Mr Hyde dan Keputusan Dalam Berinvestasi

Mr Hyde dan Keputusan Dalam Berinvestasi

Posted by Written on 26 September 2017


Anda pernah mendengar kisah tentang Dr Jekyll dan Mr Hyde? Kisah yang diangkat dari novel karya Louis Stevenson tahun 1886 yang berjudul The Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde. Novel ini mengisahkan tentang sosok Dr Jekyll, seorang dokter terhormat yang sangat disegani oleh masyarakat sekitar. Dalam sebuah kesempatan, ada sebuah kejanggalan di mana Dr Jekyll menitipkan sebuah surat wasiat kepada Mr. Utterson (pengacara Dr Jekyll) yang berbunyi: “Jika saya (Dr Jekyll) meninggal ataupun dinyatakan menghilang, maka semua kekayaan akan diwariskan kepada Mr Hyde”. Mr Utterson yang cukup lama mengenal Dr Jekyll merasa aneh karena ia sama sekali tidak mengenal siapa itu Mr Hyde. Setelah diselidiki, ternyata Mr Hyde adalah seorang yang misterius dan kejam, bahkan juga seorang pembunuh. Pertanyaannya tentu, mengapa Dr Jekyll mau mewariskan hartanya kepada seorang pembunuh? Di akhir cerita baru terungkap bahwa ternyata Mr Hyde adalah transformasi dari Dr Jekyll, di mana sosok Mr Hyde akan muncul apabila Dr Jekyll meminum sebuah ramuan.


Nilai moril yang dapat kita petik dari kisah The Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde ini mengingatkan bahwa setiap dari kita sebagai manusia memiliki dua sisi : sisi baik dan sisi buruk. Sisi baik yang disebut Mr Rational, dan sisi buruk yang disebut Mr Emotional. Hal yang menarik adalah Mr Hyde hadir setiap kali Dr Jekyll menghilang, keduanya tidak bisa tampil di saat yang bersamaan. Saat sosok Mr Jekyll (Mr Rational) muncul, sosok Mr Hyde (Mr Emotional) tidak terlihat, dan demikian pula sebaliknya.

Dalam kondisi normal di kehidupan kita sehari-hari, sosok Mr Rational yang biasanya akan muncul dan mendominasi setiap keputusan kita. Misalkan, kita tahu bahwa berat badan yang berlebih akan berbahaya bagi kesehatan, dan karenanya Mr Rational akan mengajak kita untuk mengontrol pola makan misalkan dengan tidak makan secara berlebihan. Namun, ketika kita mulai merasakan lapar, Mr Emotional mulai muncul dan berbisik : “kenapa harus diet? Mending makan yang enak-enak. Tuh lihat di depan ada tukang bakso kesukaan kamu”. Apabila kita membiarkan Mr Emotional yang menang, maka kita akan mengabaikan tekad untuk mengontrol makan tadi.

Dua sisi ini (Mr Rational dan Mr Emotional) sebenarnya juga sangat relevan ketika kita berinvestasi di pasar modal. Agar lebih jelas mari kita berikan sebuah contoh. Misalkan, ketika kita menganalisa sebuah saham dengan metode value investing, kita yakin bahwa saham tersebut akan memberikan keuntungan karena fundamental nya bagus dan harganya undervalued. Pada saat kita menganalisa tadi, sebenarnya Mr Rational yang muncul dan mendominasi analisa saham tadi. Awalnya harga saham bergerak naik memberikan floating profit 5%, namun minggu-minggu berikutnya ternyata harga saham berbalik arah dan malahan memberikan floating loss 5%. Bagaimana reaksi kita? Sebagai manusia normal, kita akan merasa cemas, was-was, bahkan merasa “terancam”. Dalam keadaan seperti ini, Mr Emotional mulai muncul dan mendominasi. Mr Emotional akan mengirimkan pesan kepada otak kita : “bagaimana kalau harga sahamnya terus turun? Nanti malah kamu makin rugi lhoo..”. Padahal di awal tadi jelas-jelas kita memutuskan untuk membeli sebuah saham setelah melakukan analisa. Pertanyaannya, sanggupkah kita menjaga agar Mr Emotional tidak mengalahkan Mr Rational?

Ada pepatah di bursa saham yang mengatakan : markets are motivated by two emotions : greed and fearBasically, keputusan berinvestasi yang didominasi oleh greed and fear adalah kurang bijaksana. Namun sebaliknya, tidak mungkin juga kita berinvestasi tanpa melibatkan greed and fear sama sekali, karena pasar saham berisi sekumpulan manusia dan bukan robot. Namun, yang ingin saya sampaikan di sini adalah : Kita harus melatih agar Mr Rational tetap mendominasi keputusan investasi Anda, dan jangan biarkan Mr Emotional mendominasi keputusan investasi kita. Mengapa? Karena emosi dapat dengan mudah nya mengubah skenario berinvestasi.

Dalam kasus di atas, apabila kita membiarkan Mr Emotional menguasai keputusan investasi kita, sudah hampir dapat dipastikan bahwa kita akan menjual saham tersebut (padahal mungkin penurunan saham dikarenakan sentiment negative sesaat). Bayangkan apabila ribuan atau lebih orang berpikiran sama, maka harga saham akan jatuh makin dalam atau inilah biasa disebut panic selling. Sama hal nya dengan contoh pertama, apabila kita membiarkan Mr Emotional mendominasi, maka kita akan memutuskan untuk mengabaikan pola makan yang sehat dan meneruskan pola makan yang tidak sehat sehingga berbahaya bagi kesehatan.

Lalu bagaimana cara mengendalikan Mr Emotional? Ada beberapa cara, yang pertama adalah kita menerapkan set of rules dalam trading atau berinvestasi. Misalkan, tetapkan batas maksimal loss yang ditoleransi adalah 10%, atau tetapkan position sizing dalam sebuah saham maksimal 20% dari porto, dll. Aturan-aturan ini yang akan menjaga kita dari Mr Emotional. Dalam kasus di atas, jika akhirnya kita memutuskan untuk cut loss, sebaiknya karena faktor telah mencapai stop loss yang kita tetapkan, bukan karena faktor emosional tadi.

Kedua, kendalikan informasi masuk yang dapat membangkitkan emosional Anda. Misalkan, hindari membaca berita-berita yang masih bersifat rumor dan belum pasti, hindari membuka software online trading Anda terlalu sering, atau hindari membaca berlebihan grup-grup saham yang justru bisa membuat analisa anda menjadi bias karena terpengaruh opini dari member lain yang bilang bahwa pilihan saham Anda keliru, dll.

Terakhir, ada cara ampuh yang bisa ditempuh buat investor yang masih sering tergoda untuk bertransaksi terlalu sering. Anda dapat membuat dua account yang terpisah. Satu account yang berisikan dana mayoritas untuk investasi dengan buy-and-hold strategy, account kedua berisi dana minoritas untuk trading (buy and sell). Account kedua ini bisa digunakan untuk memuaskan sisi Mr Emotional kita tadi. Namun, jangan mengotak-ngatik account yang pertama. Lalu, coba bandingkan di akhir tahun kinerja portfolio antara account pertama dan account kedua. Dari situ, Anda bisa menilai diri Anda sendiri lebih cocok dengan gaya investasi buy and hold, atau gaya investasi buy and sell.

Kesimpulannya, sangatlah penting bagi kita seorang investor ataupun trader untuk memahami bahwa setiap dari kita memiliki Mr Rational dan Mr Emotional, dan itu adalah hal yang sangat MANUSIAWI karena kita adalah manusia biasa. Namun tugas kita adalah melatih agar Mr Rational tetap mendominasi keputusan dalam berinvestasi, dan jangan biarkan Mr Emotional mengambil alih. Semoga dengan memahami hal ini, kita dapat mengingatkan diri kita agar lebih mengedepankan rasionalitas dalam berinvestasi.


By : Rivan Kurniawan


Info :

Dapatkan ringkasan Laporan Keuangan dari 500+ perusahaan di BEI serta kalkulator untuk mengetahui harga wajar sebuah saham dengan berlangganan Cheat Sheet. Untuk info lebih lanjut, silakan klik di sini.



comments

logo-rivankurniawan

Rivan Kurniawan

author