Racun Informasi dan Cara Mengatasinya

Racun Informasi dan Cara Mengatasinya

Posted by Written on 26 September 2017


Pada Workshop Value Investing beberapa waktu yang lalu, ada seorang peserta yang mengajukan pertanyaan yang sangat bagus. Peserta tersebut bertanya “Menurut Pak Rivan, apakah semakin banyak kita membaca berita semakin bagus? Informasi seperti apa sih yang sebaiknya dibaca atau didengar oleh seorang investor atau trader seperti kita?”

Nah memang, pada era teknologi seperti sekarang ini, arus informasi begitu mudah nya untuk didapat. Bahkan saking mudahnya didapat, bisa dibilang arus informasi yang masuk lebih deras daripada kemampuan otak kita untuk menyerap informasi tersebut. Namun apakah semakin banyak informasi yang kita serap akan menghasilkan keputusan investasi atau keputusan trading yang lebih baik? Pada artikel kali ini, saya ingin membahas sedikit mengenai yang namanya RACUN INFORMASI. Tahukah Anda bahwa banyak berita, rumor, rekomendasi teman, obrolan di group trading, analisa “pakar”, dan sebagaimana bisa menjadi racun bagi pengambilan keputusan investasi atau trading kita?

Sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut, saya akan memulai dengan sebuah cerita. Pada akhir 1980 – an, seorang psikolog bernama Paul Andreassen melakukan eksperimen kepada mahasiswa MIT. Andreassen membiarkan masing-masing mahasiswa memilih sendiri portfolio investasi saham, kemudian ia membagi mahasiswa menjadi dua kelompok.

  • Kelompok Pertama hanya bisa melihat perubahan harga saham mereka dengan didukung informasi sebatas laporan keuangan perusahaan saja (tidak bisa mengakses sumber berita lain)

  • Kelompok Kedua diberi akses ke berbagai berita, seperti menonton CNBC, membaca Wall Street Journal, dan berkonsultasi dengan ahli untuk analisis pasar. Coba Anda tebak, kelompok mana yang menghasilkan return investasi yang lebih baik?

Hasilnya cukup mengejutkan. Kelompok pertama yang hanya bisa mengakses data seputar laporan keuangan dan menganalisa berdasarkan laporan keuangan tersebut mendapatkan profit dua kali lipat dibandingkan dengan kelompok kedua yang bisa mendapatkan akses berita CNBC, Wall Street Journal, dan konsultasi dengan analis (source diambil dari : https://www.fastcompany.com/45655/too-much-information).

Ketika akan membuat keputusan investasi, sering kali kita menganggap bahwa lebih banyak informasi akan lebih baik, bukan? Termasuk juga banyak trader saham yang membuat ruang kerja mereka penuh dengan sumber informasi untuk mengambil keputusan. Mereka berlangganan berita, mengikuti berbagai grup trading, aktif di social media mengikuti analisa dari para analis. Kalau diperlukan, mereka memasang beberapa monitor sekaligus untuk memantau semua informasi.

Ruang Kerja “Dambaan” Seorang Trader

Namun, faktanya memiliki akses informasi yang banyak tidak menjamin trading atau investasi Anda menjadi lebih sukses. Mengapa? Dalam penelitian di atas, mahasiswa di kelompok kedua dengan akses informasi penuh ke sumber berita dengan cepat fokus kepada OPINI dan RUMOR terbaru. Hasilnya mahasiswa di kelompok kedua ini terlibat dalam pengambilan keputusan trading yang berkualitas rendah karena didasarkan pada opini dan rumor tadi.

Mengapa terlalu banyak informasi tidak menjamin trading yang lebih baik (malah sering kali justru menghasilkan keputusan trading yang buruk)? Jawabannya adalah karena otak kita memiliki keterbatasan. Otak prefrontal korteks kita hanya dapat menangani satu informasi pada satu waktu, sehingga ketika ada terlalu banyak informasi yang datang secara bersamaan, otak tidak dapat memproses secara sempurna dan akan menghasilkan BIAS dalam pengambilan keputusan. Manusia bukan seperti computer yang dapat dimasuki berbagai informasi bersamaan dan multitasking. Otak manusia hanya bisa menangani satu pekerjaan dalam satu waktu. Jika dipaksakan, manusia akan cenderung memilih keputusan yang salah. Dalam hal ini, seorang investor atau trader akan cenderung mengambil keputusan salah dalam jual dan beli saham.

Jadi, bagaimana cara untuk mengurangi efek negatif dari Racun Informasi ini? Berikut beberapa tips yang biasanya saya lakukan untuk mengurangi efek negatif informasi :

1. Batasi arus informasi yang masuk ke otak kita

Maksud saya batasi arus informasi di sini adalah batasi sumber nya. Saya hanya mengizinkan informasi yang reliable yang masuk ke otak saya. Apa saja informasi yang reliable? Misalkan : data Laporan Keuangan Kuartal yang terbaru, Laporan Tahunan (jadi saya bisa lihat penjelasan manajemen seputar kondisi perusahaannya), Public Expose yang resmi dikeluarkan oleh perusahaan, dan kalau berita pun saya hanya mempercayai sumber tertentu saja. Bagaimana dengan informasi dari group WA atau Telegram? Informasi tersebut saya abaikan, jadi hati-hati jika Anda mendapatkan informasi dari group WA atau Telegram karena biasanya sumber nya tidak dapat dipertanggungjawabkan

2. Bedakan mana FAKTA dan mana OPINI

Seringkali kita tidak dapat membedakan mana fakta dan mana opini. Fakta dan opini adalah dua hal yang jauh berbeda. Fakta adalah data yang disampaikan apa adanya dan sesuai dengan yang telah terjadi. Contoh : Laporan Keuangan, Laporan Tahunan, Public Expose. Sedangkan Opini adalah pendapat seseorang atau kelompok. Masalahnya di era teknologi seperti sekarang, banyak berita yang bersifat opini, sehingga otak kita akan “membeli” opini tersebut. Jadi berhati-hatilah terhadap berita.

3. Menjadi Silent Investor

Percaya atau tidak, ketika Anda menyendiri dan menjauhkan diri dari segala arus informasi, Anda akan menjadi investor atau trader yang lebih baik. Inilah yang saya lakukan. Dengan begitu, Analisa yang saya lakukan adalah murni dari hasil pemikiran saya sendiri dan tanpa diracuni oleh opini orang lain yang sering kali tersamar dalam berita maupun informasi dari group WA atau Telegram tadi.

4. Konfirmasi Berita yang Anda Baca / Dengar Kepada Investor Relation Perusahaan

Ketika membaca berita, jangan telan mentah-mentah informasi yang baru Anda baca atau dengar. Melainkan, tanyakan lagi kepada otak rasional Anda. Bener gk sih informasi ini? Contoh, Anda mendengar emiten ABC akan diakuisisi oleh XYZ sehingga diprediksi harga sahamnya akan naik. Nah, kalau baca berita seperti ini, jangan langsung ditelan mentah-mentah. Cari tahu kebenarannya, misalkan cari informasinya di website IDX atau langsung ke website perusahaan. Kalau tidak ada informasinya, bisa jadi berita tersebut rumor. Kalau Anda masih penasaran, Anda bisa menghubungi via email ke bagian Investor Relation atau Corporate Secretary perusahaan. Tanyakan saja apakah berita yang baru Anda baca atau Anda dengar tersebut hanya rumor atau benar adanya.

Demikian informasi yang bisa saya share kepada Anda kali ini. Semoga setelah membaca artikel ini, Anda menjadi lebih bijak dengan hanya mengizinkan informasi yang tepat dan terpercaya yang masuk ke otak Anda, sehingga Anda pun bisa menghasilkan keputusan trading atau investasi yang lebih baik.


By : Rivan Kurniawan



comments

logo-rivankurniawan

Rivan Kurniawan

author