati hidup. Warren Buffett di usianya yang 86 tahun masih terlihat sangat aktif dan sehat, bahkan ada yang lebih senior lagi, yaitu Irving Kahn, yang berusia 109 tahun ketika meninggal tahun 2015. Menjadi seorang trader, jujur saja, tingkat stress nya jauh lebih tinggi. Apa gunanya jika punya banyak uang tetapi tidak bisa menikmati hidup, bukan?

Apakah mudah berevolusi dari seorang trader menjadi seorang value investor? Tentu saja tidak. Awalnya masih saja tergoda untuk melakukan trading. Namun, saya berusaha konsisten dan semakin hari saya semakin bisa mengontrol diri. Hasilnya? Sejauh ini mampu membuat saya tertawa lebar melihat hasil investasi saya.

Sekali lagi, artikel ini tidak bermaksud untuk mendiskreditkan teman-teman trader, karena balik lagi ini semua adalah PILIHAN. Akhir kata, jika Anda memutuskan menjadi seorang trader, BE THE BEST TRADER. Dan jika Anda memutuskan menjadi seorang Value Investor, BE THE BEST VALUE INVESTOR. That’s All !!!

Info:

  • Monthly Investing Plan November 2017 sudah terbit, Anda bisa memperoleh nya di sini
  • Dapatkan Ringkasan Laporan Keuangan 500+ perusahaan dalam Cheat Sheet, yang dapat Anda peroleh di sini
  • Jadwal Workshop Value Investing, info selengkapnya dapat dilihat di bit.ly/WorkshopValueInvesting :
    • 28 Oktober 2017 : Bandung
    • 11 November 2017 : Jakarta
    • 25 November 2017 : Surabaya

Pendaftaran dan informasi lebih lanjut :

SMS / WA : 0896-3045-2810 (Johan) 

atau

Email : rivan.investing@gmail.com



comments

logo-rivankurniawan

Rivan Kurniawan

author